Mabur.co – Menjelang peringatan G-30S PKI, sebuah film berlatar sejarah kelam Indonesia pada 1965 akan segera rilis di bioskop tanah air, dalam waktu dekat ini.
Film berjudul Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah ini disutradarai Hanung Bramantyo yang merupakan sutradara kondang asal Yogyakarta.
Yang menarik, film berlatar peristiwa sejarah pemberontakan Gerakan 30 September PKI ini tidak dibuat dalam genre drama sejarah. Melainkan genre horor.
Dilansir Suara.com, Rabu (23/9/2026), lewat film ini Hanung mencoba mengajak penonton untuk melihat persoalan kekuasaan, ketidakadilan dan ketakutan masyarakat dalam format berbeda.
Film ini berpusat pada cerita tentang serangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya. Sejumlah tokoh desa menjadi korban hingga muncul rumor tentang sosok “Hantu Bolong”. Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra kemudian ditugaskan menyelidiki kasus tersebut.
Bukan Kisah Nyata
Hanung menegaskan film Lobang Buaya bukan kisah nyata. Namun, latar sosial dan politik sengaja mengambil inspirasi dari kondisi Indonesia pada awal 1960-an. Tepatnya satu tahun sebelum peristiwa 30 September 1965. Di mana muncul propaganda mengenai “tujuh setan desa”.
“Jadi sebenarnya bukan kisah nyata, tetapi latar belakangnya itu nyata. Kalau teman-teman semuanya melihat, membaca sejarah, tahun 1963, PKI melancarkan sebuah propaganda mengganyang tujuh setan desa,” kata Hanung saat special screening Lobang Buaya di Empire XXI Yogyakarta, Senin (21/9), dikutip dari Suarajogja.id.
Istilah tersebut merujuk pada kelompok yang saat itu dianggap mengeksploitasi dan menekan masyarakat desa, seperti tuan tanah, kapitalis birokrat, rentenir, tengkulak dan pengijon.
Dalam film ini, Hanung mencoba menggambarkan persoalan tersebut dan mengaitkannya dengan kondisi saat ini.
Tujuh Setan Desa Masih Ada
“Tujuh setan desa itu masih ada, hanya berganti nama. Tuan tanah kini menjadi korporasi, kapitalis birokrat menjadi pejabat korup, rentenir menjelma pinjol, dan pengepul tetap menekan petani. Tujuh setan desanya masih berkuasa sampai hari ini,” ujar Hanung.
Hanung sengaja memilih horor karena peristiwa 1965 masih menjadi topik sensitif di Indonesia sampai dengan hari ini.
“Saya memilih horor bukan hanya untuk menghadirkan ketegangan, tetapi juga untuk merefleksikan ketakutan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan penindasan,” kata Hanung.
Menurut Hanung, pendekatan horor diharapkan bisa membuat penonton tertarik membicarakan kembali sejarah 1965.
“Di negara lain, film sejarah bisa dibuat bebas, bahkan dengan sudut pandang berbeda dari pemerintah. Di Indonesia, hal itu belum mungkin. Karena itu saya memilih horor agar penonton bisa terpicu untuk berdiskusi,” jelasnya.
Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026.
Melalui film ini, Hanung berharap penonton tidak hanya merasakan ketegangan dari cerita horor, tetapi juga melihat persoalan sosial yang menjadi bagian dari latar sejarahnya.
“Saya ingin penonton tidak hanya merasakan horor dari cerita, tetapi juga horor dari kenyataan sosial yang masih kita hadapi,” tutupnya.
