Nyekar, Tradisi Ribuan Tahun yang Dilakukan pada Momen Lebaran - Mabur.co

Nyekar, Tradisi Ribuan Tahun yang Dilakukan pada Momen Lebaran

Mabur.co – Nyekar atau berziarah ke makam leluhur menjadi salah satu tradisi yang tak bisa dilepaskan dari perayaan hari raya Idulfitri atau Lebaran. 

Seusai melaksanakan ibadah Salat Id dan berkumpul bersama keluarga, masyarakat biasanya akan menyempatkan diri untuk berziarah ke makam orang yang telah meninggal. 

Selain untuk mendoakan anggota keluarga yang lebih dulu berpulang, tradisi Nyekar ini juga biasanya dilakukan masyarakat khususnya para perantau untuk mengenalkan silsilah leluhur maupun asal-usul keluarga kepada anak dan cucu mereka. 

Hal itu pulalah yang juga dilakukan Purnomo, salah seorang warga Temon, Kulon Progo yang selama ini hidup merantau di Jakarta. 

Memanfaatkan momen mudik di kampung halaman, ia pun nampak mengajak anak dan istrinya untuk mengunjungi makam kakeknya di kompleks makam kampung. 

“Mumpung pulang kampung sekalian nyekar ke makam buyut. Karena kalau tidak pas Lebaran mau kapan lagi,” katanya.

Dilihat dari sejarahnya, tradisi ziarah kubur atau nyekar sendiri sudah ada sejak ribuan tahun silam. Termasuk di era Nabi Muhammad SAW.

Sejumlah hadis menyebutkan, nabi pernah menancapkan pelepah kurma yang masih hijau pada sebuah makam, menjadi landasan hukum umat Islam dalam melaksanakan ziarah kubur hingga saat ini.

Pakar Antropologi Universitas Brawijaya, Ary Budianto, menyebut,dari asal-usul bahasa, kata nyekar (sekar) sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti doa dan bunga. 

Pada zaman dahulu orang Jawa kerap menyebut berdoa sebagai nyekar. Sedangkan bunga kerap dimaknai sebagai sesuatu yang wangi. 

Dari situlah istilah nyekar kemudian digunakan untuk menyebut kegiatan mendoakan sekaligus mengunjungi makam dengan menaburkan bunga di atasnya bersama wangi-wangian.

Bunga sendiri dikatakan dipilih sebagai pengganti pelepah kurma yang ditancapkan Nabi Muhammad karena lebih mudah ditemukan di Indonesia. 

Selain itu bagi orang Jawa, bunga tertentu seperti mawar, melati, kenanga, hingga kantil, juga memiliki makna filosofi tertentu yang menyimbolkan harapan dan doa.

Tak hanya sampai di situ, bunga yang masih segar bahkan juga dipercaya akan ikut bertasbih dan mendoakan ahli kubur yang diberikan oleh keluarganya.

Selain dikenal di Indonesia, tradisi nyekar ini sebenarnya juga bisa ditemui di berbagai belahan dunia.

Mulai dari Mesir, Kazakhstan, Iran, India dan negara Arab lainnya. Khususnya negara yang menjalankan tradisi umat islam. 

Hal yang membedakan antara nyekar di Indonesia dengan negara lain adalah jenis bunga yang digunakan.

Hal ini tentu saja sangat terpengaruh dengan jenis tumbuh-tumbuhan maupun bunga yang banyak tumbuh di masing-masing negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *