Mengenal Gajah Wong, Sungai di Timur untuk Mandi Gajah Keraton Yogyakarta

3 Min Read
Sungai Gajah Wong (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Jika Keraton Yogyakarta dipotret dari udara, ia diapit dua sungai sebagai benteng alam. Baratnya Winongo, timurnya Kali Code dan Gajah Wong.

Kalau Winongo adalah parit pertahanan, Gajah Wong adalah tempat mandi kerajaan. Namanya bukan sekadar nama.

Ia adalah prasasti oral tentang Sultan Agung. Legenda ini mengisahkan tentang asal usul penamaan Kali Gajah Wong alias sungai yang terletak di Yogyakarta.

Sungai tersebut dulu merupakan tempat seorang Abdi Dalem Kerajaan Mataram memandikan gajah milik sultan.

Ribuan Prajurit

Alkisah, berdirilah Keraton Mataram lama yang sangat megah di Kotagede. Sultan Agung adalah pemimpin Kerajaan Mataram.

Ia memiliki ribuan prajurit, termasuk pasukan berkuda dan pasukan gajah. Satu di antaranya adalah Ki Sapa Wira. Setiap pagi, Ki Sapa Wira memandikan gajah milik Sultan Agung yang bernama Kyai Dwipangga.

Ia selalu memandikan Kyai Dwipangga dengan lembut di sungai dekat Keraton Mataram. Karenanya, gajah dari Negeri Siam ini sangat menurut dan halus kepada Ki Sapa Wira.

Kisah Tragis Ki Kerti Pejok dan Gajah Keraton

Suatu hari tangan Ki Sapa Wira sakit, ia minta bantuan adik ipar Ki Kerti Pejok. Ki Kerti membawa gajah itu ke tengah sungai yang tampak dangkal, sambil menggerutu.

“Dasar, Kanjeng Sultan orang yang aneh. Sungai sekecil ini kok digunakan untuk memandikan gajah.”

Belum habis gerutunya, banjir bandang dari Merapi datang.

“Tolong! Tolong!” teriak Ki Kerti, tapi tak ada yang mendengar. Keduanya hanyut hingga ke Laut Selatan. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Sultan Agung menamai sungai itu Kali Gajah Wong karena telah menghanyutkan gajah dan wong.

Cikal Bakal Gembira Loka

Sungai itu terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta. Konon, tempat Ki Kerti memandikan gajah itu saat ini bersebelahan dengan kebun binatang Gembira Loka. Masuk akal, karena Gembira Loka dulu adalah kebun binatang keraton.

Kini, Gajah Wong bereinkarnasi. Dari kalen atau selokan kecil yang kumuh tempat pembuangan sampah dan kandang babi, ia jadi Desa Wisata Kali Gajah Wong di Giwangan.

“Berawal dari inisiatif masyarakat untuk membuat kali ini bersih dan tidak menjadi tempat pembuangan sampah lagi. Awalnya nggak ada tujuan untuk tempat wisata, namun hanya untuk membuat kali bersih. Tapi kalau wisata itu bonus,” ujar Adit, Sekretaris Bendung Lepen.

Di Bendung Lepen, ikan nila dan koi berenang di selokan yang dulu hitam. Di Dermaga Cinta, pasangan muda naik perahu sambil melihat Merapi di utara dan keraton di barat.

Fiturnya begini: keraton tanpa Gajah Wong seperti keris tanpa warangka timur. Ia bukan sekadar batas, tapi cermin.

Tempat di mana gajah Siam, abdi dalem, dan Sultan Agung mengajarkan satu hal: jangan menggerutu pada tugas, karena sungai kecil bisa jadi laut besar. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar