Mabur.co – JABFEST 2026 menjadikan seni dan literasi sebagai ruang untuk mempertanyakan kebenaran, menjaga ingatan, sekaligus membaca persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, festival ini mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”.
Memasuki tahun keempat, Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026 kembali digelar di The Ratan. JABFest 2026 berlangsung selama 13 hari, mulai 30 September hingga 12 Oktober 2026.
Perubahan lewat Cara Bertutur Jujur
Ketua Program, JABFEST 2026, Dodo Hartoko, menuturkan, festival ini bertujuan ingin membuka catatan yang terlewatkan, catatan akan harapan sebab perubahan besar disebabkan lewat cara bertutur secara jujur.
“Keistimewaan sebuah festival ada pada keberanian mempertemukan dunia literasi dan dunia seni rupa dalam satu napas kebudayaan. Literasi bukan ruang kosong. Ia ruang tanya. Di dalamnya kita membaca dan digelisahkan bersama. Karena tanpa kegelisahan, tidak akan ada perubahan,” jelasnya, Minggu (4/10/2026).

Saksi Mata Menolak Pelupaan
Kurator Pameran JABFest 2026, Ayos Purwoaji, mengatakan, karya seni dan sastra yang dihadirkan menjadi rekaman dokumentatif atas berbagai peristiwa yang tengah berlangsung, mulai dari persoalan tanah, budaya, hingga sejarah.
“Seni dapat menjadi saksi mata untuk menolak pelupaan dan merebut kembali bahasa ketika suara publik disumbat. Pameran ini menempatkan praktik artistik sebagai tindakan politik paling mendasar untuk menyemai kritik, ingatan, dan imajinasi kolektif,” katanya.
