Rayakan Idulfitri, Keraton Yogya Gelar Tradisi Ngabekten - Mabur.co

Rayakan Idulfitri, Keraton Yogya Gelar Tradisi Ngabekten

Mabur.co – Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat merayakan hari raya Idulfitri 1447 H dengan melaksanakan tradisi Hajad Dalem Ngabekten di kompleks keraton, Jumat-Sabtu (20-21/3/2026).

Tradisi Ngabekten atau sungkeman ini dilakukan oleh seluruh pejabat maupun petinggi keraton termasuk anak cucu dan kerabat Sultan HB X. 

Dikutip akun Instagram @humasjogja serta situs resmi Keraton Yogya, Ngabekten merupakan tradisi adiluhung yang menandai puncak spiritualitas dalam rangkaian Hajad Dalem Grebeg Syawal Dal 1959.

Rangkaian prosesi tradisi Ngabekten ini dilaksanakan secara tertutup sesaat setelah prosesi Grebeg Sawal dimulai. Lokasinya pertama berada di Bangsal Kencana yang merupakan kompleks inti keraton.

Dalam bahasa dan budaya Jawa, Ngabekten sendiri berasal dari kata bekti, yang merupakan bentuk rasa hormat dan bakti. 

Dalam prosesi ini, Ngabekten menjadi bentuk bakti dan penghormatan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X, selayaknya tradisi  sungkeman  yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya saat momentum Lebaran. 

Secara umum prosesi Ngabekten dihaturkan kepada Sultan dengan cara Ngaras Jengku atau mencium lutut Sultan. 

Kecuali, bagi kerabat yang berusia lebih tua dari Sultan, prosesi Ngabekten dilakukan dengan cara Sembah Karna atau mengangkat kedua telapak tangan setinggi daun telinga. 

Sembah Karna ini juga berlaku untuk pangabekten dari Adipati Paku Alam kepada Sri Sultan.

Rangkaian prosesi Ngabekten biasanya dilakukan selama dua hari. Diawali dengan ritual Pisowanan Ngabekten Kakung  (laki-laki) yang diselenggarakan pada hari pertama Jumat  (20/3).

Sedangkan Parakan Ngabekten Putri  (perempuan) diadakan keesokan harinya, pada Sabtu  (21/3). 

Dalam Pisowanan Ngabekten kakung, KGPAA Paku Alam X menjadi yang pertama dalam memberikan pangabekten kepada Sri Sultan HB X. 

Pangabekten kemudian dilanjutkan oleh empat Mantu Dalem Paku Alam X dan para kerabat dekat. 

Setekah itu giliran para pemimpin kabupaten dan kota se-DIY baik Bupati maupun Walikota yang turut menghaturkan sembah baktinya. 

Prosesi berlanjut pada kelompok kedua, yakni Ngabekten Gangsal Jungan. Di sini, para Abdi Dalem Punakawan dengan pangkat Wedana ke atas giliran berkumpul untuk menghaturkan sembah bakti.

Suasana kekeluargaan namun formal begitu terasa saat satu per satu Abdi Dalem senior ini melaksanakan tradisi yang telah terjaga selama berabad-abad. 

Memasuki kelompok ketiga, prosesi Ngabekten beralih ke Tratag Gedhong Prabayeksa untuk prosesi Ngabekten Darah Dalem. 

Di lokasi ini prosesi Ngabekten dilakukan oleh para kerabat Wayah Dalem Kakung atau cucu laki-laki dari Sultan yang pernah bertakhta. 

Rangkaian tradisi Ngabekten hari pertama akan ditutup oleh kelompok keempat, yang dikenal dengan sebutan Ngabekten Mirunggan. 

Di sini, prosesi Ngabekten melibatkan para Abdi Dalem yang menjaga sisi spiritualitas keraton. Mulai dari Kanca Kaji, Kanca Suranata, hingga Kanca Pengulon.

Termasuk juga para Juru Kunci yang setia menjaga situs keraton, baik itu masjid, makam, maupun petilasan suci, turut serta dalam barisan.

Lebih dari sekadar seremoni, Hajad Dalem Ngabekten menjadi ruang di mana garis keturunan, loyalitas, dan rasa syukur bertemu dalam satu sembah sungkem yang tulus kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. *** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *