Mabur.co- Di balik ketenangan Yogyakarta yang dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan, tersimpan potensi ancaman bencana yang tidak boleh diabaikan.
Salah satu ancaman bencana di Yogyakarta adalah Sesar Opak, salah satu sesar aktif di Jawa.
Sebanyak 215 peserta, siswa SMA/SMK/MA d iwilayah Kabupaten Bantul, Sabtu (23/5/2026) mengikuti sisir sesar opak dari Bukit Mengger yang berada di Blawong Trimulyo, Jetis, Kabupaten Bantul ke Monumen Gempa Bumi 2006 yang berada di Potrobayan Srihardono, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bantul, Waljito mengatakan, Sesar Opak adalah struktur patahan atau rekahan besar pada kerak bumi yang membentang di daratan Yogyakarta.
Jalur Sesar
Secara geografis, jalur sesar ini mengikuti aliran Sungai Opak yang berhulu di lereng Gunung Merapi dan bermuara di Samudra Hindia, tepatnya di kawasan Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul.
“Patahan ini memiliki panjang kurang lebih 45 kilometer dan memotong dua satuan morfologi utama, yakni dataran rendah Yogyakarta (Yogya Low) dan dataran tinggi Wonosari (Wonosari High). Keberadaannya melibatkan berbagai formasi batuan purba, termasuk batuan andesit tua (Old Andesite Formation) serta formasi Semilir dan Nglanggran di sisi timur,” katanya, Sabtu (23/5/2026).
Waljito mengatakan, Gempa Bumi di wilayah DIY dan Jawa Tengah tahun 2026 merupakan peristiwa sejarah yang menjadi titik balik menguatnya kesiapsiagaan bencana di Kabupaten Bantul.
“Dampak yang begitu besar yang tidak mudah dilupakan dalam ingatan bagi penyintas bencana di wilayah Bantul pada khususnya,” ujarnya.
Waljito mengatakan pula, tahun 2026 ini genap 20 tahun peristiwa itu terjadi, namun semangat dan upaya dalam pengurangan risiko bencana terus dilakukan, terutama bagi masyarakat pegiat kebencanaan yang juga turut lahir dari peristiwa tersebut.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja dalam kesiapsiagaan bencana di wilayah Kabupaten Bantul.
Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi DIY
“Dalam kegiatan ini, kita memiliki tujuan khusus yakni untuk memperingati 20 tahun Gempa Bumi DIY Jateng tahun 2006 yakni menumbuhkan nilai-nilai Kepalang merahan, meningkatkan keterlibatan remaja dalam mengenali kerentanan di wilayah Kabupaten Bantul, meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan remaja dalam upaya pengurangan risiko bencana, meningkatkan persahabatan antarremaja di wilayah kabupaten Bantul dan meningkatkan kecintaan terhadap lingkungan,” ujarnya.
Waljito mengatakan lagi, terkait dengan kegiatan sisir sesar opak, ini mempunyai maksud bahwa kita harus mewaspadai terkait dengan sesar opak yang masih sangat aktif dan bisa berpotensi kembali terjadinya gempa bumi seperti kejadian 2006.
”Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa masyarakat khususnya di kabupaten Bantul harus tetap waspada terkait dengan potensi bahaya gempa bumi yang mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi sehingga mereka bisa menyiapkan dan mempersiapkan terkait dengan kesiapsiagaan dalam rangka menghadapi potensi gempa bumi yang ada di kabupaten Bantul,” ujarnya.
Sala satu peserta, Nurhidayat, mengatakan, kegiatan ini bisa bermanfaat bagi generasi sekarang karena kita bisa mengetahui sejarah kebencanaan tahun 2006.
Salah satu jejak permukaan sesar ini dapat diamati di kawasan Sesar Opak Bukit Mengger (SOBM) di Bantul.
“Keberadaannya menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi gempa bumi di wilayah DIY,” katanya.




