Nasib Ilmuwan Hari Ini

2 Min Read
Ilustrasi. AI menggantikan pekerjaan manusia, termasuk insan pers. (Foto: freepik.com)

Kemarin saya berbincang dengan seorang teman yang baru menyelesaikan studi PhD di Australia, dan dari pengalamannya muncul sebuah analogi yang menggelisahkan: nasib ilmuwan hari ini semakin menyerupai nasib petani pada abad yang lalu, sama-sama terjebak dalam perjuangan subsistensi, sekadar mempertahankan kehidupan dan keberadaannya di tengah perubahan zaman yang semakin sulit mereka kendalikan.

Dalam Homo Academicus (1984), Pierre Bourdieu sebenarnya telah memperlihatkan bahwa dunia akademik bukanlah ruang pencarian kebenaran yang bebas dari kekuasaan, melainkan sebuah arena pertarungan modal, posisi, dan legitimasi, tempat para ilmuwan sering kali lebih sibuk mempertahankan kedudukan daripada mengembangkan otonomi intelektualnya.

Kini, di tengah neoliberalisasi universitas, tekanan produktivitas akademik, kompetisi pendanaan, dan penetrasi kecerdasan buatan, dilema itu semakin mendalam: ilmuwan dituntut terus menghasilkan pengetahuan, tetapi semakin kehilangan waktu, kebebasan, dan bahkan otoritas untuk menentukan pengetahuan macam apa yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat.

Di Indonesia, paradoks tersebut terasa lebih menyedihkan karena lemahnya ekosistem riset dan penghargaan terhadap kerja intelektual membuat banyak ilmuwan terjebak dalam rutinitas administratif, perlombaan publikasi, serta ketergantungan pada proyek-proyek jangka pendek. Sementara jarak antara idealitas ilmu sebagai kekuatan emansipasi dan kenyataan kehidupan akademik semakin melebar.

Barangkali pertanyaan paling mendesak hari ini bukan lagi bagaimana ilmuwan dapat bertahan hidup di tengah perubahan teknologi, melainkan apakah masyarakat kita masih membutuhkan ilmuwan sebagai pemikir kritis yang mampu mempertanyakan arah peradaban? Atau justru hanya menginginkan mereka sebagai pekerja pengetahuan yang patuh pada tuntutan pasar, birokrasi, dan algoritma? ***

Share This Article
Avatar photo
Sejarawan Alumni FIB UGM, Peneliti BRIN
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar