Waspadai Gerakan Radikalisme di Kalangan Gen Z - Mabur.co

Waspadai Gerakan Radikalisme di Kalangan Gen Z

Mabur.co – Di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat seperti saat ini, semua hal bisa terjadi dalam waktu singkat, sekaligus berdampak masif kepada siapa saja.

Termasuk kemungkinan masuknya paham radikalisme kepada generasi muda, atau Gen Z.

Dilansir dari laman Gramedia, radikalisme adalah paham atau ideologi yang menginginkan perubahan sosial dan politik secara drastis, ekstrem, dan menyeluruh hingga ke akar-akarnya. Paham ini seringkali masuk dengan cara-cara kekerasan.

Gen Z sebagai pihak yang sejak lahir sudah terpapar dengan kemajuan teknologi, termasuk internet dan media sosial, sangat rentan terpapar paham radikalisme tersebut.

Mengingat mereka dapat mengakses konten apa saja dan dari siapa saja melalui media sosial, salah satunya adalah konten yang bersifat ekstremis, yang mengarah pada paham radikalisme secara tidak langsung.

Ancaman ini bisa semakin cepat menyebar, ketika Gen Z tidak dibekali dengan literasi digital yang baik, sekaligus edukasi secara menyeluruh terkait paham yang satu ini.

Dilansir dari laman Wahid Foundation, contoh-contoh gerakan radikalisme yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain penyebaran ideologi intoleran, ujaran kebencian terhadap kelompok yang berseberangan, penolakan sistem negara (seperti Pancasila), sikap eksklusif/menutup diri dari lingkungan sekitar, serta upaya penggantian ideologi melalui kekerasan, dan sebagainya.

Berikut adalah beberapa risiko yang berpotensi dialami oleh Gen Z, jika terpapar oleh paham radikalisme, sebagaimana dilansir dari laman Binus University.

1. Media Sosial & Konten Digital

Media sosial tentu saja menjadi penyebab utama dari masuknya paham radikalisme di kalangan Gen Z, apalagi ketika mereka dibebaskan mengakses konten apa pun dan dari siapa pun tanpa filter sedikit pun. Semakin bebas Gen Z mengakses konten di media sosial, semakin mudah mereka terpapar paham radikalisme.

2. Pencarian Jati Diri

Sebagai pihak yang masih mencari jati diri (menuju ke tahap dewasa), Gen Z seringkali mudah terpengaruh oleh konten-konten yang mereka konsumsi setiap harinya.

Apabila konsumsi konten tidak dibatasi, sangat besar kemungkinan jati diri mereka akan jatuh ke arah yang salah.

3. Perundungan (Bullying)

Perundungan atau bullying adalah efek domino dari konsumsi konten di media sosial, yang seringkali menuntut kesempurnaan visual dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Lalu ketika kesempurnaan itu tidak sanggup didapatkan, muncullah kemungkinan bullying yang dilakukan oleh teman sebayanya, maupun netizen yang melihat dari layar media sosial mereka.

Hal itu lantas menimbulkan luka secara emosional dan batin, yang berpotensi menjadi wadah masuknya paham radikalisme.

4. Kekecewaan Sosial-Politik

Secara tidak langsung, ketidakpuasan Gen Z terhadap situasi sosial dan politik di Indonesia, juga bisa menjadi pemicu masuknya paham radikalisme, lantaran mereka ingin mencari “pelarian” terhadap sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara ini.

***

Sementara untuk mencegah atau menangkal potensi-potensi tersebut, beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:

1. Perkuat Literasi Digital

Orang tua atau guru tidak boleh membiarkan anak-anak mereka mengakses konten tanpa filter sama sekali. Mereka harus diberikan literasi digital yang baik, untuk memastikan para Gen Z ini bisa lebih mawas diri terhadap apa yang mereka saksikan di dunia maya.

Untuk bisa memberikan edukasi literasi digital, tentu saja para orang tua serta guru harus memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap literasi digital itu sendiri, sehingga bisa mentransfer ilmu yang dimiliki kepada generasi penerus mereka.

2. Menguatkan Peran Keluarga

Mirip seperti penjelasan sebelumnya. Orang tua juga harus memiliki edukasi literasi digital yang baik, agar mampu membangun komunikasi hangat dengan sang buah hati, sekaligus melakukan pengawasan secara bijak di rumah.

3. Menanamkan Toleransi

Salah satu ciri khas dari paham radikalisme adalah intoleransi terhadap sesama. Untuk itu penting menanamkan sifat toleransi kepada Gen Z, agar tidak selalu memaksakan kehendak kepada orang lain, sekaligus menghargai setiap perbedaan yang ada.

***

Untuk dapat mencegah serta menanggulangi risiko dari paham radikalisme ini, dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, serta keluarga, sebagai lingkungan terkecil dari para Gen Z dalam bermasyarakat.

Tidak mudah memang memberi edukasi kepada Gen Z tentang ancaman dari paham radikalisme, namun dengan kerjasama yang solid antar-semua pihak, niscaya tidak mustahil untuk mewujudkan generasi penerus yang mampu membentengi dirinya sendiri.

Sekaligus mampu menanamkan karakter kebangsaan yang kuat, sesuai dengan sila-sila yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *