Pramoedya Ananta Toer Sosok Anomali di Negeri Ini

Mabur.co – Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan kondang di Indonesia yang lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Pria bernama asli Pramoedya Ananta Mastoer ini dikenal sebagai sosok tidak biasa (anomali) yang pernah dimiliki oleh bangsa ini.

Julukan itu bukan terjadi tanpa alasan, sebab Pramoedya pernah memposisikan dirinya sebagai sastrawan yang produktif dan jenius, di tengah kekuasaan penjajah Belanda pada saat itu.

Ia tetap berpegang teguh pada idealismenya terkait kolonialisme dan penguasa domestik, yang banyak dituangkan dalam karya-karya sastra ciptaannya.

Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra yang terdiri dari novel, cerpen, esai, hingga karya terjemahan. Saking hebat dan anomali seorang Pramoedya, karya-karyanya terutama novel dan cerpen banyak diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing di seluruh dunia.

Ia juga menjadi satu-satunya pengarang dari Indonesia yang pernah dinominasikan untuk penghargaan Nobel Sastra, bahkan sampai enam kali.

Di tempat yang berbeda, Ananta Toer juga pernah memenangkan penghargaan internasional bergengsi, seperti Ramon Magsaysay Award tahun 1995, dan Fukuoka Cultural Prize pada tahun 2000 silam.

Berikut adalah penjelasan singkat, mengapa Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai anomali atau “pengecualian” bagi bangsa Indonesia, dilansir dari laman Kompas.

Tetap Produktif di Tengah Penindasan

Pramoedya pernah mendekam sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan selama 10 tahun (1969-1979) di Pulau Buru akibat pelarangan karya dan keterkaitannya dengan Lekra. Di tengah kondisi yang mengerikan tersebut, ia justru mampu menghasilkan karya terbesarnya, Tetralogi Bumi Manusia, dengan cara menuturkannya kepada sesama tahanan karena dilarang menulis.

Konsisten Mengkritik Penguasa Melalui Karya Sastra

Berbeda dengan banyak sastrawan yang menyesuaikan tulisan dengan rezim yang sedang terjadi, Pramoedya dikenal berani mengkritik pemerintah secara terang-terangan. Sikap ini membuatnya dilarang menerbitkan karya selama masa Orde Baru. Namun hal itu justru membawa berkah tersendiri, karena karya-karyanya malah lebih diakui oleh dunia internasional, hingga akhirnya diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa.

Perwakilan Suara Rakyat Kecil

Tulisan-tulisan karya Pramoedya, terutama yang lahir dari pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan, sangat peka terhadap penderitaan rakyat kecil dan sejarah kelam bangsa Indonesia, khususnya di zaman kolonialisme.

Tokoh Kontroversial yang Dihormati

Meskipun banyak karyanya dilarang (bahkan dianggap bermuatan komunisme), Pramoedya tetap diakui sebagai salah satu penulis terbesar Indonesia sepanjang masa. Ia dikenal mampu menembus batas waktu dan ideologi dalam karya-karya yang dihasilkannya.

Pemberontak Budaya

Pramoedya juga dikenal sebagai pemberontak terhadap budaya Jawa feodal, yang telah ia alami sejak kecil, serta menolak sistem aristokrasi dalam pemerintahan. Sikap-sikap itu kemudian juga ia tuangkan dalam berbagai karyanya.

***

Pramoedya Ananta Toer adalah simbol perlawanan rakyat, yang akan terus abadi melalui tulisan. Hal ini menjadi bukti bahwa karya sastra yang jujur mampu menjadi alat yang ampuh untuk melawan penguasa, sekaligus membawa dampak positif bagi bangsa dan negara.

Dan tentu saja, karya-karyanya juga akan terus dikenang sekaligus dilestarikan oleh para penerusnya, sampai kapan pun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *