Mabur.co – Bulan Ramadan 1447 Hijriah tinggal menghitung hari. Bulan suci yang satu ini sangat lekat dengan tradisi-tradisi keagamaan yang khas.
Termasuk berbagai acara pendukung di dalamnya, seperti buka puasa bersama, sahur on the road, mudik lebaran, dan seterusnya.
Selain itu, ada satu tradisi unik lainnya menjelang bulan Ramadan yang biasanya hadir di layar kaca (serta iklan YouTube untuk masa sekarang), yakni munculnya iklan-iklan sirup (biasanya sirup Marjan) yang mulai menghiasi laman-laman advertising atau commercial break suatu stasiun televisi maupun iklan selingan di YouTube.
Ya, kehadiran iklan sirup menjadi sangat ikonik dan khas, sebagai salah satu penanda bahwa bulan Ramadan akan tiba sebentar lagi. Sehingga diharapkan para anggota keluarga di rumah sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan berbagai acara maupun kegiatan-kegiatan seru.
Umumnya iklan sirup dimunculkan sebagai minuman pembuka saat berbuka puasa. Karena orang-orang banyak menjadikan minuman berbahan sirup (es buah, es blewah, dan lain-lain) sebagai salah satu hidangan pembuka kala waktu berbuka tiba.
Kesegaran sirup dengan varian rasa yang beraneka ragam membuat keberadaannya mudah diterima oleh masyarakat, serta kerap diaplikasikan dalam kegiatan berbuka sehari-hari.
Bukan Sekadar Strategi Promosi
Dilansir dari laman Kilas24, kemunculan iklan sirup selama menjelang dan ketika Ramadan tiba, bukanlah suatu ketidaksengajaan, melainkan memang sudah dirancang sedemikian rupa, agar menciptakan branding yang kuat di benak masyarakat.
Dalam hal ini, produsen minuman sirup ingin menanamkan kebutuhan akan sirup selama bulan Ramadan, terutama saat berbuka puasa. Sehingga kehadirannya diharapkan mampu “mengingatkan” orang bahwa sirup adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidangan berbuka puasa.
Selain itu, iklan sirup juga kerap menggunakan pendekatan flighting, yakni pendekatan di mana iklan ini hanya akan muncul pada periode tertentu saja.
Terlebih harga slot iklan di televisi maupun media sosial (terutama YouTube) yang semakin mahal juga memaksa perusahaan sirup untuk memutar otak, agar bisa muncul di saat yang tepat, tanpa perlu mengeluarkan banyak modal.
Dengan tradisi keberadaan sirup yang sudah begitu melekat di kalangan keluarga, supermarket, jajanan pasar, hingga menu-menu takjil di banyak masjid di seluruh Nusantara, membuat branding sirup tak usah diragukan lagi efektivitasnya.
Sehingga ketika orang mengingat bulan Ramadan, di situlah orang juga ingat dengan iklan sirup dan kesegaran yang ditawarkan. (*)



