Sutan Takdir Alisjahbana dan ‘Dian yang Tak Kunjung Padam’

5 Min Read
Indonesian romance novel cover: a close-up of a woman in the foreground with a man behind her and a village scene in the background, title Dian Yang Tak Kunjung Padam at top.
Sampul novel Dian yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana. Foto: Goodreads

Mabur.co – Sastrawan dan akademisi legendaris Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), dikenal sebagai sastrawan produktif Indonesia dengan visi keindonesiaan yang menarik.

Hal itu salah satunya tercermin melalui karyanya yang terbit pertama kali di tahun 1932, yaitu novel yang berjudul Dian yang Tak Kunjung Padam karangan STA.

Riset pustaka yang dilakukan mabur.co, Minggu (28/6/2026), melalui situs indonesiakaya.com menjelaskan bahwa novel keluaran Balai Pustaka ini mengangkat tema kisah cinta.

Kisah cinta tersebut terhalang status sosial antara pemuda miskin dan perempuan keturunan bangsawan dengan latar Kota Palembang dan Sungai Musi.

Setelah perilisannya berjalan, novel ini mendapat apresiasi besar dari masyarakat hingga beberapa kali melakukan cetak ulang.

Tercatat sampai 1993, Dian yang Tak Kunjung Padam telah dicetak ulang sebanyak 13 kali.an bangsawan dengan latar Kota Palembang dan Sungai Musi.

Kisah Menarik

Novel tersebut berkisah menarik tentang Yasin, pemuda “uluan” yang miskin. “Uluan” merujuk pada masyarakat etnis yang berada di luar Palembang, biasanya berasal dari pegunungan di barat Sumatera Selatan.

Yasin hanya tinggal bersama sang ibu karena ayahnya telah meninggal. Suatu hari Yasin pergi naik perahu ke Palembang dan tak sengaja bertemu Molek, gadis keturunan bangsawan.

Pertemuan tersebut rupanya meninggalkan bekas mendalam di hati keduanya. Yasin jatuh cinta, kemudian memberanikan diri mengirimkan surat pada Molek yang ia selipkan di tembok tempat Molek biasa mandi.

Keduanya terus saling berbalas surat, hingga akhirnya Yasin melamar Molek pada orang tuanya. Akan tetapi Raden Makhmud, orang tua Molek, menolak lamaran Yasin.

Alasannya karena ia merasa Yasin tak sepadan dengan Molek. Kedua orang tua Molek tak ingin kebangsawanan mereka tercemar oleh pria miskin dari pinggiran. Meskipun cintanya pada Yasin besar, Molek merasa harus menaati orang tuanya.

Tapi setelah Molek menikahi pria pilihan orang tuanya, ia merasa tidak bahagia, sementara terus bersurat dengan Yasin untuk menumpahkan keluh kesahnya terhadap hidup yang ia rasa sepi.

Nasib memang tak berpihak pada Yasin. Molek akhirnya meninggal dunia. Tak lama ibunya pun sakit dan berpulang.

Kehilangan bertubi-tubi ini membuat Yasin sangat terpukul. Ia memilih mengasingkan diri di Gunung Seminung.

Ia hidup sendirian, bekerja keras membanting tulang. Yasin merasa dunia tak lagi dapat memberikannya kebahagiaan, maka ia akan meraihnya dengan jiwanya, sekaligus Yasin ingin bersatu lagi dengan Molek meskipun tidak secara fisik.

Menuju akhir kisah, diceritakan bagaimana Yasin di masa tuanya bertemu dengan sosok yang mirip dengan dirinya di masa muda dan masih dimabuk cinta.

Adalah Rahman, seorang pemuda yang tersesat dan tak sengaja bertemu Yasin. Pemuda ini membawa kabur perempuan yang dicintainya, karena tidak disetujui oleh orang tua si perempuan.

Akhir dari novel ini memang sengaja dibuat open ending, sehingga pembaca bisa membayangkan sendiri bagaimana Molek dan Yasin akhirnya bersatu.

Sutan Takdir Alisjahbana menceritakan kisah Yasin dan Molek dalam alur maju dan mundur dengan gaya bahasa penuh dengan pengandaian dan hiperbola. Sehingga menjadikan alur cerita dalam novel ini indah sekaligus membutuhkan konsentrasi untuk dipahami.

Seperti judulnya, mungkin kita akan berpikir makna kata ‘dian’ dalam judul. Rupanya ‘dian’ yang dimaksud adalah lampu teplok yang biasa digunakan sebelum listrik tersedia secara massal. Pada lampu tradisional ini cahaya dihasilkan oleh api yang menyala.

Mungkin sang penulis ingin menggambarkan kisah cinta antara Yasin dan Molek layaknya pijar api yang tak kunjung padam. Membakar ke dalam sekaligus menyinari sekelilingnya.

Mendobrak Kakunya Adat dan Kelas Sosial

Novel ini mendobrak kakunya adat dan kelas sosial. Dalam pemikiran Sutan yang modern, perbedaan status dan kelas sosial tak lagi relevan dalam menjalin hubungan.

Sutan Takdir Alisjahbana memang dikenal pro modernisme. Baginya Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa Barat.

Hal tersebut bisa dicapai melalui Bahasa Indonesia modern yang memayungi segala bidang dan memudahkan penyebaran pengetahuan.

Ia kemudian juga menulis buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia pada 1936 yang masih digunakan hingga sekarang.

Selain Dian yang Tak Kunjung Padam, beberapa karya populer lainnya dari Sutan Takdir Alisjahbana antara lain Tak Putus Dirundung Malang (1929), Layar Terkembang (1936), dan Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940). ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment