Mabur.co – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi Labuhan di kawasan lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Sleman, Selasa (20/1/2026) pagi hari ini.
Labuhan ini digelar sebagai puncak rangkaian tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tahun ini bertepatan dengan momen ke-38 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta.
Tradisi Labuhan Keraton Yogyakarta tahun ini sendiri terbilang istimewa karena digelar bertepatan dengan Tahun Dal 1959 dalam kalender Sultanagungan yang hanya berlangsung setiap 8 tahun atau sewindu sekali.

Rangkaian prosesi Labuhan Gunung Merapi, sudah dimulai sejak Senin kemarin. Diawali dengan prosesi serah terima sesaji atau ubo rampe dari Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kepada Bupati Sleman Harda Kiswaya, yang kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Suraksohargo Asihono atau yang akrab disapa Mas Asih.
Oleh Juru Kunci Gunung Merapi, ubo rampe kemudian dibawa ke Padukuhan Kinahrejo untuk diinapkan selama semalam di Petilasan Hargo Dalem atau lebih dikenal Petilasan Mbah Maridjan.
Setelah dilakukan serangkaian kenduri dan doa bersama, serta pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, pada Selasa pagi ini seluruh rombongan Abdi Dalem melakukan pendakian menuju lokasi utama ritual Labuhan yakni di Bangsal Sri Manganti.

Prosesi Labuhan Selasa hari ini sendiri berlangsung lancar dengan dihadiri ribuan warga masyarakat dari berbagai daerah di DIY dan sekitarnya. Selain Juru Kunci Merapi serta para Abdi Dalem Keraton, nampak hadir pula dalam ritual ini wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang turut naik mengiringi ubo rampe yang dibawa dengan cara dipikul sambil berjalan kaki.
Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Suraksohargo Asihono atau yang akrab disapa Mas Asih, menyebut dalam Labuhan Tahun ini ada sebanyak 8 jenis sesaji atau ubo rampe yang dilabuh di Bangsal Sri Manganti. Satu di antaranya hanya bisa ditemui saat Labuhan Ageng seperti digelar kali ini.

“Tahun ini merupakan Labuhan Ageng yang hanya digelar setiap delapan tahun sekali. Atau setiap tahun Dal. Sehingga terdapat ubo rampe khusus yang tidak ditemui di tahun-tahun sebelumnya. Ubo rampe itu adalah Kambil Watangan atau pelana kuda,” ujarnya saat ditemui mabur.co di sela upacara Labuhan, Selasa (20/1/2026).
Mas Asih mengungkapkan total terdapat 8 macam ubo rampe yang dilabuh dalam ritual Labuhan Ageng kali ini. Selain pelana kuda, ubo rampe lainnya adalah seperangkat pakaian antara lain Sinjang Kawung Cangkring, Semekan Gadung, Semekan Bangun Tulak, Destar Doro Muluk, Sinjang Kawung Kemplang, Kampug Poleng, serta Semekan Gadung.

Setelah berjalan sejauh 1,5 kilometer, rombongan inti Abdi Dalem yang berjumlah 23 orang akhirnya tiba di Bangsal Sri Manganti yang berada di ketinggian sekitar 1500 MDPL. Di tempat inilah ritual inti Labuhan dilaksanakan.
Nampak Juru Kunci Gunung Merapi serta para Abdi Dalem melakukan prosesi inti Labuhan dengan melakukan pembacaan doa serta mengangkat setiap ubo rampe sebagai bukti bahwa sesaji telah diserahkan. Seusai seluruh ritual selesai, ubo rampe kemudian dibawa turun kembali.

Sejumlah Abdi Dalem kemudian membagikan bungkusan nasi berkat kepada seluruh warga masyarakat yang turut hadir mengikuti prosesi Labuhan di Bangsal Sri Manganti ini. Nasi ini diberikan sebagai simbol hadiah dari sultan sekaligus bukti bahwa si penerima mengikuti seluruh prosesi Labuhan hingga selesai.
Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Asih, mengatakan inti dari ritual Labuhan ini adalah sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar senantiasa diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi sultan dan seluruh rakyat Yogyakarta.
Sekaligus juga merupakan wujud rasa syukur atas segala nikmat dan berkah yang telah diberikan selama ini. ***



