Mabur.co – Sama seperti awal tahun 2025 lalu, awal tahun 2026 ini, PSSI kembali menunjuk pelatih baru untuk menangani timnas senior Indonesia.
John Herdman, pria kelahiran Inggris, resmi dikontrak PSSI selama dua tahun, dengan opsi perpanjangan dua tahun berikutnya.
Jika pada tahun lalu, saat menunjuk legenda Belanda Patrick Kluivert, PSSI memasang target yang begitu ambisius yakni lolos ke Piala Dunia 2026, maka untuk kali ini ceritanya sedikit berbeda. John lebih ditugaskan untuk membangun sepak bola Indonesia secara menyeluruh mulai dari grassroot, tidak spesifik membahas tentang target di turnamen tertentu.
Sebenarnya hal itu tidak jauh berbeda dengan apa yang ditargetkan kepada Patrick Kluivert, hanya saja keterlibatan di Kualifikasi Piala Dunia Round 3 membuat fokus utama lebih mengarah ke sana. Kebetulan publik juga lebih menantikan kiprah Patrick di Kualifikasi Piala Dunia yang memang lebih dekat di depan mata, bukan soal pembinaan yang lebih bersifat jangka panjang.
Tugas Berat di Depan Mata
Membangun sepak bola Indonesia itu ibarat mendirikan sebuah perusahaan dari bawah. Ada terlalu banyak aspek yang harus diperhatikan, dan semuanya harus bersinergi menuju satu tujuan yang sama. Tapi di saat yang bersamaan, masyarakat juga menuntut prestasi secepat kilat. Sehingga perlu strategi khusus untuk bisa menjalankan keduanya sekaligus, baik itu pembinaan maupun prestasi.
Dengan rekam jejaknya yang cukup mentereng di timnas Kanada, terutama setelah mampu membawa mereka lolos ke Piala Dunia 2022, PSSI tentunya berharap bahwa hasil serupa akan ditularkan ke punggawa timnas Indonesia.
Jika menilik ke beberapa tahun terakhir, rencana yang disusun oleh PSSI biasanya hanya akan ditentukan oleh satu hal: HASIL. Ya, hasil di lapangan adalah aspek nomor satu yang menentukan apakah pelatih ini layak dipertahankan atau tidak. Sekalipun itu masih dalam masa kontrak. Karena apa 2pun rencana dan strategi yang sudah dibuat, apabila hasil di lapangan tidak sesuai ekspektasi, maka siap-siap saja pelatih ini angkat kaki dari jabatannya, tidak perlu menunggu kontraknya selesai dan sebagainya.
Padahal, Indonesia bukanlah negara yang memiliki sejarang mentereng di persepakbolaan internasional. Berbagai pelatih asing kelas dunia satu per satu sudah berdatangan ke Indonesia, mulai dari Luis Milla, Shin Tae-Yong yang punya CV Piala Dunia 2018, hingga Patrick Kluivert yang pernah bermain di Piala Dunia 1998. Semuanya selalu gagal di tengah jalan, saat kontraknya masih berjalan.
Dari situ sudah tampak jelas, sehebat apapun pelatihnya, termasuk dengan rekam jejak Piala Dunia sekalipun, tidak pernah ada jaminan untuk bisa langgeng melatih timnas Indonesia.
Seolah-olah kita selalu mengulang impian yang sama setiap tahunnya, yang sampai sekarang belum pernah kesampaian. Baik itu impian menembus Piala Dunia, Piala Asia, Olimpiade, hingga Juara AFF senior, adalah beberapa impian para penggemar yang belum bisa terpenuhi hingga saat ini. Kecuali lolos 16 besar Piala Asia 2023, itu pun cuma lewat jalur peringkat 3 terbaik.
Tidak Seheboh Patrick Kluivert
Kehadiran John Herdman menjadi pelatih timnas Indonesia bisa dibilang tidak sebombastis saat Patrick Kluivert pertama kali diperkenalkan pada 6 Januari 2025 lalu. Apalagi saat itu Patrick menggantikan sosok Shin Tae-Yong, yang telah menukangi Indonesia selama lima tahun, dan masih berjuang di Kualifikasi Piala Dunia Round 3.
Sejak pertama kali informasi tersebut beredar, bagaimana ia diperkenalkan kepada publik, serta ekspektasi yang dibebankan, semuanya tampak begitu heboh. Namun pada akhirnya, hasil jugalah yang menentukan. Tanpa harus menunggu kontraknya usai, Patrick segera diberhentikan pasca-timnas Indonesia takluk dari Irak 0-1 di Kualifikasi Piala Dunia round 4.
Bahkan sejak saat itu, timnas senior belum pernah bermain lagi dalam pertandingan resmi hingga saat ini. Sebuah tamparan keras bagi PSSI hanya demi impian klasik menembus panggung sebesar Piala Dunia. Sementara fondasi internal mereka masih begitu keropos dan rentan dengan kerusakan di sana-sini.
Bagaimana kemudian nasib John Herdman di timnas Indonesia? Apakah bisa benar-benar memenuhi target yang dibebankan oleh PSSI? Apakah dia bisa bekerja sekaligus tinggal di Indonesia selama dua tahun masa kontraknya?
Menarik untuk menantikan kiprahnya lebih lanjut. (*)



