Mabur.co – Festival Budaya Pasar Terapung adalah festival tahunan yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, menampilkan budaya sungai yang ada di Kalimantan Selatan dan itu tercatat sebagai event tahunan.
Tahun ini istimewa. Kota Banjarmasin genap 500 tahun, dan pemerintah meluncurkan Calendar of Event 2026 di Sanur, Denpasar, Sabtu 7 Februari 2026 lalu, sebagai langkah strategis memperluas dampak ekonomi pariwisata.
Sebanyak 500 event disiapkan sepanjang 2026, bertepatan dengan peringatan 500 tahun Kota Banjarmasin, tulis banjarmasinkota.go.id.
“Menurut Yamin, CoE 2026 mencakup festival wisata sungai, pasar terapung, kegiatan seni-budaya, serta promosi kuliner khas Banjar,” tulis situs resmi Pemko Banjarmasin itu.
Mendorong Perputaran Ekonomi Rakyat
Wali Kota Muhammad Yamin menegaskan: “Ini bukan hanya promosi. Lima ratus agenda yang kami susun adalah upaya nyata untuk mendorong perputaran ekonomi rakyat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat jati diri Kota Banjarmasin di usia ke-500,” ujarnya dikutip di laman yang sama.
Festival pasar terapung sendiri biasanya digelar di Siring 0 KM atau Lok Baintan, dengan atraksi klotok hias, lomba acil jukung, balap jukung, dan pasar wadai.
Momentum Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober 2026 yang baru ditetapkan lewat SK Menteri Kebudayaan No.162/M/2025 menjadi panggung nasionalnya. Banjarmasin sudah menyiapkan etalasenya jauh-jauh hari di Jakarta.
Mengalir Sampai Hari Kebudayaan Nasional
Pada Sabtu 11 April 2026, Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, menghadiri peresmian Dermaga Pasar Terapung Kalimantan Selatan di Taman Mini Indonesia Indah, seperti diberitakan hallobanua.com.
“Peresmian Dermaga Pasar Terapung di TMII ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan budaya sungai khas Banua kepada masyarakat luas. Ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi representasi jati diri urang Banjar yang harus terus kita jaga dan kembangkan,” ujar Yamin dikutip hallobanua.com.
Pembangunan dermaga ini, lanjut hallobanua.com, merupakan komitmen Pemprov Kalsel dalam melestarikan warisan budaya sungai sekaligus mendorong sektor pariwisata.
Secara historis, pasar terapung lahir sejak abad 14, era Kesultanan Banjar, ketika Sungai Barito dan Martapura adalah jalan utama.
Kayu ulin dipakai untuk rumah lanting karena makin kuat jika terendam air. Sistem barter bapanduk, saling kait jukung dengan gancu, masih hidup.
Seperti tulis sastrawan Banjar, Syamsiar Seman: “Di atas jukung, hidup tidak pernah berhenti mengalir.”
Tahun ini, jukung itu mengalir sampai TMII dan sampai Hari Kebudayaan Nasional. ***
