Mabur.co – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mewajibkan seluruh ASN dan pegawai di lingkungan Pemkab Kulon Progo mengenakan pakaian batik selama sebulan penuh pada bulan Oktober ini.
Penggunaan batik motif bebas khas Kulon Progo ini dilakukan guna memeriahkan momentum Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober, sekaligus menyambut hari jadi Kabupaten Kulon Progo ke-75 yang jatuh pada 15 Oktober.
Ketentuan ini dituangkan dalam Surat Edaran Pemkab Kulon Progo Nomor 000.8.3/2058 tentang Hari Batik Nasional. Kebijakan itu juga menindaklanjuti Surat Edaran Pemerintah Daerah DIY Nomor B/100.3.4/8/B.6 Tahun 2026.
Para pegawai dapat memilih motif batik Kulon Progo sesuai selera, dengan tetap menyesuaikan ketentuan pada hari-hari tertentu ketika diwajibkan mengenakan pakaian khusus, seperti pakaian tradisional Jawa Yogyakarta, pakaian Korpri maupun pakaian untuk kegiatan tertentu.
Kepala BKPSDM Kabupaten Kulon Progo, Triyanto Raharjo, mengatakan, penggunaan batik Kulon Progo di lingkungan pemerintahan ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat penggunaan produk budaya lokal dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut dia, ketentuan tersebut juga memberi ruang bagi pegawai untuk mengenakan beragam motif batik yang berkembang di Kulon Progo, tidak hanya terpaku pada satu corak.
Batik sebagai Identitas Kulon Progo
Kulon Progo sendiri selama ini dikenal memiliki sejumlah motif batik yang ditetapkan sebagai identitas daerah. Salah satu yang paling dikenal adalah motif Geblek Renteng.
Motif ini pertama kali dipopulerkan Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo yang menjabat 2011-2019. Motif ini terinspirasi dari geblek, makanan tradisional khas Kulon Progo yang dibuat dari tepung tapioka. Bentuk geblek yang menyerupai angka delapan disusun secara bergandengan dan menjadi pola utama kain.
Yang terbaru Kulon Progo juga baru saja menetapkan dua motif batik baru khas daerah, yakni Songsongagung Ngambararum dan Binangun Kertaraharja.
Penggagasnya adalah pasangan Bupati dan Wakil Bupati yang baru yakni Agung Setyawan dan Ambar Purwoko.
Motif batik Songsongagung Ngambararum memuat sejumlah unsur seperti payung agung, joglo, bunga, daun, sayap, matahari dan gelombang air.
Unsur-unsur tersebut membawa filosofi tentang perlindungan, kepemimpinan, gotong royong, pertumbuhan, keseimbangan dan hubungan manusia dengan alam.
Sementara Binangun Kertaraharja dirancang dengan filosofi yang berkaitan dengan semangat membangun kehidupan masyarakat Kulon Progo yang lebih baik dan sejahtera.
Motif yang didominasi bentuk corak gunungan ini juga ditetapkan untuk digunakan sebagai pakaian seragam sekolah serta pakaian dinas harian bagi ASN, termasuk perangkat kalurahan.
Selain sejumlah motif tersebut, Kulon Progo juga memiliki motif lain seperti Galaran dan Grinsing yang dikenal sebagai motif batik lokal yang lebih dulu berkembang. Motif tersebut banyak dipadukan dengan unsur alam seperti tumbuhan dan binatang serta penggunaan warna-warna alami.
Para ASN maupun pegawai di lingkungan Pemkab Kulon Progo sendiri nantinya diberikan kebebasan untuk memilih beragam motif batik tersebut untuk digunakan selama bulan Oktober. Penggunaan batik ini tidak harus menghasilkan tampilan yang seragam.
Penggunaan bermacam motif batik justru dinilai akan dapat memperlihatkan kekayaan corak batik khas Kulon Progo yang menjadi kekayaan Kabupaten Bumi Binangun.
