Kisah Lenyapnya Perbukitan Gunung Gamping, Penopang Industri Gula dan Bangunan Penting Awal Pembentukan Kota Yogyakarta 

5 Min Read
Old illustration of Gunong Lamping coastal landscape with palm trees, sandy terraces, and a distant rocky hill in the background.
Lukisan kawasan Gunung Gamping oleh naturalis asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn. (Foto: Istimewa)

Mabur.co –Situs Gunung Gamping yang terletak di Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman selama ini dikenal sebagai lokasi cikal bakal lahirnya Kota Yogyakarta.  

Di kawasan inilah Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi pernah bermukim selama sekitar satu tahun setelah Perjanjian Giyanti pada 1755. 

Ia mendirikan Pesanggrahan Ambarketawang di kaki Gunung Gamping sebelum akhirnya pindah ke pusat pemerintahan baru yang kemudian menjadi Keraton Yogyakarta.

Cocok untuk Meditasi Raja

Menurut sejumlah sumber, dikutip mabur.co, Rabu (7/10/2026), Gunung Gamping dipilih sebagai tempat tinggal sementara Sultan HB I karena lokasinya yang cocok untuk melakukan ritual meditasi bagi sang raja.

Tak hanya itu, kawasan bukit karst atau perbukitan batu kapur ini juga memiliki kontur berbukit-bukit sehingga dapat menjadi benteng alami bagi Sultan dan pasukannya dari ancaman musuh-musuhnya.

Berdasarkan keterangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang tertera di situs tersebut, Gunung Gamping dulunya merupakan perbukitan karst yang terbentuk sekitar 50 juta tahun lalu pada zaman Eosen. 

Hal itu menjadikan kawasan Gunung Gamping sebagai formasi batuan tertua di wilayah Yogyakarta. Bahkan lebih tua dari kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul. 

Gunung Gamping sendiri terdiri dari batuan penyusun berwarna putih, putih kemerahan hingga abu-abu. Kawasan ini juga menyimpan jejak fosil binatang laut, seperti moluska dan koral, yang menunjukkan wilayah ini dulu merupakan bagian dari lingkungan laut.

Kesaksian Naturalis Jerman

Naturalis asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, yang banyak mengabadikan kondisi geografis di Pulau Jawa pernah melukiskan bagaimana wujud Gunung Gamping pada 1836-1839.

Dalam catatannya, Junghuhn menggambarkan Gunung Gamping sebagai kawasan perbukitan yang berdiri menjulang di dekat sungai dengan banyak pepohonan.

Di salah satu puncak bukit itulah Sultan HB I juga membuat sebuah bangunan sehingga memungkinkannya melihat proses pembangunan Keraton Yogyakarta dari atas Gunung Gamping yang berjarak sekitar 5 kilometer tepat di sisi sebelah barat.

Large rocky boulder behind a decorative green-and-white fence, with trees surrounding it on a sunny day.
Bongkahan batu gamping sisa-sisa aktivitas penambangan di situs Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)

Bahkan nama Pesanggrahan Ambarketawang yang dibangun Sultan di kaki bukit Gunung Gamping juga memiliki arti serupa. Ambar berarti harum. Sementara ketawang berarti tempat tinggi. Sehingga Ambarketawang bisa diartikan sebagai tempat tinggi yang harum. 

Namun meski pada masa lalu diyakini sebagai sebuah wilayah perbukitan yang cukup luas dan tinggi menjulang, kini situs Gunung Gamping hanya menyisakan sebagian bukit kecil setinggi tak lebih dari 5 meter saja.

Lalu apa sebenarnya yang membuat Gunung Gamping ini kini seolah lenyap dan nyaris tak bersisa?

Dilansir dari situs resmi BKSDA Yogyakarta, aktivitas penambangan diduga menjadi faktor utama yang membuat Gunung Gamping seolah menghilang dan lenyap begitu saja.

Batu-batu gamping di kawasan ini awalnya ditambang untuk keperluan pembangunan awal kota Yogyakarta. Jaraknya yang relatif dekat dengan pusat kota, membuat batu kapur dari kawasan ini banyak dipakai sebagai pengganti semen. 

Sejumlah bangunan penting masa itu, seperti jembatan, Keraton Yogyakarta, Benteng Baluwarti hingga Istana Air Taman Sari konon dibangun menggunakan batu dari Gunung Gamping ini. 

Lalu pada era selanjutnya batu kapur dari Gunung Gamping kembali dieksploitasi secara besar-besaran. Yakni sebagai penjernih sari tebu untuk keperluan industri gula. 

Hal itu tak lepas karena sekitar tahun 1860-an sebanyak 19 pabrik gula dibangun perusahaan-perusahaan Belanda dan beroperasi di sejumlah wilayah Yogyakarta.

Pabrik-pabrik gula itu tercatat menghasilkan 2.892 ton gula pasir dan harus menggunakan sekitar 361,5 ton kapur untuk mengolahnya. 

Kondisi Gunung Gamping Memprihatinkan

Meski industri gula saat itu mampu mengembalikan kejayaan perekonomian dari keterpurukan ekonomi Keraton Yogyakarta akibat Perang Jawa hingga Gempa Besar pada 1867, namun kondisi Gunung Gamping semakin memprihatinkan.

Aktivitas penambangan di kawasan Gunung Gamping diperkirakan terus berlangsung hingga abad ke-20.  Pasca-kemerdekaan RI, kawasan Gunung Gamping mulai diusulkan sebagai kawasan yang dilindungi.

Hingga akhirnya pada 16 Desember 1989, kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Alam melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 758/Kpts-II/89. 

Dengan luas keseluruhan hanya 1,084 hektare, Gunung Gamping pun resmi menyandang sebagai Cagar Alam terkecil di Indonesia. *** 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar