Kronik Lucu Kata “Galer” - Mabur.co

Kronik Lucu Kata “Galer”

Mari kita akui bersama: ada sesuatu yang absurd sekaligus menghibur ketika sebuah kata yang dulunya kita ucapkan sambil cekikikan di tongkrongan SMP, tiba-tiba menjadi bagian resmi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia —sebuah kitab suci kebahasaan yang konon sakral.

Kata itu adalah “galer.”

Bagi generasi tertentu, kata ini pasti mengingatkan pada teman sebangku yang doyan bikin olok-olok: “Eh, jangan galerlah, lu!” yang artinya bukan sedang membicarakan rambut, melainkan menyinggung kegiatan garuk peler yang dilakukan secara refleks, biasanya di jam pelajaran Matematika ketika guru sedang menulis persamaan kuadrat di papan tulis.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, “galer” sekarang punya arti yang sama sekali berbeda.

Menurut KBBI, galer adalah anak rambut di kening, atau dalam istilah dunia kecantikan, baby hair.

Jadi, bayangkan bagaimana nasib kita, para mantan remaja 90-an atau 2000-an awal, yang sudah terbiasa dengan konotasi genital, harus melakukan penyesuaian drastis.

Saya bisa membayangkan sebuah adegan absurd: seorang ibu muda memuji bayinya, “Duh, galer-nya rapi banget, kayak habis di-blow,” lalu di sudut ruang tamu, paman 40 tahunan menahan tawa sambil ingat masa-masa sekolahnya dulu.

Bahasa memang licik. Ia bisa mencuci tangan dari sejarah cabulnya dan masuk ruang tamu dengan pakaian baru.

“Galer” yang dulu terdengar jorok, kini terdengar imut, bahkan estetis.

Seperti preman pensiun yang tiba-tiba jadi ustaz, kata ini menjalani pertobatan semantik. Dan kita, sebagai pengguna bahasa, mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa suatu saat anak kita bisa datang dan bertanya dengan polos: “Ayah, galer aku bagus nggak?” sementara di kepala kita masih tersisa memori SMA tentang teman yang ketahuan “galer” di kelas biologi.

Tapi, di balik kelucuannya, kasus kata “galer” ini memberi pelajaran penting tentang kelenturan bahasa Indonesia.

Bahasa selalu bernegosiasi dengan zaman. Kadang ia turun ke jalan, nongkrong di warkop, lalu suatu hari dipanggil KBBI untuk pakai jas resmi.

Fenomena galer membuktikan bahwa KBBI tidak lagi hanya mengurusi bahasa baku yang kaku, tapi juga mau merangkul ekspresi anak muda.

Rasanya seperti melihat pejabat senior mendadak belajar TikTok—canggung, tapi bukti bahwa dunia berubah.

Saya pribadi merasa geli sekaligus salut. Geli, karena saya tak bisa sepenuhnya menghapus asosiasi lama kata ini.

Salut, karena ternyata KBBI mau memberi ruang bagi kata yang awalnya beredar sebagai bahasa gaul Sunda lalu berkembang jadi istilah populer di dunia fashion.

Mungkin nanti kita akan melihat beauty vlogger berkata dengan serius: “Cara bikin galer on fleek itu simpel banget, guys,” dan tidak ada seorang pun yang tertawa kecuali bapak-bapak alumni nongkrong depan fotokopian tahun 1998.

Dan siapa tahu, ini hanya awal dari invasi kata-kata slang cabul yang bertobat.

Setelah galer, mungkin suatu hari “cupu” akan berarti “gelas estetik minimalis,” atau “jablai” diredefinisi jadi “jenis bunga langka Jawa Barat.”

Kita tidak pernah tahu. Yang jelas, bahasa tidak pernah benar-benar mati; ia cuma suka main cosplay.

Hari ini ia bajingan, besok ia jadi anak baik-baik. Dan kita, mau tak mau, ikut menertawakan diri sendiri di dalam perjalanan itu. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *