_Bustan Basir Maras
“Siri’ na pacce, tallasakku mange ri lino, pappasengku mange ri langi”
Pappaseng (Pesan) Bugis: Harga diri dan cinta kasih, ragaku berjalan di bumi,
pesanku sampai ke langit (Epos I La Galigo).
Di Makassar, ada dua kata yang selalu disebut dalam satu tarikan napas. Pertama tokoh mitos, yang kedua manusia sufi: Sawerigading dan Syekh Yusuf. Sawerigading adalah cucu Batara Guru yang turun dari Botting Langiq ke Luwu. Dalam Sureq Galigo, epos terpanjang di dunia, 300.000 baris, 6.000 halaman lontara, ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World 2011, digambarkan bukan sebagai raja yang duduk di singgasana, tapi sebagai pengembara.
Ia jatuh cinta pada saudari kembarnya We Tenriabeng, cinta yang tabu. Untuk lari dari tabu itu, ia naik perahu yang dipahat dari pohon Welenreng, berlayar ke Ternate, ke Bima, ke Jawa, ke Sunda, ke Malaka, hingga ke negeri Cina untuk meminang We Cudaiq yang wajahnya mirip kembarannya; We Tenriabeng. Ia menembus pusaran laut, masuk ke dunia bawah, keluar lagi.
Ia bersumpah tidak akan menginjak tanah Luwu lagi karena telah menebang pohon kehidupan. Itulah spirit Bugis-Makassar yang paling tua: sompe, mengembara. Bukan karena kalah, tapi karena siri’; harga diri menuntut jalan keluar, terang Prof. Nurhayati Rahman, ahli epos I La Galigo ke Mabur.co di ruang kerjanya, FIB. Unhas Makassar pertengahan 2026 lalu.
Tiga ratus tahun kemudian, spirit itu menjelma dalam tubuh seorang manusia nyata: Muhammad Yusuf Bin Abdullah, lahir 3 Juli 1626 di Moncong Loe, Gowa. Keponakan Sultan Alauddin, raja pertama Gowa yang masuk Islam 1605. Ia tidak lahir sebagai raja.
Ia lahir sebagai santri kelana. Pada usia 18 tahun, 1644, Syekh Yusuf berlayar ke barat. Bukan ke Cina seperti Sawerigading, tapi ke Banten, ke Aceh, ke Gujarat, ke Yaman, ke Haramain, ke Damaskus. 22 tahun ia belajar. Ia belajar tarekat Qadiriyyah, Khalwatiyyah, Naqsyabandiyyah dan Syattariyyah. Ia mengajar di Masjidil Haram lima tahun. Lalu ia pulang ke Gowa, menjadi penasihat Sultan Hasanuddin, catat Abu Hamid, ahli kajian Syekh Yusuf dalam beberapa bukunya.
Ketika Gowa kalah dalam Perjanjian Bongaiyya 1667, ia tidak diam di istana. Ia sompe (berlayar) lagi. Ke Banten, menjadi mufti dan menantu Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika Banten kalah 1682, kepalanya dihargai 1.000 Rijksdaalder hidup atau mati. Hingga akhirnya VOC menangkapnya, membuangnya ke Ceylon, Sri Lanka, 1684.
Di Ceylon pun ia tidak berhenti. Lewat jamaah haji yang singgah, ia tetap kirim surat ke Nusantara. VOC panik. 7 Juli 1693 ia dibuang lebih jauh lagi, ke Tanjung Harapan, Cape Town, Afrika Selatan, bersama 49 pengikutnya. Belanda berharap ia mati di ujung dunia. Tapi yang terjadi sebaliknya. Di Zandvliet, tanah pertanian di muara Sungai Eerste, ia membuka tempat perlindungan bagi budak pelarian.
Ia mendirikan komunitas Muslim pertama di Afrika Selatan. Kampung itu kini bernama Macassar, persis nama tanah asalnya. Ia mengajar zikir, menulis 50 karya tasawuf, termasuk Safinah an-Najah dan Zubdat al-Asrar. Ia wafat 23 Mei 1699, dimakamkan di bukit Faure, Cape Town. Makamnya kini jadi Kramat, bagian dari Circle of Islam. Papar Abu Hamid.
Jejak Transnasional dan Diplomasi Budaya
Inilah yang membuat Syekh Yusuf unik, ia adalah satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Pahlawan Nasional di dua negara. “Syekh Yusuf adalah sosok komplit yang menyatukan kekuatan pemikiran melalui 50 karya tasawuf dengan aksi fisik melawan penjajahan.
Beliau adalah satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Pahlawan Nasional di dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Di tanah Banten beliau mengabdi sebagai mufti sekaligus menantu Sultan Ageng Tirtayasa,” dikutip dari sambutan Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf, 28 April 2026.
Nelson Mandela menyebutnya “Salah seorang putra Afrika terbaik”. Presiden Thabo Mbeki menganugerahinya Order of Mendi for Bravery 2009, penghargaan tertinggi Afrika Selatan. Di Indonesia, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional 1995 dan diplomasi itu masih hidup sampai hari ini.
Pada 31 Oktober 2025, di sela G20 Culture Ministers Meeting di Afrika Selatan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon ziarah ke makamnya dan mengumumkan pembangunan Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf di lahan 2.000 meter persegi di sekitar kompleks makamnya di Macassar, Cape Town.
“Syaikh Yusuf Al-Makassari adalah jembatan peradaban antara Nusantara dan Afrika Selatan. Rumah Budaya Indonesia Syaikh Yusuf akan menjadi simbol persahabatan abadi kedua bangsa yang sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu,” dikutip validnews.id dari keterangan resmi Kemenbud, dikutip Mabur.co (5/11/2026).
Rencana itu diperkuat April 2026. Peringatan 400 Tahun Kelahirannya resmi masuk agenda UNESCO 2026-2027. Oktober 2026, pameran “Sacred Journey of Syekh Yusuf Al-Makassari” digelar di Indonesia House Amsterdam. Target pembangunan museum dimulai 2027.
Syekh Yusuf Merayu Badai dan Ombak
Di Gowa, juru kunci makam Syekh Yusuf di Lakiung, Mujibur Rahman, masih bercerita ke Mabur.co: ketika kapal Voetboog yang membawanya ke Afrika dihantam badai, nakhoda Belanda ketakutan. Syekh Yusuf diminta menenangkan ombak.
Syekh Yusuf lalu berdiri di Haluan seperti sedang bicara dan merayu badai dan ombak yang bergemuruh. Karena izin Allah, ombak dan badai itu perlahan tenang dan berhenti bergolak. Nakhoda itu auto masuk Islam. Keturunannya masih Muslim hingga kini di Cape Town. Mungkin itu mitos? Mungkin. Tapi bukankah itu persis yang terjadi hari ini dengan Indonesia yang dulu dibuang, kini justru diminta menjadi penenang ombak dunia Selatan, Global South lewat budaya?
Di Makassar ada makam Syekh Yusuf, di Cape Town juga ada, di Banten ada jejaknya, di Sumenep ada makamnya lagi, di Ceylon jejak tapaknya menjadi sirah. Orang Gowa bilang: jenazahnya dipulangkan 1705 atas permintaan Sultan Abdul Jalil, tapi yang kembali hanya sejemput abu atau satu jari. Sisanya tetap di Afrika.
Seperti Sawerigading yang bersumpah tidak akan menginjak tanah Luwu lagi, tapi rohnya tetap di sana. Syekh Yusuf pun begitu, jasadnya boleh di dua benua, tapi spirit sompe-nya tetap satu, bahwa pengembaraan bukan pelarian, tapi cara untuk membuat tanah asing menjadi tanah air. Itulah yang membuat 400 tahun kemudian, anak-anak Cape Malay masih berziarah ke Kramat Macassar setiap tahun, menyanyikan Ratib al-Haddad yang dibawa seorang sufi Bugis-Makassar.
