Sekolah Lansia dan Produktivitas di Usia Senja

Mabur.co –  Usia senja (60 tahun ke atas) identik dengan kesendirian, sakit-sakitan, tidak berdaya, apa-apa harus selalu dibantu/ditemani (biasanya oleh anaknya/tetangga), hingga yang paling parah bahkan harus disuapi untuk bisa makan sehari-hari. Deskripsi yang hampir mirip dengan bayi yang baru lahir.

Hadirnya Sekolah Lansia yang diprakarsai oleh BKKBN pada pertengahan tahun 2022 lalu menjadi sebuah terobosan baru. Sekolah ini menyediakan pelatihan di berbagai bidang, seperti kesehatan yang mencakup nutrisi, pencegahan penyakit, serta olahraga ringan. Lalu ada keterampilan hidup meliputi memasak, menjahit, dan kerajinan. Kemudian ada teknologi (termasuk media sosial), keagamaan, keuangan, hobi, dan interaksi sosial dengan sesama lansia.

Seluruh aktivitas tadi bertujuan untuk membuat mereka bisa terus aktif, mandiri, dan produktif melalui kegiatan yang menyenangkan. Para lansia ini juga diberi kesempatan untuk melakukan diskusi, praktik, dan kegiatan rekreasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Selain membantu para lansia ini untuk tetap aktif dan produktif, program ini juga gratis tanpa memerlukan biaya pendaftaran maupun SPP bulanan dan sejenisnya. Bahkan, sekolah ini juga mengadakan wisuda layaknya perguruan tinggi. Sehingga lulusan dari Sekolah Lansia ini benar-benar bisa menerapkan apa yang telah dipelajari selama satu tahun masa pelatihan, sekaligus bisa menghapus stigma negatif tentang lansia yang sudah melekat sekian lama.

Mewujudkan Lansia “Modern”

Tidak dapat dipungkiri, lansia tetaplah bagian dari penduduk Republik Indonesia yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pihak, khususnya Pemerintah. Di saat semua orang selalu berpikir tentang menciptakan sesuatu untuk generasi muda, gen Z, Indonesia Emas, dan semacamnya, masih ada sebagian kecil penduduk yang memang sudah tidak terlalu produktif (less-productive), dan mungkin masa depannya juga tidak akan lama lagi, namun tetap saja sumbangsih mereka sangatlah diperlukan bagi kelangsungan pembangunan di negeri ini.

Belum lagi dengan stigma lansia yang sudah disebutkan di awal, membuat keberadaan mereka semakin dianggap void (tidak ada), dan tidak terurus sama sekali. Padahal, pengalamannya di bidang-bidang tertentu bisa menjadi sesuatu yang sangat mungkin untuk diajarkan kepada generasi muda.

Lansia masih bisa banyak dilibatkan dalam berbagai hal yang sifatnya sharing knowledge (berbagi pengetahuan) atau pengalaman, seperti penasihat (advisor), guru, dan semacamnya.

Namun satu hal yang perlu diingat, jangan sampai para lansia ini dibiarkan terus-menerus membahas tentang masa lalunya, yang kemungkinan besar sudah tidak lagi relevan dengan kondisi di masa sekarang. Itu juga salah satu kebiasaan klasik dari para lansia, yang umumnya tidak disukai oleh generasi penerusnya. Seolah-olah mereka hanya hidup di masa lalu, dan tidak memiliki apa-apa lagi di masa sekarang. Selain itu, lansia juga seringkali menganggap masa lalunya (saat masih muda) lebih wah daripada masa kini.

Untuk itulah, dengan terbentuknya “komunitas lansia” yang berasal dari Sekolah Lansia, hal ini membuat mereka otomatis memiliki “teman sebaya”, sehingga bisa bercerita tentang masa lalu mereka masing-masing, tanpa perlu merepotkan generasi muda.

Akan jauh lebih baik, apabila lansia bisa hidup layaknya anak-anak muda. Meskipun usianya sudah senja, mereka tetap memiliki hidup di “masa kini” dan tetap berdaya, tanpa harus merengek diurus oleh anaknya yang sibuk, atau bahkan diurus oleh tetangga sebelah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *