Banyak Bencana di Indonesia, Menengok Kembali Filosofi “Memayu Hayuning Bawana”

3 Min Read
Two firefighters silhouetted at night near a large orange blaze, smoke and sparks rising behind them.
Pemadam kebakaran berupaya menjinakkan api di sebuah lahan. (Foto: Reuters)

Manur.co – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum hilang. Gempa NTT belum pulih. Kekeringan di beberapa daerah makin parah. Tapi, bencana baru sudah muncul lagi. Banjir bandang di Sumatra dan hutan Kalimantan kembali terbakar.

Selama Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) mengakumulasi bencana yang terjadi di Indonesia didominasi oleh karhutla, banjir, cuaca ekstrem, dan gempa bumi.

Melansir dari laman BNPB, Minggu (18/10/2026), sepanjang Januari hingga Oktober 2026, tercatat 2.096 bencana yang terjadi di Indonesia. Karhutla mendominasi dengan 929 kejadian. Disusul banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, dan tanah longsor.

Sebanyak 5.695.568 orang mengungsi, sekitar tiga ribu orang terluka, 421 meninggal dunia, dan 16 orang hilang belum ditemukan. Selain itu, kerusakan bangunan juga tercatat cukup tinggi.

Jumlah fasilitas umum yang terdampak adalah 3.546 yang terdiri atas fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan tempat ibadah. Sementara itu, sebanyak 156.856 rumah mengalami kerusakan.

Dampak bencana juga meluas hingga kelangsungan hidup hewan-hewan endemik. Gajah, orangutan, badak, kura-kura, dan hewan lainnya mati kehilangan habitatnya. Rumah mereka dijarah dan sumber makanan dilenyapkan. 

Nasihat Sunan Kalijaga

Salah satu filosofi Jawa mengajarkan tentang memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkarayang biasa dikaitkan dengan nasihat Sunan Kalijaga.

Di antara ajaran tersebut, manusia diminta untuk menjaga kelestarian alam dan membangun keselarasan dengan Tuhan, sesama manusia, makhluk lainnya, dan alam. Namun, manusia sudah gagal menjalin harmoni dengan alam.

Kerusakan lingkungan dan bencana yang susul-menyusul adalah bukti oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menjarah kekayaan alam. oleh perseorangan atau segelintir orang saja.

Ini merupakan kerja kolektif yang menjadi tanggung jawab bersama. Dalam konteks kali ini, rakyat dan pemangku kebijakan adalah pelakunya.

Tentu tidak adil jika hanya rakyat yang berdiri lantang melindungi alam sementara pemerintah tidak pernah tegas dalam menegakkan peraturan. Kerusakan alam Indonesia saat ini telah menjadi perhatian dunia.

Negara tetangga ikut terdampak, aktivis lingkungan terlalu sering dan jauh-jauh waktu memperingatkan. Namun, pemerintah kita tak mengindahkan. Sekarang, ketika dampak itu terakumulasi menjadi beragam jenis bencana, rakyat dan keanekaragaman hayati lagi-lagi menjadi korban.

Runtuhlah ajaran konsep memayu hayuning bawana itu. Manusia diperintahkan arif terhadap lingkungan, tidak tamak, tidak serakah. Tapi, oknum-oknum amoral itu justru berbuat kerusakan dan menimpakan bencana ke manusia yang tidak bersalah lainnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar