Mabur.co – Pakaian batik adalah salah satu warisan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang tentu saja harus dijaga dan dilestarikan.
Bagi yang ingin menjual pakaian batik atau baju bermotif batik harus memperhatikan perhitungan mengenai hari baiknya.
Karena dalam primbon Jawa sudah dibahas ada beberapa hari yang baik untuk berdagang dan memulai usaha tertentu salah satunya batik.
Bersumber Kaidah Pasaran dalam Weton
Pelopor inovasi canting cap kertas dan seniman batik, Nurohmad, menjelaskan, batik weton dibuat dengan menggunakan simbol-simbol dan warna berdasarkan kaidah hari dan pasaran dalam weton.
“Batik weton yang dimaksud di sini adalah menciptakan batik yang mengambil simbol-simbol dan warna (kaidah) dalam weton (hari dan pasaran). Melalui weton tersebut, mencoba untuk divisualkan menjadi sebuah komposisi motif beserta aturan warna dalam produk atau karya batik,” ucapnya, Jumat (2/10/2026).

Nurohmad menuturkan, seperti diketahui, masyarakat Jawa memiliki lima jumlah pasaran atau pancawara, yaitu legi, pahing, pon, wage dan kliwon.
Pasaran tersebut disematkan di belakang nama hari-hari yang dikenal saat ini (pancawara) yakni Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad (Minggu).
Kombinasi hari dan pasaran didasarkan atas panduan penghitungan saptawara dan pancawara, ditempatkan secara berurutan dan berulang-ulang, berlaku selama 35 hari.
Contohnya, Senin legi, Selasa pahing, Rabu pon, Kamis wage, Jumat kliwon, Sabtu legi, Minggu paing dan seterusnya.
Penanda Lahir Seseorang
Kombinasi hari dan pasaran ini oleh masyarakat Jawa digunakan sebagai sistem penghitungan waktu atau juga sebagai penanda lahir seseorang berikut dengan karakter bawaannya.
“Jadi idiom-idiom warisan leluhur yang kembali direinterpretasikan hari ini menjadi karya batik yang nantinya akan ada 35 karya batik weton,” ucapnya.
Nurohmad menuturkan pula, secara kosmologis, pasaran memiliki arah angin dan menyimbolkan warna-warna tertentu, seperti pasaran Legi bertempat di Timur, mengandung unsur udara dan memancarkan cahaya putih.
Pasaran Pahing bertempat di Selatan, yang mengandung unsur api dan memancarkan cahaya merah. Pasaran Pon bertempat di Barat, yang mengandung unsur air dan memancarkan cahaya kuning.
Pasaran Wage bertempat di Utara, yang mengandung unsur tanah dan memancarkan cahaya hitam, sedangkan pasaran Kliwon bertempat di pusat (episentrum), mengandung unsur suksma atau jiwa serta memancarkan cahaya abu-abu.
“Saya memvisualkan warna-warna tersebut berikut dengan simbol-simbol yang lekat pada hari dan pasaran tersebut. Selain arah mata angin dan warna, juga ada unsur-unsur gambar seperti binatang, burung, pohon dan elemen lainnya,” katanya.
