Mabur.co – Tari Golek Menak adalah salah satu tari tradisional Indonesia yang berasal dari Yogyakarta dan memiliki sejarah sendiri.
Tari ini mulanya diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan gerakannya terinspirasi dari Wayang Golek Menak.
Sesuai dengan nama tariannya, nama gerakan, alur cerita, tata busana dan tokoh dari Tari Golek Menak ini adalah salah satu tarian tradisional yang memiliki nilai seni tinggi.
Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (2/10/2026), Tari Golek Menak pada mulanya dipentaskan pada acara peringatan hari lahir sang penguasa Yogyakarta pada 1943 lalu.
Kemudian, tari ini tersingkirkan karena kondisi politik Indonesia yang sedang kacau, tetapi masih tetap dilestarikan oleh balai tari keraton.
Lalu, lebih dari 4 dekade kemudian, Sri Sultan menugaskan 6 lembaga tari untuk menyempurnakan Tari Golek Menak pada 1988.
Tari Klasik
Tari Golek Menak adalah salah satu tari klasik dengan gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Penciptaannya berawal dari ide sang sultan usai menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada 1941.
Tari ciptaan Sri Sultan HB IX ini juga disebut sebagai Beksan Golek Menak atau Beksan Menak yang memiliki arti yaitu menarikan Wayang Golek Menak.
Karena sang sultan sangat mencintai dan menyukai budaya wayang orang, maka Sri Sultan pun berencana untuk membuat sebuah pagelaran dengan menampilkan tarian wayang orang.
Untuk melaksanakan ide tersebut, maka pada 1941 sang sultan memanggil para pakar tari yang dipimpin oleh K.R.T Purbaningrat dan dibantu oleh K.R.T Brongtodiningrat, Pangeran Suryo Brongto, K.R.T Madukusumo, K.R.T Wiradipraja, RW Hendramardawa, K.R.T Martadipura, RW Larassumbaga, dan RB Kuswaraga.
Memakan Waktu Lama
Proses penciptaan Tari Golek Menak serta latihan memakan waktu yang cukup lama. Pagelaran perdananya pun akhirnya terlaksana pada 1943 dan diadakan di keraton untuk memperingati hari ulang tahun sultan.
Pementasan perdana tersebut dianggap masih kurang sempurna, dikarenakan tata busana masih bentuk gladi resik.
Namun dari pementasan perdana tersebut, mampu menampilkan tiga karakter, yaitu: tipe karakter putri untuk peran Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupelaeli, tipe karakter putra halus untuk Raden Maktal, dan tipe karakter laki-laki gagah untuk Prabu Dirgamaruta.
Ketiga tipe karakter tersebut, ditampilkan dalam bentuk dua beksa yaitu perang antara Dewi Sudarawerti yang melawan Dewi Sirtupelaeli, dan perang yang terjadi antara Prabu Dirgamaruta yang melawan Raden Maktal. ***
