Mabur.co – Pertunjukan seni kolosal yang megah dengan melibatkan ratusan penari mewarnai peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo. Digelar di Alun-alun Wates (Alwa), Kamis (15/10/2026) malam.
Berbagai elemen masyarakat mulai dari seniman, sinden, pelukis, pegawai pemerintah, hingga pelajar sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Pertunjukan kolosal bernama tari “Nyawiji Anjayeng Bawana” tersebut menceritakan kisah perjalanan Kabupaten Kulon Progo hingga menjadi satu kesatuan seperti saat ini.
Dua Pusaka Kabupaten Kulon Progo
Pertunjukan diawali dengan masuknya dua pusaka Kabupaten Kulon Progo yakni tombak Kanjeng Kyai Bantar Angin yang merupakan pemberian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Serta tombak Kanjeng Kyai Amiluhur yang merupakan pemberian Kadipaten Pakualaman.
Setelah itu, rombongan penari yang membawa panji-panji juga menyusul masuk ke tengah area. Mereka kemudian menari bersama sebagai gambaran kehidupan masyarakat Kulon Progo dari perbukitan Menoreh hingga pesisir laut selatan.
Rombongan penari dengan atribut gunungan kemudian menyusul masuk juga sebagai simbolisasi datangnya berbagai konflik, tantangan, dan hambatan di tengah masyarakat.
Dari situlah kemudian, cahaya obor yang dibawa masyarakat di sekeliling alun-alun mulai dinyalakan.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turut hadir menjadi penyulut pertama obor. Kemudian diteruskan ke Bupati dan Wakil Bupati.
Baca Juga: Makna Dua Tombak Pusaka yang Dimiliki Kulon Progo
Lalu ke seluruh camat di 14 wilayah Kulon Progo. Nyala ratusan obor ini menjadi simbolisasi datangnya kebangkitan dan kehidupan baru.
Dibalut iring-iringan suara musik gamelan, seluruh penari kemudian menari bersama dengan penuh kegembiraan. Menggambarkan bersatunya kembali seluruh masyarakat Kulon Progo di bawah naungan Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan penyalaan obor api dalam tarian kolosal ini terinspirasi dari kisah “Api di Bukit Menoreh” karya SH Mintardja.
“Api bukan hanya kobaran fisik, tapi menjadi simbol bara semangat untuk menghadapi berbagai tantangan dan dinamika zaman,” ungkap Joko.
Filosofi Tema “Nyawiji Anjayeng Bawana”
Sementara tema “Nyawiji Anjayeng Bawana” diangkat sebagai gambaran semangat persatuan serta visi Kulon Progo untuk Nusantara.
Makna nyawiji merepresentasikan konsep satu jiwa satu rasa. Sedangkan anjayeng bawana merujuk pada langkah dan kontribusi Kulon Progo menuju skala yang lebih luas, yaitu Indonesia.
Tema tersebut dikemas secara megah sebagai bentuk dedikasi kebudayaan yang mengusung semangat kebangkitan untuk membakar semangat masyarakat Kulon Progo.
Pada puncak pertunjukan tari kolosal ini, juga dilakukan pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 75 meter, beserta peta Kulon Progo sebagai penegas semangat kebangsaan dan kesatuan.
1200 Penari Berbagai Elemen Masyarakat
Menurut Joko, meski awalnya hanya menargetkan keterlibatan sekitar 750 penari, namun nyatanya pertunjukan tari kolosal ini secara keseluruhan melibatkan sekitar 1200 elemen masyarakat.
Salah seorang peserta, Jessica, mengaku sangat antusias terlibat dalam pertunjukan kolosal ini. Ia bahkan mengaku telah menyiapkan diri selama seminggu lebih untuk berlatih dan tampil maksimal dalam pertunjukan ini.
“Senang sekali. Sangat seru. Bisa menjadi penyemangat dan memotivasi generasi muda agar lebih peduli untuk melestarikan budaya Indonesia,” kata pelajar salah satu SMA di Kulon Progo ini. ***
