Saya selama ini menganggap diri sebagai pembaca buku yang cukup rakus. Saya juga menulis beberapa buku.
Membaca buku, membuat catatan, lalu menulis adalah bagian penting dari kehidupan intelektual saya.
Tetapi belakangan, terutama sejak AI hadir dalam kehidupan sehari-hari, saya mulai merasakan sesuatu yang agak mengkhawatirkan: saya semakin malas membaca buku secara utuh.
Bahkan untuk menulis status Facebook saya menggunakan AI. Kalau saya yang bertahun-tahun hidup bersama buku mulai mengalami hal semacam ini, bagaimana dengan mereka yang sejak awal memang tidak mempunyai kebiasaan membaca?
Mungkin persoalannya bukan sekadar minat baca yang menurun. Kita barangkali sedang memasuki perubahan yang jauh lebih besar dalam sejarah kebudayaan pengetahuan.
Selama berabad-abad buku merupakan teknologi utama manusia untuk menyimpan, mengorganisasi, dan menyebarkan pengetahuan.
Untuk mengetahui pemikiran seseorang, kita harus membaca puluhan atau ratusan halaman yang ditulisnya.
Sekarang kita cukup bertanya kepada mesin, lalu dalam beberapa detik kita memperoleh ringkasan, perbandingan, bahkan kritik terhadap sebuah buku tanpa pernah membuka bukunya.
Pengetahuan semakin dilepaskan dari pengalaman membaca itu sendiri.
Di sinilah saya mulai bertanya: apakah kita sedang memasuki dunia pasca-buku?
Bukan berarti buku akan hilang sebagaimana radio tidak hilang setelah muncul televisi. Buku mungkin tetap ada, bahkan mungkin tetap dicetak di atas kertas.
Tetapi kedudukannya sebagai medium utama pengetahuan bisa berubah. Yang muncul bukan sekadar buku digital, melainkan bentuk pengetahuan baru yang cair, interaktif, dan berbasis percakapan dengan mesin.
Kita tidak lagi selalu “mencari pengetahuan” dengan membuka halaman demi halaman, tetapi meminta sebuah sistem untuk menyusun pengetahuan sesuai pertanyaan kita.
Masalahnya, membaca buku sebenarnya bukan hanya kegiatan memperoleh informasi.
Ada disiplin intelektual di dalamnya: mengikuti argumen seseorang secara perlahan, mengalami kebingungan, kembali ke halaman sebelumnya, memberi tanda pada sebuah kalimat, lalu memikirkan sesuatu yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
AI memang dapat memberikan jawaban dengan sangat cepat, tetapi justru kecepatan itu bisa menghilangkan pengalaman penting tersebut.
Kita mendapatkan kesimpulan tanpa menjalani perjalanan intelektual yang melahirkan kesimpulan itu. Kita memperoleh pengetahuan, tetapi mungkin semakin jarang mengalami proses berpikir.
Karena itu kegelisahan saya sebenarnya bukan tentang apakah buku akan mati. Pertanyaannya lebih mendasar: apa yang akan terjadi pada manusia ketika membaca, menulis, dan bahkan berpikir semakin banyak didelegasikan kepada mesin?
Bisa jadi kita memang sedang memasuki sebuah dunia baru. Buku tidak akan hilang, tetapi hubungan kita dengan buku, pengetahuan, dan bahkan dengan pikiran kita sendiri sedang berubah.
Ironisnya, kalimat-kalimat yang sedang Anda baca ini pun lahir dari kolaborasi manusia dengan AI. Dan mungkin justru ironi itulah tanda zaman kita. ***
