Mabur.co – Ketika masih duduk di bangku sekolah, pasti pernah mendapatkan penugasan berupa melukis motif batik dan sebagian besar biasanya akan menggambar motif batik parang.
Dilansir dari batiktulisgiriloyo.com, Sabtu (3/10/2026), dijelaskan, istilah batik parang berasal dari kata pereng yang berarti lereng.
Artinya, bentuk motif batik parang berupa huruf “S”. Digambar secara berkaitan satu sama lain dan membentuk diagonal miring layaknya lereng gunung.
Susunan bentuk “S” seolah menggambarkan ombak samudra yang tidak pernah habis hingga akhir zaman kelak.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa batik dengan motif parang justru berasal dari kata “karang” yang berarti tebing-tebing di sekitar pantai.
Setiap daerah di Indonesia pada dasarnya memiliki setidaknya satu motif batik yang terkenal. Apabila di wilayah Yogyakarta terkenal dengan motif batik kawung, maka di Solo pun juga memiliki motif batik parang.
Motif batik ini termasuk yang mudah ditemui dengan bentuk khas seperti huruf “S” yang digambar secara berkaitan satu sama lain dan miring berurutan.
Tak Boleh Menyerah
Filosofi utama dari motif batik parang ini adalah supaya sebagai manusia tidak boleh menyerah terhadap hidup, ibarat ombak laut yang tidak berhenti bergerak. Huruf “S” yang digambar secara berkaitan satu sama lain dan miring berurutan itu jika dilihat kembali seperti bentuk ombak di laut yang sempurna.
Batik parang memang merupakan gambaran bahwa kain yang digunakan belumlah rusak. Artinya sebagai manusia masih bisa memperbaiki diri.
Keterkaitan motif satu sama lain seolah menggambarkan bahwa anak akan melanjutkan perjuangan dari orang tuanya.
Lalu pada garis diagonal yang lurus melambangkan penghormatan, cita-cita, dan kesetiaan. Parang juga berarti perang.
Para raja Jawa dan kesatria Jawa selalu memakai batik parang yang berarti perang melawan hawa nafsu setiap hari, terus menerus.
Sebagai raja pertama Kesultanan Mataram, Sultan Danang Sutawijaya yang menciptakan motif batik parang.
Terinspirasi dari Bebatuan Karang di Pantai Selatan
Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa atau Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama di Jawa ini terinsipirasi dari bebatuan karang di Pantai Selatan.
Danang yang tengah bermeditasi, kemudian memperhatikan ombak yang memecah bebatuan di bibir pantai. Kekuatan ombak inilah yang menjadi filosofi batik parang.
Motif Parang Rusak Barong
Sultan Agung Hanyakrakusuma selaku raja ketiga Kesultanan Mataram kemudian mengembangkan motif batik parang, yaitu parang rusak barong.
Barong yang berarti singa merupakan lambang besarnya kekuasaan sang raja. Ukuran kainnya pun lebih lebar dibandingkan batik-batik lain yakni 20 sentimeter.
Di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Kesultanan Mataram berkembang pesat sehingga menjadi kerajaan terbesar di Jawa.
Sultan Agung Hanyakrakusuma memerintah sejak 1613 hingga 1645. Selama menciptakan batik parang rusak barong, sang sultan merenungi hidupnya sebagai raja.
Kekuasaan yang dimilikinya memang besar di mata manusia lain, tapi di hadapan Tuhan, dia begitu kecil. ***
