Mabur.co – Peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X telah dimulai pada Jumat, 16 Januari 2026, dan akan ditutup pada Selasa, 20 Januari 2026.
Salah satu prosesi pertama yang dijalani dalam tradisi Tingalan Jumenengan Dalem yakni Ngebluk.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari situs resmi Keraton Yogyakarta, Ngebluk adalah istilah bahasa Jawa yang berasal dari suara adonan saat diaduk di dalam wadah (pengaron), yaitu suara “bluk-bluk”.
Secara umum Ngebluk adalah proses pembuatan adonan untuk kue apem, sebagai simbol permohonan maaf kepada Tuhan sekaligus memohon keselamatan raja dan wilayah keraton. Selain itu kue apem juga menjadi simbol makanan pengawal untuk acara sakral, yaitu peringatan tahta raja.
Kue apem ini terbuat dari tepung beras, tape singkong, gula, dan air. Bahan-bahan tersebut diolah untuk membuat dua jenis adonan, yakni apem mustaka (apem besar) dan apem alit (apem kecil). Pertama-tama seluruh bahan tersebut dibersihkan terlebih dahulu, setelah itu diaduk hingga berbunyi “bluk”, lalu didiamkan semalaman.
Setiap proses pembuatan adonan dilakukan oleh Permaisuri dan Putri Dalem, beserta Abdi Dalem Keparak, dan diselenggarakan di Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedhaton mulai pukul 08.00 pagi hingga 12.00 siang secara tertutup.
Ngebluk menjadi penanda dibukanya rangkaian proses Tingalan Jumenengan Dalem, yang biasanya dilangsungkan pada tanggal 27 Rejeb (penanggalan Jawa).
Setelah Ngebluk, prosesi Tingalan Jumenengan Dalem Kesultanan Yogyakarta masih akan berlanjut keesokan harinya, yakni pada Sabtu, 17 Januari 2026, dengan melakukan prosesi Ngapem.
Ngapem adalah prosesi pembuatan kue apem yang sudah mengembang sehari sebelumnya. Prosesi ini nantinya juga akan dilaksanakan secara tertutup. (*)



