CLBK dengan Indonesia, Sudah Saatnya STY “Dinaturalisasi”? - Mabur.co

CLBK dengan Indonesia, Sudah Saatnya STY “Dinaturalisasi”?

Mabur.co – Sejak dipecat oleh PSSI pada Januari 2025 lalu, Coach Shin Tae-Yong (STY) sepertinya memang tidak pernah bisa lepas dari Indonesia.

Bagaimana tidak, meskipun ia sudah diberhentikan, namun publik sepakbola tampak masih begitu mencintainya. Namanya masih terus dikumandangkan di mana-mana, termasuk saat timnas Indonesia bertanding, khususnya saat dilatih oleh “antek-antek Belanda”, Patrick Kluivert.

Berulang kali penonton meneriakkan nama “Shin Tae-Yong…. Shin Tae-Yong” sebagai chant (lagu) saat timnas bertanding, terutama ketika timnas sedang tertinggal, mengalami kekalahan, atau tampil tidak sesuai ekspektasi.

Apalagi dengan sosok sang penerjemah, Jeong Seok-Seo (Jeje) yang masih tinggal di Indonesia, dan masih sering tampil di hadapan publik dalam beberapa kesempatan. Termasuk akhirnya “banting setir” jadi seorang YouTuber, dan membahas konten-konten terbaru tentang tim nasional Indonesia saat ini, baik saat masih dilatih Patrick Kluivert, maupun sekarang ketika ditangani oleh John Herdman.

Hal itu seolah menegaskan bahwa “antek-antek Korea” ini lebih betah berada di Indonesia, dan tetap ingin berkontribusi di Indonesia, ketimbang harus menjalani aturan wajib militer (wamil) di Korea, dan seterusnya.

Bahkan pada pertengahan 2026 ini, atau hanya satu setengah tahun sejak dipecat dari kursi timnas sepakbola Indonesia, STY akhirnya benar-benar kembali bekerja di Indonesia, tidak sekadar liburan saja atau bertemu sang penerjemah maupun “antek-antek Korea” lainnya.

STY resmi ditunjuk sebagai Technical Advisor Coach Football 7 (Mini Soccer) Indonesia. Dalam peran barunya ini, STY akan lebih banyak bekerja di balik layar, seperti memberi masukan strategi, kurikulum kepelatihan, dan pengembangan skuad dalam jangka panjang.

Dengan kedekatan STY kepada Indonesia sejak pertama kali melatih timnas sepakbola pada Desember 2019 lalu, serta bagaimana melihat kecintaan publik sepakbola pada sosok STY, yang selangkah lagi (jika tidak dipecat di tengah jalan) mampu membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026, rasanya STY memang lebih pantas untuk “dinaturalisasi” menjadi WNI, sehingga meninggalkan status “antek-antek Korea” yang merupakan negara asalnya.

Hal itu bukannya tanpa sebab. STY sendiri tampak sering mondar-mandir ke Indonesia sejak dipecat PSSI pada awal tahun lalu.

Bahkan, dilansir dari laman Detikcom, Sabtu (2/5/2026), ia juga dipercaya mengibarkan bendera start pada kompetisi pacuan kuda Indonesia’s Horse Racing (IHR) Triple Crown Serie I & Pertiwi Cup 2026 di Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, pada awal April lalu. Selain itu, STY juga dipercaya menyerahkan trofi kepada pemenang perlombaan tersebut.

Sebuah tugas kehormatan yang tidak akan mungkin diserahkan kepada orang biasa, apalagi yang berstatus “antek-antek asing” dari Korea Selatan.

Seolah-olah, setiap ingat nama “STY”, ingatan publik akan langsung tertuju pada Indonesia, layaknya sebuah CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) antara seseorang dengan negara yang sudah lama ia tinggalkan dengan pengalaman yang begitu berkesan.

Dan benar saja, STY akhirnya benar-benar kembali bekerja di Indonesia, meskipun tidak berkecimpung di dunia sepakbola konvensional, yang telah melambungkan namanya hingga saat ini.

Maka dari itu, bukan hanya pemain sepakbola saja yang sebaiknya perlu dinaturalisasi, sosok mantan pelatih seperti STY pun sepertinya juga perlu dinaturalisasi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), agar ke depannya ia tidak perlu lagi mengurus surat izin kerja maupun administrasi kepengurusan lainnya.

Sehingga ia bisa sepenuhnya fokus memberikan sumbangsih terbaik bagi dunia olahraga Indonesia sampai akhir hayatnya.

Harus Belajar (Lagi) Bahasa Indonesia

Namun ada satu hal lainnya yang harus segera dilakukan oleh STY (jika benar-benar jadi WNI).

Ya, dia harus segera belajar berbicara bahasa Indonesia, seperti layaknya sang penerjemah (Jeje). Karena tentunya akan sulit menjadi seorang WNI, jika selalu mengandalkan penerjemah. Sementara berbahasa Inggris pun juga tidak begitu fasih. Padahal sudah banyak orang Indonesia (terutama di perkotaan) yang bisa berbahasa Inggris.

Mungkin itulah yang menyebabkan posisinya sebagai pelatih kepala dicopot oleh PSSI. Karena STY selalu mengucapkan segala sesuatunya dengan bahasa Korea dan mengandalkan bantuan penerjemah (bahkan sampai 2-3 penerjemah untuk bahasa Indonesia/Inggris).

Sehingga banyak pihak pun menafsirkan bahwa STY dipecat karena masalah “komunikasi”.

Meskipun sudah berusia lebih dari setengah abad (56 tahun), tidak ada kata terlambat untuk belajar, termasuk belajar bahasa baru.

Dengan pengalaman sebelumnya selama lima tahun menukangi timnas sepakbola, tentunya STY sudah sedikit mengerti bahasa Indonesia dalam beberapa kata.

Melalui pekerjaan barunya sebagai Technical Advisor Coach Football 7, peluang STY untuk kembali belajar bahasa Indonesia secara fasih kembali terbuka lebar. Sehingga status WNI-nya (jika itu benar-benar terwujud) akan jadi “sempurna”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *