Tradisi Corat-coret Seragam, Tradisi Kelulusan yang Terus Berlanjut - Mabur.co

Tradisi Corat-coret Seragam, Tradisi Kelulusan yang Terus Berlanjut

Mabur.co-Aksi corat-coret baju seragam yang dilakukan siswa SMA/SMK setelah mereka lulus atau tamat barangkali termasuk salah satu perayaan kelulusan yang tetap bertahan hingga kini.

Tentu karena aksi corat-coret seragam itu, yang kemudian dilanjutkan dengan aksi konvoi di jalan raya adalah bentuk dan ekspresi kebebasan setelah mereka dikungkung dalam kelas dengan tata tertib selama 12 tahun jika dihitung dari sejak SD.

Sosiolog FISIP Unair, Bagong, mengatakan, tradisi corat-coret seragam sekolah yang dilakukan oleh para pelajar tingkat SMA Sederajat usai pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN), kini seolah menjadi budaya yang terus-menerus dilestarikan di hampir seluruh pelosok Tanah Air.

Bahkan kabarnya saat ini tradisi tersebut telah menurun di kalangan siswa SMP dan SD.

Beberapa kalangan menilai tradisi corat-coret seragam mencerminkan pelajar kita yang kini penuh dengan sifat hura-hura dan apatis terhadap orang lain.

Daripada dicorat-coret, alangkah baiknya jika seragam disumbangkan kepada adik kelas atau mereka yang lebih membutuhkan.

Selepas itu, euforia kelulusan biasanya dibarengi dengan konvoi di jalan raya, yang biasanya mengganggu pengguna jalan lain dan menciptakan sejumlah pelanggaran lalu lintas.

“Wajar jika pelajar melakukan euforia kelulusannya. Hal itu jangan dilarang dan pasti tidak bisa kalau dilarang karena mereka adalah anak muda yang sedang melewati masa transisi dan cenderung ingin berekspresi dengan melampiaskan kegembiraan,” katanya dilansir Suara Surabaya.net, Rabu (6/5/2026).

Bagong mengatakan, seharusnya yang dilakukan oleh pihak terkait seperti sekolah, orang tua dan kepolisian bukan menghadang atau menghalangi ekspresi mereka tapi mengalihkan atau menyalurkan dalam bentuk lain.

Seperti mengadakan kegiatan pentas seni, bakti sosial dan lain sebagainya.

“Jangan anak itu disuruh diam di rumah menunggu pengumuman dan diam saja. Itu Justru tidak baik bagi perkembangannya,” terangnya.

Bagong mengatakan juga, jika ada beberapa masyarakat yang kontra dengan aksi pelajar tersebut itu wajar karena ditakutkan pelajar akan kebablasan dan terjerumus pada tindakan yang melanggar hukum atau membahayakan dirinya sendiri.

“Perilaku kerumunan itu rawan disalahgunakan, dalam arti ketika sejumlah pelajar berkumpul bersama, risiko mereka terjerumus itu sangat besar,” paparnya.

Bagong menuturkan, terkait tradisi corat-coret sendiri, menurut Bagong hal itu sudah ada sejak lama dan menjadi budaya tersendiri di kalangan pelajar.

“Saya kira sudah ada sejak lama, bahkan zaman saya pun sudah banyak pelajar corat-coret seragam, ya mungkin sejak 30 tahun lalu. Penyebabnya ya masih terkait dengan masa transisi anak muda itu, dari yang belum memilih beban besar menuju usia dewasa yang memiliki banyak pertimbangan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *