Mengapa Orang Cenderung Lebih Menyukai Masa Lalu?

Mabur.co – “Saya dulu pernah main ke daerah pedalaman A, dan bisa membantu banyak orang di sana.”

“Kalau dulu mantan saya sering banget beliin saya kado, apalagi pas ulang tahun.”

“Makin ke sini rasanya platform Y sudah tidak ramah lagi bagi para pembuat konten, padahal dulu pas saya baru merintis nggak seperti ini.”

Ungkapan-ungkapan di atas (atau ungkapan sejenis lainnya) pasti seringkali Anda dengar dari orang-orang di sekitar Anda, maupun di media sosial.

Ya, kebanyakan orang memang lebih suka membicarakan keindahan masa lalu (nostalgia), kemudian membandingkannya dengan ketidak-indahan yang terjadi di zaman sekarang.

Padahal, masa lalu tidak melulu selalu lebih baik dari kehidupan sekarang, namun tetap saja, orang-orang lebih suka mengkonotasikan bahwa masa lalu itu lebih baik, sedangkan zaman now itu pasti lebih buruk.

Dilansir dari laman blog Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Terdapat pola khusus yang membuat orang-orang selalu merasa bahwa masa lalu itu (seolah-olah) tampak lebih baik dari masa sekarang. Meskipun kenyataannya tidaklah selalu demikian.

Kegiatan menyukai masa lalu (nostalgia) dianggap sebagai mekanisme pertahanan emosional, meredakan stres, meningkatkan suasana hati (mood), serta memberikan “ilusi” rasa aman.

Selain itu, masa lalu juga sering dianggap lebih indah (rosy retrospection), karena otak cenderung mengingat kenangan positif dan melupakan kenangan buruk.

Tidak hanya itu, masa lalu juga menawarkan kenyamanan, stabilitas, dan pelarian, saat menghadapi tekanan hidup yang dialami di masa kini.

Meskipun lagi-lagi, hal itu tidak selalu berlaku demikian.

Berikut adalah sejumlah faktor utama, mengapa manusia cenderung menyukai masa lalu ketimbang masa sekarang:

Nostalgia sebagai Mekanisme Pertahanan (Defensive Mechanism)

Ketika hidup di masa kini terasa berat atau tidak pasti, otak cenderung beralih pada kenangan yang terjadi di masa lalu, yang dianggap lebih familiar dan aman untuk menstabilkan emosi.

Rosy Retrospection (Bias Positif)

Psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung mem-filter memori, yakni dengan menonjolkan momen yang menyenangkan, dan melupakan momen yang menyedihkan.

Hal ini membuat masa lalu tampak selalu lebih indah dan bahagia, daripada kenyataan yang sesungguhnya.

Regulasi Emosi dan Stres

Mengenang masa lalu juga terbukti efektif meningkatkan mood, meredakan stres, dan mengurangi rasa kesepian. Meskipun sifatnya lebih kepada ilusi.

Kenyamanan dari Kepastian

Berbeda dengan masa depan yang penuh ketidakpastian, serta masa kini yang masih penuh dengan tantangan, kehidupan masa lalu sudah diketahui jalannya. Ini memberikan rasa kendali dan kenyamanan secara emosional.

Pelarian dari Tekanan Masa Kini

Di tengah perubahan cepat yang terjadi dari waktu ke waktu, kembali ke kenangan masa lalu (nostalgia) menjadi cara untuk bernapas dan merasa lebih optimistis.

Identitas dan Koneksi Sosial

Nostalgia juga membantu individu agar terhubung kembali dengan akar diri mereka, keluarga, atau teman lama, yang memperkuat identitas diri dan keterikatan sosial.

***

Meskipun bernostalgia dianggap sesuatu yang wajar, namun jika dilakukan terus menerus tentunya juga tidak akan baik.

Karena seolah-olah Anda hanya terpaku dengan apa yang sudah lewat, dan tidak mau berjuang sekaligus menghadapi apa yang terjadi saat ini.

Namun jika momen nostalgia digunakan secara proporsional, misalnya sebagai bahan evaluasi diri. Ini bisa menjadi cara yang sehat untuk merefleksikan diri, belajar dari kesalahan, serta menghargai perjalanan hidup. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *