Mabur.co- Kalimantan memiliki spesies badak terkecil dan terlangka di dunia yang populasinya hanya tinggal dua ekor.
Keduanya ditemukan di hutan provinsi Kalimantan Timur. Seekor bernama Pari masih hidup di alam liar, sementara Pahu berada di Suaka Badak Kelian, keduanya sama-sama badak betina.
Kementerian Kehutanan kini menyiapkan relokasi dan penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) untuk menyelamatkan spesies langka ini.
Dengan metode surrogate mother, embrio bisa dilahirkan dari induk pengganti. Namun, persoalan tak berhenti di sana.
Ancaman perburuan, inbreeding, dan rusaknya habitat tetap jadi tantangan besar. Menyelamatkan badak bukan sekadar teknologi, tapi soal komitmen menjaga warisan terakhir hutan.
Badak Kalimantan atau badak Sumatra sub spesies Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) saat ini berada dalam kondisi sangat kritis.
Sejumlah laporan resmi pemerintah dan publikasi lembaga konservasi hingga akhir 2025 mencatat bahwa dua individu badak Kalimantan masih teridentifikasi dan terpantau keberadaannya.
Dilansir dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menyebutkan, pada 2025, badak di Kalimantan ada dua individu yang dikenal dengan nama Pahu dan Pari.
Pahu merupakan badak betina yang kini berada di fasilitas konservasi Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur. Setelah dipindahkan dari habitat alaminya untuk kepentingan perlindungan dan pemantauan intensif.
Sementara itu, Pari dilaporkan sebagai satu-satunya badak Kalimantan yang hingga kini masih terdeteksi hidup di alam liar.
Menurut keterangan Kementerian Kehutanan, pemindahan Pahu dilakukan sebagai langkah konservasi darurat menyusul meningkatnya ancaman kepunahan akibat tekanan terhadap habitat, keterbatasan ruang jelajah, serta minimnya peluang reproduksi alami.
Pemerintah menyatakan relokasi tersebut merupakan opsi terakhir untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup badak Kalimantan melalui pengelolaan yang lebih terkontrol.
Secara taksonomi, badak Kalimantan merupakan bagian dari spesies badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), yang oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam pembaruan IUCN Red List 2024–2025 dikategorikan berstatus critically endangered atau terancam punah secara kritis.
Populasi badak Sumatra secara keseluruhan diperkirakan berjumlah kurang dari 100 individu dan tersebar di sejumlah kantong konservasi di Indonesia.
Fragmentasi habitat, perburuan di masa lalu, serta keterisolasian populasi menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan badak Sumatra, termasuk sub spesies Kalimantan.
Populasi yang sangat kecil meningkatkan risiko kegagalan reproduksi alami dan memperbesar ancaman kepunahan fungsional.
Kondisi badak Kalimantan mencerminkan tantangan serius dalam pengelolaan konservasi satwa liar di Indonesia.
Perlindungan habitat yang terlambat, tekanan terhadap lanskap hutan, serta lemahnya konektivitas kawasan menjadi faktor struktural yang mendorong penurunan populasi hingga berada pada titik kritis.
Dalam konteks kebijakan lingkungan, pemerintah menyatakan komitmennya untuk memperkuat perlindungan habitat, pemantauan berbasis sains, serta kerja sama dengan lembaga konservasi nasional dan internasional.
Namun, dengan jumlah individu yang sangat terbatas, masa depan badak Kalimantan tetap berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan perhatian jangka panjang yang berkelanjutan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bakal mengembangbiakkan dua badak Kalimantan, lantaran populasinya kini hanya tersisa dua ekor di Kalimantan Timur.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko, menyebut pihaknya akan melakukan assisted reproductive technology (ART) atau asistensi reproduksi menggunakan teknologi.
“ART menjadi sangat penting karena dua-duanya betina, jadi harus ada pengumpulan oosit, pengumpulan sperma dikawinkan. Lalu nanti dimasukkan ke surrogate mother dan dilahirkan untuk menyelamatkan badak yang ada di Kalimantan,” ungkapnya, dilansir Kompas.com, Sabtu (28/2/2026).
Satyawan menjelaskan, badak itu bernama Pari dan Pahu. Keduanya juga akan direlokasi untuk menambah populasinya.
Penyelamatan populasi badak Kalimantan dan badak Jawa mengacu pada pengalaman suksesnya kelahiran beberapa individu badak di Suaka Rhino Sumatra, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur.
Sementara ini, pihaknya juga melakukan translokasi badak Jawa di TNUK ke tempat khusus, yakni Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).
Satyawan menyampaikan, berbagai persiapan translokasi badak mencakup pembangunan fasilitas JRSCA di Desa Ujungjaya, Kabupaten Pandeglang, sebagai habitat baru.
Kedua, memilih individu badak dengan mempertimbangkan haplotipe genetik berbeda untuk menghindari inbreeding.
Survei jalur pergerakan badak dan lokasi pit trap dilakukan untuk penangkapan aman. Selain itu, survei jalur transportasi dari lokasi tangkapan ke JRSCA, termasuk habituasi badak yang akan ditranslokasi, simulasi lapangan, dan finalisasi SOP untuk memastikan seluruh prosedur berjalan lancar.
Serta menyusun pedoman ethical assessment bersama pakar nasional maupun internasional.
“Kami tahu di alam ada tanda-tanda inbreeding depression, misalnya kelainan morfologi. Itu tanda bahwa mereka sudah kawin sedarah, sehingga kami ambil dari dua haploid tipe yang berbeda,” tutur Satyawan.
Satyawan menyatakan, translokasi dilakukan perlahan, untuk mencegah badak stres.
Satyawan memastikan, perburuan badak Jawa di Taman Nasional ini sudah terkendali.
“Kami punya bukti sekarang bahwa badak Jawa sudah menyebar ke area-area yang dulu dihindari karena adanya pemburu. Di ujung ada tiga pos, pengamanan tetap 24 jam per hari, tujuh hari seminggu, 30 atau 31 hari per bulan itu tetap,” katanya. ***



