Wisma Dharmais, Jejak Monumental Peninggalan Pak Harto di Kulon Progo - Mabur.co

Wisma Dharmais, Jejak Monumental Peninggalan Pak Harto di Kulon Progo 

Mabur.co –  Tepat pada 27 Januari 2008 silam, Presiden Kedua RI, Suharto, mengembuskan napas terakhir di usia yang ke-86 tahun. Meski telah 18 tahun berlalu, sosok Suharto tak bisa dilepaskan begitu saja dari ingatan masyarakat di Indonesia. 

Selain menjadi sosok penting yang terlibat dalam perjuangan di era Perang Kemerdekaan, Pak Harto, demikian ia biasa dipanggil, juga dikenal sebagai bapak pembangunan Indonesia, sekaligus presiden terlama yang menjabat selama lebih dari 32 tahun. 

Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyelimutinya, sosok Pak Harto telah menorehkan sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia. Berbagai jejak peninggalannya pun masih bisa ditemui di berbagai daerah hingga saat ini. 

Sejumlah bangunan rumah tinggal Wisma Dharmais di Pengasih, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Salah satu jejak Pak Harto di Kabupaten Kulon Progo adalah Wisma Dharmais yang berada di Dusun Serang, Sendangsari, Pengasih. Wisma ini didirikan oleh Yayasan Dharmais, yayasan milik keluarga Suharto pada 1987 silam. 

Wisma ini berfungsi sebagai pusat pelatihan dan pembinaan sosial. Khususnya untuk mendukung program transmigrasi yang dicanangkan Pak Harto, dan berlangsung sekitar tahun 1970 hingga 1990-an. 

Diresmikan oleh Sudharmono yang pernah menjabat Mensesneg serta Wakil Presiden RI, pada awal pendiriannya Wisma Dharmais lebih banyak digunakan sebagai tempat penampungan dan pusat pelatihan bagi calon transmigran sebelum mereka diberangkatkan ke wilayah luar Jawa. 

Di tempat inilah puluhan keluarga transmigran mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan agar siap memulai hidup di lokasi baru.

Menurut PLT Kepala Balai Diklat Yayasan Dharmais Kulon Progo, Usmar Kurniawan, wisma ini dulu menjadi semacam tempat simulasi para calon transmigran menjalani hidup baru di tanah perantauan.

Pendapa pertemuan di Wisma Dharmais, Pengasih, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

“Pada masa itu, dulu tempat ini masih seperti hutan. Banyak pepohonan besar serta kebun. Jadi di sinilah mereka dilatih, misalnya tinggal di rumah khusus untuk para transmigran. Hingga belajar bercocok tanam di kebun. Lokasinya dulu di sebelah utara jalan,” katanya kepada mabur.co.

Usmar menyebut, para calon transmigran yang dilatih di Wisma Dharmais ini mayoritas berasal dari wilayah DIY dan Jateng. Dalam setiap program, ada sedikitnya 30 KK yang tinggal dan menetap di wisma ini selama kurun waktu sekitar 3 bulan. 

Selama proses pelatihan itu sebanyak 30 rumah petak juga disiapkan bagi mereka. Hingga saat ini rumah-rumah petak atau wisma itu, masih berdiri kokoh dan kerap digunakan untuk berbagai keperluan.

“Pelatihannya macam-macam. Ada pelatihan pertukaran dan bercocok tanam untuk bapak-bapak. Pelatihan memasak hingga menjahit untuk ibu-ibu. Hingga pelatihan khusus untuk para dai transmigran yang hendak menjadi dai di tanah perantauan,” imbuhnya.

Suasana wisma Dharmais di Pengasih, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Berlangsung mulai tahun 1987 sampai 1998, fungsi Wisma Dharmais sebagai tempat penampungan dan pusat pelatihan bagi calon transmigran akhirnya berhenti seiring lengsernya Presiden Suharto dan berhentinya program transmigrasi.  

Setelah itu Wisma Dharmais lebih banyak digunakan sebagai pusat pelatihan usaha produktif bagi anak-anak putus sekolah. Bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, wisma ini kerap mencari anak-anak putus sekolah di pelosok-pelosok desa. Untuk kemudian diberikan pelatihan keterampilan usaha, serta modal untuk memulai usaha baru. 

“Program ini berjalan hingga tahun 2019. Saat muncul pandemi Covid-19, program ini akhirnya dihentikan. Sejak saat itu Wisma Dharmais ini lebih banyak difungsikan sebagai tempat menggelar beragam kegiatan sosial. Seperti pelatihan paskibraka, makrab siswa sekolah dan mahasiswa, rapat-rapat organisasi, hingga acara deklarasi atau pertemuan komunitas di wilayah DIY,” ungkapnya. *** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *