Bukit Terpencil di Kulon Progo, Lokasi Persembunyian Pejuang Kemerdekaan - Mabur.co

Bukit Terpencil di Kulon Progo, Lokasi Persembunyian Pejuang Kemerdekaan 

Mabur.co – Kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, menyimpan sejumlah tempat bersejarah yang hingga saat ini masih belum banyak diketahui.

Salah satunya adalah Bukit Keker, yang dulu kerap digunakan para pejuang kemerdekaan sebagai tempat persembuyian sekaligus lokasi mengintai musuh. 

Bukit Keker terletak di kawasan Perbukitan Borosewu, tepatnya di Dusun Boro, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo.

Berada sekitar 30 kilometer di barat pusat Kota Yogyakarta, bukit ini sangat tersembunyi dan terlindungi karena berada di wilayah yang cukup terpencil. 

Terlebih bukit ini juga berada di sisi barat Sungai Progo sehingga cukup sulit dijangkau. Untuk mencapainya, kita harus melewati tanjakan yang sangat curam serta jalan berkelok sempit yang sebagian telah rusak. 

Begitu sampai kita akan menemui sebuah bukit kecil berbatu di tengah hutan jati yang sangat lebat. 

Jarak bukit ini dari permukiman terakhir mencapai sekitar 100 meter. Sehingga kita harus berjalan kaki menembus jalan setapak untuk bisa mencapainya. 

“Bukit ini dulu digunakan para pejuang kemerdekaan termasuk Jenderal Abdul Haris Nasution, untuk bersembunyi sekaligus mengintai musuh,” ujar salah seorang warga setempat, Mustoyo (72). 

Jika melongok ke ujung bukit, kita memang akan disuguhi pemandangan luas yang mengarah langsung ke Kota Yogyakarta di sisi timur. 

Sejumlah tempat strategis seperti Nanggulan, Minggir, hingga Moyudan, dapat terlihat dari atas bukit ini. Di mana sejumlah lokasi itu jika ditarik garis lurus ke timur akan mengarah ke wilayah Godean hingga Tugu Jogja. 

“Dulu saat zaman perang pendudukan Belanda (Agresi Militer Belanda ke II), banyak pasukan penjajah berpatroli hingga ke wilayah Nanggulan. Sehingga untuk mengawasinya para pejuang mengintai mereka dari bukit ini,” kata Mustoyo. 

Sejumlah warga sedang mengamati Bukit Keker. (Foto: JH Kusmargana)

Menurut Mustoyo, dinamakan Bukit Keker, karena dahulu bukit ini kerap digunakan sebagai tempat untuk meng-keker musuh. Keker sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti teropong.

Lokasinya yang sangat strategis serta tersembunyi memungkinkan para pejuang kemerdekaan untuk melihat dengan jelas pergerakan musuh dari kejauhan.

Namun tidak akan terlihat oleh pihak musuh itu sendiri.

Sampai saat ini, Bukit Keker masih nampak begitu alami. Tak ada apa pun di tempat ini kecuali hanya batu-batu berukuran besar serta sebuah lincak bambu yang biasa digunakan warga setempat untuk bersantai.

“Memang tidak banyak yang tahu tempat ini. Apalagi sejarahnya. Paling hanya orang sekitar sini saja. Itu pun tidak semua. Hanya orang-orang tua yang tahu,” jelas Mustoyo yang tinggal tak jauh dari bukit ini. 

Meski tidak banyak yang tahu keberadaannya sehingga sangat jarang dikunjungi wisatawan, Bukit Keker tetap dijaga kelestariannya oleh warga sekitar. 

Bahkan pada momen-momen tertentu seperti 17-an, masyarakat setempat kerap mengelar acara renungan untuk mengingat sejarah tempat ini.

Terlebih bukit ini menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Desa Banjarasri bersama sejumlah situs lainnya.

Seperti rumah bekas tempat persembuyian Wakil Panglima Besar TNI, Jenderal Abdul Haris Nasution, hingga Monumen Markas Besar Komando Djawa (MBKD) yang digunakan saat perang gerilya di masa Agresi Militer Belanda ke-II tahun 1948-1949. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *