Mabur.co – Sebanyak 1.001 pembatik meramaikan peringatan Hari Batik Nasional 2026 melalui kegiatan bertajuk Simfoni 1001 Pembatik, Sabtu (3/10/2026).
Rangkaian Simfoni 1001 Pembatik dimulai dari Simpang 4 Batik Terang Bulan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Para peserta mulai mengikuti kegiatan sejak pukul 06.00 WIB dan membatik secara bersama-sama di ruang publik.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan pusat Kota Yogyakarta itu mempertemukan pembatik, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam satu ruang kreatif untuk membatik bersama.
Proses Pembuatan Batik Tulis Butuh Ketelatenan
Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah DIY, GKBRAA Paku Alam atau Gusti Putri, berharap kegiatan hari ini dapat membuat masyarakat semakin menghargai proses pembuatan batik tulis yang membutuhkan ketelatenan.
“Simfoni 1001 Pembatik ini baru pertama kali ada di Yogyakarta. Semoga saja acara ini bisa berkelanjutan karena ini tidak hanya untuk pembatik tapi untuk perempuan atau laki-laki yang suka dengan batik. Supaya mereka tahu betapa susahnya membatik, maka tidak hanya menawar saja. Tetapi juga perlu tahu prosesnya luar biasa sekali dengan batik. Semoga saja acara ini bisa menginspirasi untuk selalu cinta produk-produk batik di Yogyakarta,” katanya.

Salah satu peserta, Fransiska Setya Almania asal Solo, mengatakan, batik merupakan warisan budaya. Sebagai generasi muda harus peduli.
Karena kebanyakan para generasi muda malas sekali untuk mengenal tradisi terutama batik. Mereka hanya memakai. Mereka tidak mengetahui asal-usul batik. Bagaimana membatik itu diciptakan dan dibuat.

“Kami sebagai generasi muda ingin menjadi pelopor bagi teman-teman sekalian. Supaya generasi muda seperti kita mau untuk melestarikan dan mengenalkan batik.
Batik merupakan salah satu budaya dan juga warisan dari nenek moyang kita sendiri yang tentunya wajib dilestarikan. Karena itu juga sebagai generasi muda kita ingin menjadi contoh bagi teman-teman lainnya. Bagi yang mungkin belum pernah mencoba agar mau mencoba. Bagi yang belum pernah tahu agar mencari tahu,” ucapnya.

Sementara itu, Jan Tielcke, seorang wisatawan berkewarganegaraan Jerman yang berdomisili di Seligenstadt, salah satu kota tertua di Distrik Offenbach, Jerman, menceritakan pengalamannya tiga tahun lalu. Saat memperkenalkan batik ke warga lokal dan anak muda di sana.
“Melalui lokakarya intensif, para pemuda Jerman tidak hanya terpukau oleh nilai seni batik canting asli. Tetapi juga mulai menghargai proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu lama,” ucapnya.
