Oleh: Satmoko Budi Santoso
Mabur.co – Lukisan berlatar tafsir visual wajah Yesus karya seniman Vanessa Horabuena berhasil dilelang 45 miliar di kafe milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sensasi ini pastilah membuat Donald Trump girang. Jingkrak-jingkrak hatinya.
Donald Trump pun segera mengumumkan kepada dunia soal peristiwa lelang itu. Memuji tak tanggung-tanggung atas pencapaian estetik Vanessa Horabuena dan pencapaian gebyar pasar lelang seni rupa Amerika di malam transisi pergantian tahun, beberapa hari lalu.
Lantas, hikmah apa yang bisa dipetik dari peristiwa itu? Pastilah banyak.
Salah satunya, tafsir pendekatan visual sebagai pencapaian estetik wajah Yesus itu tentu saja segera diburu orang. Membuat penasaran hingga ke ubun-ubun. Meskipun objek pendekatan dan kajian visual perihal Yesus bukan hanya pernah dilakukan oleh perupa Vanessa Horabuena.
Di level dunia, seniman kondang Leonardo da Vinci juga terkenal dengan pencapaian lukisan tentang Yesus bertajuk Perjamuan Terakhir. Lukisan ini bergema dari zaman ke zaman, sangat monumental. Perupa Basoeki Abdullah pun pernah mengulik estetika visual berbasis Yesus.
Bahkan pada 2008 lalu saya juga pernah mengulas pameran tunggal perupa Tommy Tanggara yang bertajuk The Covenant of Love dan dipamerkan di CG Art Space, Plaza Indonesia, Jakarta. Waktu itu, ada 25 lukisan perupa Tommy Tanggara yang memvisualkan kiprah Yesus berangkat dari berbagai ayat yang termaktub dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Saya sangat senang, bisa menikmati, dan tercerahkan dengan lukisan-lukisan yang amat meneduhkan dan menenteramkan hati jika dipandang itu. Apalagi diksi-diksi yang menyertai pameran itu sungguh enak dibaca dan diresapi sebagai narasi yang menggetarkan. Misalnya, diksi Yesus dan para gembala, diksi yang dari segi pencapaian sastra jelas cukup memikat, dan mampu memberikan gambaran visual sangat bagus meskipun terpaparkan singkat dan pendek saja.
Di situlah peran lukisan, bisa mengedukasi imajinasi, membawa penikmat pada latar konteks peristiwa visual yang melingkupinya. Betapa hanya dengan goresan visual dan judul lukisan yang beberapa kata, penonton bisa disatukan dalam klaster imajinasi yang senada. Berperan sebagai mesin waktu yang bisa membawa penafsiran lebih dari sekadar melintasi gurun. Namun juga melintasi ruang dan waktu. Menembus langit dan tanah. Mabur dan mumbul dhuwur ke alam spiritualitas yang menyatukan nurani.
Di situlah sugesti estetik lukisan mampu berperan menuntun langkah demi langkah spiritualitas menuju totalitas keimanan. Hingga kini saya selalu hanya bisa merenung ketika mendengar ungkapan ini: bersama debu, angin, dan Roh Kudus. Betapa sebagai manusia kita memang ibarat hanya debu yang diterbangkan angin dan entah menuju ke mana. Namun roh sejati akan selalu kembali kepada ketenangan, kepada keheningan. ***
Satmoko Budi Santoso, sastrawan.



