Menengok Sejarah Batik dan Capaian Motif yang Berkembang

3 Min Read
Woman sits at a quilt, sewing intricate patterns with a needle in hand (black-and-white photo).
Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. 

Secara umum, batik merujuk pada teknik pembuatan pola pada kain menggunakan malam (lilin) sebagai bahan perintang warna, yang kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan warna.

Sejarah Batik

Dilansir dari buku Master Dyers to the World: Technique and Trade in Early Indian Dyed Cotton Textile karya Gittinger (1979), menjelaskan kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, yaitu amba yang berarti luas atau lebar dan “titik”. Merujuk pada proses penempatan titik-titik untuk menciptakan motif batik.

Kata batik juga merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang diaplikasikan ke atas kain sehingga dapat menahan masuknya bahan pewarna.

Malam atau lilin berfungsi untuk menutup permukaan pada kain yang akan dibatik, sehingga kain yang telah ditutup lilin, tidak bisa menyerap warna.

Tak Sembarang Orang Tekuni Batik

Tidak sembarang orang bisa menekuni seni membatik. Selain karena pengerjaannya yang tidak instan, juga membutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang terpusat.

Karena itu, tik pada kata batik dalam bahasa Jawa mempunyai makna berkaitan dengan suatu pekerjaan halus, lembut, dan kecil yang mengandung unsur keindahan.

Secara etimologis, kata batik berarti menitikkan malam dengan canting sehingga membentuk corak yang terdiri atas susunan titikan dan garisan.

Capaian Motif Batik Beberapa Daerah

Hasil pengerjaan batik pun cukup beragam dan punya kekhasan tersendiri di setiap daerah.

Di Pekalongan, misalnya, mayoritas batik yang dihasilkan perajin memiliki khas motif bentuk garis-garis tegas. Garis-garis ini akan menghasilkan corak dan motif seperti dedaunan dan bunga-bunga kecil, sehingga menghasilkan bentuk yang hidup.

Sedangkan batik khas Yogyakarta biasanya disebut batik kawung. Memiliki makna yang erat hubungannya dengan kehidupan kerajaan.

Motif batik ini ditandai dengan empat buah bulatan lonjong yang saling silang. Sebagian besar motif batik kawung menggunakan ragam hias dengan pola geometris.

Keragaman motif batik yang dihasilkan, khususnya batik tulis, tidak saja karena pengaruh kekhasan daerah, tapi juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang dihadapi perajin saat itu.

Bisa dibilang membatik merupakan media pengejawantahan pembatik terhadap kondisi yang mengelilinginya.

Bahkan kadang sebuah ide tidak langsung muncul begitu saja, pembatik butuh proses pengendapan diri dan meditasi untuk mendapatkan bisikan-bisikan hati dan ilham.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar