Tugu Bendera 17 Meter yang Menjaga Kemusuk

3 Min Read
Person standing on wide concrete steps in front of a tall, curved dark monument in a park with palm trees and other greenery behind it.
Kawasan Tugu Bendera yang sejuk di pagi hari. (Foto: Bustan Basir Maras)

Kalau Anda melintas di Jalan Wates kilometer 10 di Dusun Sengon Karang, Argomulyo, Sedayu, Bantul, ada tugu yang bentuknya seperti bendera sedang berkibar. Orang setempat menyebutnya Tugu Brimob atau Monumen Palagan Watu.

Tugu itu tidak dibangun untuk gagah-gagahan. Ia dibangun untuk mengingat hari-hari paling berdarah di Sedayu setelah Serangan Umum 1 Maret 1949.

Arif Wachjunadi dalam tulisan “Jejak Perjuangan Brimob” mencatat: Di Yogyakarta ditandai adanya Monumen Brimob Argomulyo, di Dusun Sangon, Sedayu, Bantul. Lokasinya tidak jauh dari Desa Kemusuk tempat kelahiran Presiden RI ke-2 Jenderal Besar Soeharto. Ketika itu pihak Belanda melakukan penyisiran di wilayah Kemusuk dalam perlawanan yang kuat dari Brimob. Dalam peristiwa perlawanan tersebut banyak dari masyarakat ada 202 orang yang menjadi korban dan termasuk 68 anggota Brimob gugur.” Peristiwa itu terjadi Maret akhir 1949.

Mobile Brigade Bertahan Bersama Rakyat

Belanda yang terpukul oleh Serangan Umum, melakukan sweeping ke kampung-kampung yang dianggap basis republik.

Kemusuk dan Sedayu jadi sasaran. Brimob yang waktu itu masih bernama Mobile Brigade, lahir dari peleburan Tokubetsu Keisatsu Tai bentukan Jepang April 1944, seperti ditulis Koropak.co.id, bertahan bersama rakyat dengan senjata seadanya.

Man in a white shirt and a small child walk toward a rice field under a bright blue sky, framed by palm trees and a distant building.
Lanskap persawahan Kemusuk yang sejuk, dilihat dari Tugu Brimob. (Foto: Bustan Basir Maras)

Tidak berhenti di situ. Di Dusun Watu, dusun sebelahnya, perlawanan kedua meletus. Korban kembali jatuh, 102 warga dan 18 anggota Brimob. Dua dusun kecil, dalam seminggu kehilangan lebih dari 300 nyawa.

“Simbah saya cerita, mayat bergelimpangan di parit. Brimob yang gugur dikubur dengan kain jarik karena tidak ada kain kafan. Warga yang selamat tidak berani menangis keras, takut Belanda balik lagi,” kata Pak Dukuh setempat, saat berbincang dengan para pengunjung di lokasi Tugu Brimob.

17 Meter Perlambang Hari Kemerdekaan 17 Agustus

Tugu setinggi 17 meter itu melambangkan 17 Agustus. Di bawahnya ada prasasti nama-nama korban dan relief pertempuran.

Setiap 14 November, Hari Brimob, dan 17 Agustus, Polri menggelar upacara di sini. Warga datang, bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai ahli waris.

Ada mitos yang hidup. Orang Sedayu percaya jika lewat monumen malam Jumat Kliwon, kadang terdengar derap sepatu lars dan aba-aba berbahasa Belanda.

Anak-anak dilarang main petak umpet di sekitar tugu setelah Magrib, bukan karena angker, tapi karena ojo ngidak lemah sing abang jangan sampai menginjak tanah yang merah, tempat darah dulu tumpah.

Kini area sekitar monumen jadi ruang rekreasi. Suasananya asri, sawah masih luas, warung angkringan buka sampai malam.

Seperti ditulis di laman idalamat.com, monumen ini buka 24 jam, gratis, jadi tujuan wisata sejarah keluarga. Tapi sekarang dibatasi hingga jam 10 malam.

Tugu Brimob Sedayu bukan sekadar batu. Ia penanda bahwa kemerdekaan tidak hanya diproklamasikan di Jakarta. Tapi dipertahankan meter demi meter di parit-parit Kemusuk dan Watu, oleh polisi muda bersenjata rampasan dan petani yang hanya membawa bambu runcing. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar