JABFEST 2026, Keberanian Pertemukan Dunia Literasi dan Seni Rupa dalam Napas Kebudayaan

2 Min Read
Large red metal sculpture with Indonesian text announcing Jogja Art + Books Fest 2026, set among trees outside.
JABFEST 2026 menjadikan seni dan literasi sebagai ruang untuk mempertanyakan kebenaran, menjaga ingatan, sekaligus membaca persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – JABFEST 2026 menjadikan seni dan literasi sebagai ruang untuk mempertanyakan kebenaran, menjaga ingatan, sekaligus membaca persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, festival ini mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”.

Memasuki tahun keempat, Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026 kembali digelar di The Ratan. JABFest 2026 berlangsung selama 13 hari, mulai 30 September hingga 12 Oktober 2026.

Perubahan lewat Cara Bertutur Jujur

Ketua Program, JABFEST 2026, Dodo Hartoko, menuturkan, festival ini bertujuan ingin membuka catatan yang terlewatkan, catatan akan harapan sebab perubahan besar disebabkan lewat cara bertutur secara jujur.

“Keistimewaan sebuah festival ada pada keberanian mempertemukan dunia literasi dan dunia seni rupa dalam satu napas kebudayaan. Literasi bukan ruang kosong. Ia ruang tanya. Di dalamnya kita membaca dan digelisahkan bersama. Karena tanpa kegelisahan, tidak akan ada perubahan,” jelasnya, Minggu (4/10/2026).

Crowd of people browsing books at a busy indoor book fair with a red stage backdrop.
Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026 kembali digelar di The Ratan. JABFest 2026 berlangsung selama 13 hari, mulai 30 September hingga 12 Oktober 2026. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Saksi Mata Menolak Pelupaan

Kurator Pameran JABFest 2026, Ayos Purwoaji, mengatakan, karya seni dan sastra yang dihadirkan menjadi rekaman dokumentatif atas berbagai peristiwa yang tengah berlangsung, mulai dari persoalan tanah, budaya, hingga sejarah.

“Seni dapat menjadi saksi mata untuk menolak pelupaan dan merebut kembali bahasa ketika suara publik disumbat. Pameran ini menempatkan praktik artistik sebagai tindakan politik paling mendasar untuk menyemai kritik, ingatan, dan imajinasi kolektif,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar