Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi budaya populer, denting gamelan di Bayat, Klaten, Jawa Tengah masih terdengar setiap pekan.
Namun di balik harmoni nada yang terjaga, komunitas seni gamelan setempat kini menghadapi tantangan serius yaitu krisis regenerasi.
Pengabdian masyarakat mengenai praktik seni gamelan di Bayat mengungkap bahwa kearifan lokal masih hidup dan menjadi fondasi kuat dalam aktivitas kesenian.
Nilai kebersamaan, gotong royong, disiplin, dan spiritualitas terus diwariskan oleh para pelaku seni senior yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun.
Setiap sesi latihan bukan sekadar latihan musikal, tetapi ruang pendidikan sosial yang menanamkan keselarasan dan rasa hormat terhadap tradisi.
Di antara segelintir pemain gamelan sepuh, Mbah Wiryo, merasakan betul manfaat gamelan.
“Main gamelan itu tidak bisa sendiri-sendiri. Kita harus menyatu,” ungkapnya saat kami wawancarai untuk penelitian.
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi bahwa gamelan bukan hanya seni pertunjukan, melainkan pedoman hidup yang mengajarkan harmoni sosial.
Setiap instrumen dalam praktiknya diperlakukan sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai simbolik dan historis.
Gong dan kenong tidak sekadar alat musik, tetapi representasi spiritualitas yang menuntun etika bermain dan interaksi antaranggota komunitas.
Setiap sesi latihan selalu diawali dengan doa bersama yang menegaskan kuatnya relasi antara tradisi, rasa, dan keyakinan. Namun, harmoni tersebut mulai diuji oleh perubahan zaman.
Keterlibatan generasi muda di Bayat dalam komunitas seni gamelan sangat minim. Dari puluhan anggota yang aktif, hanya dua orang berusia antara 20 hingga 30 tahun yang rutin hadir.
Sebagian besar pemuda desa lebih memilih aktivitas lain yang dianggap lebih relevan dengan gaya hidup modern.
Di kalangan generasi muda ada yang suka gamelan, tapi waktunya menjadi alasan. Mayoritas lebih suka musik modern atau kegiatan lain yang dianggap lebih keren.
Fenomena tersebut mencerminkan adanya pergeseran orientasi nilai. Jika generasi senior memandang gamelan sebagai identitas budaya dan kewajiban moral, generasi muda melihatnya sebagai aktivitas pilihan yang tidak memberikan manfaat ekonomi maupun gengsi sosial secara langsung.
Hasil pengabdian masyarakat ini mengidentifikasi empat faktor penyebab krisis regenerasi.
Pertama, tekanan budaya populer yang menggeser preferensi estetika generasi muda.
Kedua, mobilitas sosial dan ekonomi yang mendorong anak muda merantau untuk pendidikan atau pekerjaan ke kota.
Ketiga, kelemahan metode pewarisan internal yang masih bersifat instruktif dan kurang terstruktur.
Keempat, keterbatasan dukungan kelembagaan, baik dari sisi pendanaan, promosi, maupun kolaborasi dengan institusi pendidikan.
Modernisasi telah membuka peluang baru, tetapi sekaligus mempersempit ruang interaksi generasi muda dengan komunitas seni lokal.
Latihan yang berbenturan dengan jadwal kerja atau studi membuat keterlibatan semakin menurun. Di sisi lain, metode pembelajaran yang berorientasi pada hafalan dan pengulangan belum sepenuhnya mampu menjembatani kebutuhan identitas generasi masa kini.
Kondisi tersebut menempatkan seni gamelan Dusun Bayat pada sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, nilai kearifan lokal masih kuat tertanam dalam diri para pelaku senior.
Di sisi lain, tanpa inovasi dan strategi adaptif, tradisi ini berpotensi kehilangan daya tariknya bagi generasi penerus.
Sejumlah upaya telah dilakukan, seperti membuka kelas bagi anak muda dan mencoba mengintegrasikan gamelan dalam program desa wisata.
Namun langkah tersebut masih berskala kecil dan belum mampu menciptakan kedekatan emosional yang signifikan antar-generasi.
Para pengamat budaya menilai bahwa keberlanjutan seni gamelan di Bayat tidak cukup hanya mengandalkan romantisme tradisi.
Dibutuhkan inovasi pembelajaran, rekontekstualisasi peran gamelan dalam kehidupan modern, serta ruang dialog yang lebih inklusif antara generasi tua dan muda.
Jika tidak, bunyi gong yang kini masih menggema bisa saja suatu hari hanya tersisa sebagai kenangan dalam dokumentasi.
Di tengah perubahan zaman, gamelan Dusun Bayat bukan sekadar mempertahankan nada. Ia sedang berjuang mempertahankan makna. (*)



