Mabur.co – Setelah Keraton Yogyakarta selesai menggelar tradisi Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, kali ini giliran Keraton Mangkunegaran yang menggelar tradisi Tingalan Jumenengan Dalem KGPAA Mangkunegara X.
Meski sama-sama digelar untuk memperingati hari kenaikan takhta kedua raja, namun terdapat perbedaan mendasar dalam pelaksanaan tradisi di kedua kerajaan pecahan Mataram Islam ini.
Jika Keraton Yogyakarta menggelar tradisi Tingalan Jumenengan Dalem secara tertutup, khusus untuk lingkungan keluarga keraton, maka Keraton Mangkunegaran menggelar tradisi ini secara terbuka dengan melibatkan berbagai kalangan masyarakat.
Pertanyaannya, kenapa pelaksanaan tradisi Tingalan Jumenengan di kedua keraton bersaudara ini bisa jauh berbeda? Kenapa pula Keraton Yogya memilih menggelar tradisi ini secara lebih tertutup dan terbatas untuk kalangan tertentu?
Sebagaimana dilansir dari RRI, Pura Mangkunegaran menyelenggarakan tradisi Tingalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara X pada Selasa (27/1/2026). Peringatan ini menandai empat tahun kenaikan takhta KGPAA Mangkunegaran X di tahun ke-4.
Prosesi ritual adat Tingalan Jumenengan Dalem ini digelar secara meriah bertempat di Pendopo Ageng Mangkunegaran. Sebanyak 800 tamu undangan hadir dalam acara ini. Termasuk juga pelibatan 1.000 orang masyarakat, terdiri dari siswa sekolah hingga warga sekitar.
Sejumlah tamu undangan yang hadir bahkan tak sedikit merupakan para tokoh terkemuka di negeri ini. Mulai dari artis, pejabat negara, hingga kerabat kerajaan.
Di antaranya artis Sherina Munaf, istri Wakil Gubernur DIY sekaligus permaisuri Pura Pakualaman, KGBRay Paku Alam X, politisi PDIP Bambang Wuryanto atau biasa disapa Bambang Pacul, hingga Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu, pelaksanaan tradisi Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X beberapa waktu lalu digelar secara tertutup.
Bertempat di lingkungan inti keraton, acara hanya dihadiri keluarga dan kerabat keraton. Mulai dari prosesi Ngebluk, Ngapem, hingga Sugengan. Tanpa ada tamu undangan.
Pelibatan masyarakat umum hanya dilaksanakan saat prosesi ritual Labuhan. Tradisi Labuhan tahun ini digelar di 4 lokasi berbeda, yakni Gunung Merapi, Gunung Lawu, Pantai Parangkusumo, dan Dlepih Kahyangan.
Selain sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun, pelaksanaan tradisi Tingalan Jumenengan di Keraton Yogyakarta ini digelar secara tertutup, karena lebih mengutamakan kekhidmatan dan kesakralan acara.
Bagi Keraton Yogyakarta, prosesi peringatan kenaikan sultan sebagai raja merupakan prosesi ritual sakral yang lebih mengutamakan nilai-nilai spiritual, bukan hanya perayaan publik yang bersifat terbuka. ***



