Surabaya, Panah Sawunggaling Kembali Dilepas di Lidah Wetan

3 Min Read
Warrior with long hair and a headband rides a black horse at the front of a charging army, in a fantasy battle scene.
Raden Sawunggaling pahlawan dari Kota Pahlawan. (Foto Ilustrasi Bedar Sejarah)

Mabur.co – Minggu pagi 18 Oktober 2026, jam 06.30 WIB, Lidah Wetan tidak seperti biasanya. Bukan suara motor trail, tapi suara busur.

Festival Bulan Sawunggaling 2026 memasuki puncak acara pada Minggu, 18 Oktober 2026, di kawasan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya, tulis nmpnews.com, dikutip mabur.co, Selasa (20/10/2026).

Pusatnya di Cagar Budaya Makam Raden Sawunggaling hingga Lapangan Poral. Perhelatan yang memadukan jemparingan atau panahan tradisional, kirab budaya, dan pertunjukan seni ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali warisan sejarah Raden Sawunggaling, tokoh legenda Kota Pahlawan, lanjut nmpnews.com.

Siapa Sawunggaling? Dalam Babad Surabaya, ia Joko Berek, anak petani dari Lidah yang lahir dengan bulu seperti ayam jago sawunggaling.

Dibuang, diasuh adipati Blambangan, lalu kembali ke Surabaya jadi Adipati Jayengrono. Mitos jago yang diusir lalu jadi penguasa. Warga Lidah percaya makamnya keramat, diapit pohon asam besar yang tidak pernah ditebang Belanda.

Puncaknya ada dua: Sayemboro Jemparingan Adipati Raden Sawunggaling Piala Wali Kota Surabaya 2026 dan kirab budaya Angkat Budaya R. Sawunggaling.

Jemparingan, Tradisi Memanah Bagian dari Kebudayaan Jawa

Jemparingan bukan lomba panah biasa. Dalam Keraton Ngayogyakarta, jemparingan duduk bersila, busur panjang, target bandul kecil berjarak 30 meter.

Yang dinilai bukan cuma kena, tapi gaya, kesabaran, rasa. Jemparingan, tradisi memanah yang menjadi bagian dari kebudayaan Jawa, tidak sekadar mengandalkan ketepatan bidikan.

Tradisi ini juga lekat dengan latihan konsentrasi, pengendalian diri, dan ketekunan, tulis nmpnews.com.

Tahun ini peserta dibagi jarak: dewasa 30 meter, 18 tahun ke bawah 20 meter, 13 tahun ke bawah 15 meter. Anak SMP pakai sarung, ibu-ibu PKK ikut.

Seperti kata Pramoedya di tetralogi Pulau Buru: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.”

Setelah jemparingan, kirab. Peserta bergerak dari kawasan makam menuju Lapangan Poral dengan iringan dan penampilan kelompok budaya, tulis penabersayap.com.

Suroboyo Wani Nguri-uri Budoyo

Prosesi pemberangkatan dikemas dengan unsur jemparingan. Setelah penampilan musik dan suluk, tamu undangan menyerahkan busur panah sebagai bagian dari seremoni sebelum kirab dimulai, tambah penabersayap.com.

Ada Pawai Budaya Salam Suroboyo, ogoh-ogoh Joko Berek raksasa, tari Remo, musik patrol. Warga Sepat Lidah Kulon ikut dengan karnaval Sedekah Bumi di hari yang sama.

LPMK Lidah Wetan bilang ini bentuk penghormatan terhadap tokoh lokal sekaligus upaya merawat tradisi.

Surabaya sering diingat sebagai Kota Pahlawan karena 10 November. Tapi pahlawan lokal seperti Sawunggaling justru yang bikin kampung ingat siapa mereka.

Di tengah apartemen CitraLand yang mengepung sawah Lidah Wetan, busur bambu kemarin pagi mengingatkan: kota ini dulu lahir dari anak ayam yang dibuang, lalu pulang.

Wali Kota, Eri Cahyadi, yang pialanya diperebutkan tidak hadir, tapi pesannya ada di spanduk: “Suroboyo Wani Nguri-uri Budoyo.”

Pukul 11 siang, busur diturunkan. Anak-anak rebutan foto dengan target jemparingan yang sudah bolong.

Panah sudah dilepas. Cerita tetap tinggal di Lidah. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar