Inilah 5 Raja dan Panglima Perang Terhebat yang Dilahirkan Kerajaan Mataram Islam - Mabur.co

Inilah 5 Raja dan Panglima Perang Terhebat yang Dilahirkan Kerajaan Mataram Islam

Mabur.co – Sebagai salah satu kerajaan terbesar di Pulau Jawa, Kerajaan Mataram Islam melahirkan banyak raja atau pangeran sekaligus tokoh militer besar yang dikenal memiliki kemampuan serta kehebatan luar biasa dalam berperang. 

Tak hanya mahir menunggang kuda dan menggunakan berbagai macam senjata, mereka juga dikenal piawai mengkoordinir pasukan hingga menyusun strategi di medan pertempuran.

Sebegitu hebatnya, musuh-musuh mereka termasuk pihak Belanda, kerap memberikan pengakuan lewat berbagai macam catatan. Bahkan hingga saat ini, strategi mereka juga kerap dijadikan rujukan dalam doktrin militer modern.

Lalu siapa sajakah mereka? Berikut sejumlah tokoh pangeran maupun raja Mataram yang dikenang sebagai panglima perang ulung dalam sejarah Jawa.

1. Panembahan Senopati 

Panembahan Senopati atau Danang Sutawijaya. (Foto: Facebook KataKita)

Penembahan Senopati lahir sekitar abad ke-16 dan wafat pada 1601. Ia merupakan pendiri Kerajaan Mataram Islam yang masih eksis hingga saat ini.

Lahir dengan nama Danang Sutawijaya, Panembahan Senopati adalah putra Ki Ageng Pemanahan tokoh kepercayaan Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang. Ia juga dikenal sebagai anak angkat Sultan Hadiwijaya.

Panembahan Senopati terkenal karena strategi militer dalam menyatukan wilayah Jawa di akhir abad ke-16. Ia memimpin pasukan Mataram dalam berbagai perang perebutan wilayah kekuasaan antara lain di wilayah Pajang, Madiun, Kediri, hingga Pati dan Jepara.

Selama menjadi raja, Panembahan Senopati berhasil menjadikan Mataram dari wilayah kecil di Alas Mentaok (Kotagede) menjadi kerajaan paling mendominasi di masa itu. 

Berbagai pihak termasuk musuh-musuhnya bahkan menganggapnya sebagai tokoh pionir strategi militer Jawa yang luar biasa.

2. Sultan Agung Hanyokrokusumo 

Sultan Agung. (Foto: kebudayaan.jogjakota.go.id)

Sultan agung lahir tahun 1593 dan wafat pada 1645. Ia dikenal sebagai raja terbesar dalam dinasti kerajaan Mataram Islam. 

Lahir dengan nama Raden Mas Jatmika, Sultan Agung merupakan putra sultan kedua Mataram, Panembahan Hanyokrowati (Mas Jolang), sekaligus cucu dari Panembahan Senopati. 

Sultan Agung naik tahta pada 1613 atau sekitar umur 20 tahun. Sultan Agung dikenal sebagai pemimpin perang ulung. Ia memimpin penaklukan besar-besaran terhadap Surabaya dan wilayah timur Jawa pada 1617–1625, dan memastikan Mataram menjadi kekuatan paling dominan di pulau Jawa di masa itu. 

Ia juga tercatat dua kali menyerang Batavia (VOC) pada 1628 dan 1629, mengerahkan puluhan ribu pasukan darat dalam jumlah paling besar yang pernah tercatat, serta mendistribusikan logistik dari wilayah pedalaman. 

Meski akhirnya tidak berhasil merebut Batavia, ia berhasil meredam pengaruh VOC dan memperluas wilayah kekuasaan. Lewat pasukan telik sandi atau operasi intelijen, Sultan Agung disebut-sebut berhasil membunuh Gubernur Jenderal Belanda, JP Coen. Meski sejarawan Belanda menuliskannya mati karena wabah kolera. Sebegitu hebatnya, VOC menilai Sultan Agung sebagai ancaman paling serius di Jawa pada era itu.

3. Sri Sultan Hamengku Buwono I 

Sri Sultan Hamengku Buwono 1. (Foto: kratonjogja.id)

Sri Sultan Hamengku Buwono I lahir 1717 dan wafat pada 1792. Ia merupakan raja pertama sekaligus pendiri Kesultanan Yogyakarta.

Lahir dengan nama Bendara Raden Mas Sujono, Sri Sultan Hamengku Buwono I merupakan putra Amangkurat IV, raja Mataram ke-8, sekaligus adik Pakubuwono II, raja Mataram ke-9. 

Sedari kecil, ia dikenal sangat cakap dalam olah keprajuritan. Ia juga mahir berkuda dan bermain senjata. Saat dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia kemudian memimpin perang melawan VOC.

Pangeran Mangkubumi dikenal sebagai pemimpin kharismatik yang ahli strategi perang dan memiliki 13 ribu lebih prajurit setia di mana 2500 di antaranya merupakan prajurit berkuda.

Melalui kombinasi taktik militer dan diplomasi, ia  berhasil mengalahkan VOC dan memaksa VOC berdamai dalam Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Mataram menjadi dua: Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. VOC melihatnya sebagai musuh cerdas dan taktis.

Ia dianggap sebagai sultan terbesar Yogyakarta layaknya Sultan Agung. Sebab meski memimpin negeri baru, ia mampu menjadikan kerajaan Yogyakarta waktu itu berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.

Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang melawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa (sejak 1619-1799).

4. Mangkunegara I 

Mangkunegara I. (Foto: Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia)

Mangkunegara I lahir 7 April 1725 dan wafat pada 28 Desember 1795. Ia merupakan raja pertama sekaligus pendiri Kadipaten Mangkunegaran. 

Lahir dengan nama Raden Mas Said, Mangkunegara 1 merupakan cucu Amangkurat IV raja Mataram ke-8. Sekaligus sepupu dari Sri Sultan Hamengku Buwono I. 

Meski begitu Raden Mas Said lebih dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyowo. Julukan itu bahkan diberikan oleh salah satu musuhnya Nicolaas Hartingh selaku perwakilan Gubernur VOC untuk pantai timur Jawa. 

Julukan itu menunjukkan kehebatannya dalam berperang, karena nyaris tidak pernah kalah dalam berbagai pertempuran dan selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Mulai berperang melawan VOC sejak masih usia 19 tahun, Pangeran Sambernyowo menghabiskan sebagaian besar hidupnya untuk berperang. Ia berjuang hampir 16 tahun melawan VOC dan pasukan Surakarta yang dianggap sebagai boneka Belanda.

Dan dalam kurun waktu 16 tahun, pasukan Mangkunegara tak kurang terlibat dalam 250 kali pertempuran. Salah satu kehebatannya adalah ia mampu membentuk dan memimpin pasukan setia yang sangat solid dan militan, sehingga begitu ditakuti lawan.

Ia resmi menjadi raja setelah Perjanjian Salatiga (1757) yang memberinya kadipaten otonom Mangkunegaran. VOC melihatnya sebagai pemberontak paling sulit ditaklukkan khususnya di wilayah Jawa Timur.

5. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro. (Foto: pangerandiponegoro.com)

Pangeran Diponegoro lahir 11 November 1785 dan wafat pada 8 Januari 1855. Lahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar, Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwono III. 

Sejak kecil Pangeran Diponegoro dikenal lebih suka hidup di lingkungan yang religius dan menjauhi kehidupan di keraton. Ia bahkan menolak diangkat menjadi raja. Meski begitu ia dikenang sejarah sebagai pemimpin pemberontakan terbesar melawan penjajah sekaligus simbol perlawanan rakyat Jawa terhadap Belanda.

Dikenal piawai menunggang kuda sejak kecil, Pangeran Diponegoro mulai menjadi komandan Perang Jawa melawan Belanda sejak tahun 1825 hingga 1830. Dengan kepiawaiannya ia mampu memobilisasi pasukan rakyat Jawa, mulai dari rakyat biasa, para priyayi yang anti-kolonial, hingga kelompok bandit yang direkrut sebagai pejuang gerilya.

Berbagai pertempuran besar pernah dilaluinya. Perang Diponegoro bahkan dikenal sebagai perang pertama yang melibatkan semua metode dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka maupun metode perang gerilya yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktikkan. 

Selama perang, kerugian di pihak Belanda diperkirakan mencapai tidak kurang dari 15.000 tentara, terdiri atas 8.000 tentara Belanda dan 7.000 tentara pribumi serta kerugian materi sebesar 25 juta gulden.

Perang Jawa ini juga banyak menyita sumber daya Belanda dan menjadi konflik paling panjang serta berdampak luas dalam sejarah kolonial Jawa.

Belanda mengakui Diponegoro sebagai pemimpin kharismatik, cerdas, dan sangat berbahaya. Ia hanya bisa dikalahkan melalui tipu daya diplomasi. Belanda bahkan menyebut Diponegoro sebagai pemimpin paling berbahaya yang pernah muncul di Nusantara. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *