Misteri Kematian Raden Ronggo - Mabur.co

Misteri Kematian Raden Ronggo

Di sudut utara bekas tembok dalam Keraton Mataram Kotagede, terdapat sebuah jebolán dinding yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai peninggalan nyata seorang pangeran bernama Raden Ronggo.

Bukan sekadar legenda belaka, tembok jebol itu masih bisa disaksikan hingga hari ini. Namun di balik peninggalan fisik yang konkret itu, kematian sang pangeran tetap menjadi salah satu misteri paling menggugah dalam sejarah Kesultanan Mataram Islam.

Artikel ini berusaha membedah lapisan demi lapisan kisah Raden Ronggo secara kritis: memisahkan mana yang bersumber dari naskah babad, mana yang berasal dari tradisi lisan, dan mana yang bisa dikonfirmasi secara historis, termasuk soal kematiannya yang kerap dikisahkan secara berbeda-beda.

Siapakah Raden Ronggo?
Raden Ronggo adalah putra Panembahan Senopati (Danang Sutawijaya), pendiri dan raja pertama Kesultanan Mataram Islam yang berkuasa antara 1587–1601 M.¹

Namun siapa ibunya masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti dan pemerhati sejarah.

Menurut Ghifari Yuristiadhi dalam tulisannya Nitikan, Makam Raden Rangga dan Abdi Dalem Pamethakan: Sebuah Histori Kampung di Yogyakarta, terdapat dua versi yang beredar:²

Versi pertama menyebutkan, bahwa ibu Raden Ronggo adalah seorang putri yang mengaku berasal dari Wonogiri, dan di kemudian hari dalam tradisi Jawa diidentifikasi sebagai Nyi Roro Kidul, Ratu Laut Selatan.

Versi kedua yang lebih bisa diterima secara genealogis menyebut, ibunya adalah Nyi Ageng Pembayun, putri kandung Panembahan Senopati sendiri yang menjadi istri Ki Ageng Mangir, sehingga Raden Ronggo dalam versi ini berstatus cucu, bukan anak langsung.

Terlepas dari perdebatan silsilah tersebut, satu hal yang pasti: Raden Ronggo bukan tokoh rekaan.

Makamnya secara fisik dapat dikunjungi hingga hari ini di Kompleks Makam Nitikan, Kelurahan Sorosutan, Kapanewon Umbulharjo, Kota Yogyakarta.³

Karakter yang Kontroversial

Berbagai sumber, dari Babad Tanah Jawi, Antologi Cerita Rakyat DIY karya Dhanu Priyo Prabowo, hingga keterangan lisan yang dikumpulkan oleh para peneliti, sepakat pada satu gambaran: Raden Ronggo adalah pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa namun bertemperamen yang sangat buruk.

Ia digambarkan sering bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, bahkan kerap menganiaya dan membunuh orang yang berani menantangnya.

Soedjipto Abimanyu dalam Kitab Terlengkap Sejarah Mataram menyebutnya sebagai sosok yang “sakti mandraguna” namun juga “pemarah dan suka memukul”.⁴

Kesaktiannya disebut-sebut melampaui banyak kesatria Mataram pada masanya, namun justru kesaktian itulah yang membuatnya merasa tak tertandingi dan akhirnya tak terkendali.

Mengamuk di Pasar dan Menerobos Tembok Keraton

Salah satu peristiwa yang memiliki bukti fisik paling kuat adalah insiden tembok jebol di Kotagede. Menurut tradisi lisan yang dicatat dalam laman Budaya Indonesia dan dikonfirmasi oleh warga setempat, peristiwa ini terjadi saat Panembahan Senopati menguji kesaktian putranya.⁵

Dalam adu kesaktian tersebut, Raden Ronggo disuruh ayahnya untuk memijat kaki sang raja. Ketika pijatan itu terasa menyakitkan, tanda bahwa energi kesaktian sang pangeran mengalir tak terkendali, Panembahan Senopati menghentakkan kakinya.

Karena sang ayah juga memiliki ilmu kanuragan yang jauh lebih matang, Raden Ronggo terpental dengan keras dan tubuhnya menghantam tembok benteng keraton hingga jebol.

“Bekas jebolnya benteng sampai sekarang masih ada di Kotagede, di Kampung Ndalem Utara.” Demikian informasi dalam Budaya Indonesia, mengutip tradisi lisan setempat⁵.

Peninggalan fisik berupa tembok jebol ini menjadi salah satu dari sedikit “bukti material” yang dapat dikonfirmasi dalam kisah Raden Ronggo.

Tempat ini bahkan hingga kini menjadi salah satu situs yang dikenal warga Kotagede sebagai petilasan yang berkaitan dengan sang pangeran.

Insiden di Demak dan Pati: Konteks Politik yang Nyata

Kisah tentang amuknya Raden Ronggo ke Demak dan Pati bukan hanya cerita rakyat biasa. Konteks politiknya sangat relevan: pada akhir abad ke-16, hubungan antara Mataram, Demak, dan Pati memang penuh ketegangan.⁶

Catatan sejarah dalam berbagai babad menyebut adanya gesekan antara Panembahan Senopati dengan sejumlah adipati di pesisir utara Jawa.

Adipati Pragola dari Pati sendiri kemudian tercatat melakukan pemberontakan terhadap Mataram pada tahun 1600 M, konteks yang menunjukkan bahwa kisah ketegangan antara keluarga Mataram dengan Pati dan Demak memiliki akar historis yang nyata, bukan semata fiksi.

Misteri Kematian: Fakta, Versi, dan Analisis

Yang pasti: Raden Ronggo mati muda. Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan.

KRMT L. Nuky Mahendranata Nagoro, pemerhati sejarah asal Solo yang mengunjungi petilasan Panembahan Senopati di Kotagede, menegaskan:

“Penyebab wafatnya Raden Rangga masih terselubung misteri hingga kini. Hanya saja, makamnya dapat ditemui di wilayah Nitikan. Pada makam tersebut tidak tertera tanggal kematiannya secara pasti.”, Solopos.com, mengutip keterangan KRMT L. Nuky Mahendranata Nagoro⁷.

Diperkirakan Raden Ronggo wafat pada pertengahan abad ke-17, namun tanggal pastinya tidak tercatat dalam dokumen mana pun yang saat ini bisa diverifikasi.

Ini sendiri sudah merupakan sebuah fakta penting: seorang putra raja pertama Mataram Islam tidak meninggalkan catatan tanggal wafat yang jelas, mengisyaratkan bahwa kematiannya bukanlah peristiwa yang dirayakan atau dikenang secara resmi oleh keraton.

Versi Ular: Dari Mana Asalnya?

Kisah kematian Raden Ronggo akibat gigitan ular besar beredar luas dalam tradisi lisan Jawa.

Inilah versi yang paling populer dan paling sering diceritakan, termasuk dalam Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta karya Dhanu Priyo Prabowo.⁸

Menurut versi ini, seekor ular besar atau naga, sedang mengamuk di kawasan Desa Patalan, Bantul, di sepanjang Jalan Parangtritis.

Makhluk itu telah memakan banyak korban dan rakyat tidak mampu menghadapinya. Raden Ronggo, dengan segala kesaktian dan kecongkakannya, justru menyambut tantangan ini.

Ia bertarung melawan ular tersebut dan berhasil mengalahkannya, namun dalam pertarungan itu ia terkena gigitan (patukan) ular. Racun ular itulah yang akhirnya merenggut nyawanya.

Versi yang lebih bercorak mistis, dikisahkan bahwa ular itu sesungguhnya adalah siluman yang dikirim oleh Nyi Roro Kidul, ibunya sendiri atas bujukan Panembahan Senopati yang sudah kehabisan cara untuk “menyelesaikan” masalah putranya tanpa harus secara langsung membunuh darah dagingnya sendiri.⁹

Membaca Kisah Ular Secara Kritis

Kisah ular perlu dibaca dalam kerangka sastra dan budaya Jawa, bukan semata-mata sebagai laporan faktual.

Dalam tradisi sastra Jawa, khususnya babad, kematian tokoh-tokoh penting hampir selalu diberi bingkai simbolis. Beberapa poin kritis yang perlu dicermati:

Pertama, tidak ada catatan arsip VOC atau sumber Eropa kontemporer yang menyebut nama Raden Ronggo secara spesifik. Ini wajar mengingat posisinya bukan sebagai pewaris takhta, ia bukan dalam jalur suksesi utama Mataram.

Kedua, motif “tokoh sakti yang dikalahkan oleh makhluk berbisa” adalah topos sastra yang umum dalam tradisi Jawa dan Melayu, sebuah cara naratif untuk menjelaskan kematian seseorang yang secara fisik seharusnya tidak terkalahkan oleh manusia biasa. Ini memberikan “penjelasan masuk akal” dalam kerangka kosmologi Jawa.

Ketiga, dari sudut pandang medis-historis, kematian akibat gigitan ular berbisa adalah hal yang sangat mungkin terjadi di Jawa abad ke-16 dan 17.

Ular-ular berbisa seperti kobra dan welang (bungarus fasciatus) banyak terdapat di kawasan pertanian dan ladang sekitar Bantul dan Mataram.

Tanpa penanganan medis modern, gigitan ular kobra bisa mematikan dalam hitungan jam. Jika Raden Ronggo memang terlibat dalam suatu operasi penangkapan atau pembunuhan ular berbahaya, mungkin untuk membuktikan kesaktiannya, kematian akibat gigitan ular adalah skenario yang sangat realistis.

Dengan kata lain: kisah ular bukan semata-mata dongeng. Ular yang dimaksud kemungkinan besar adalah ular sungguhan, bukan naga mitologis.

Yang ditambahkan oleh tradisi lisan adalah lapisan pemaknaan, bahwa ular itu “dikirim” Ratu Kidul, bahwa ia adalah siluman, dan bahwa kematian Raden Ronggo adalah konsekuensi dari hidupnya yang penuh lalim.

Makna Simbolis: Hukuman Kosmis
Dalam sistem nilai Jawa, kematian Raden Ronggo dalam kisah ini berfungsi sebagai “hukuman kosmis”, sebuah keadilan ilahi yang turun bukan melalui tangan manusia, melainkan melalui saluran gaib.

Ini adalah motif yang berulang dalam banyak kisah kerajaan Jawa: pemimpin atau pangeran yang lalim tidak dihukum secara langsung oleh manusia (yang bisa menimbulkan konflik dan darah), melainkan “diselesaikan” oleh kekuatan alam atau gaib.

Pola ini sekaligus melindungi citra Panembahan Senopati sebagai ayah yang arif: ia tidak membunuh putranya sendiri, namun ia pun tidak membiarkan kezaliman terus berlangsung. Dalam narasi ini, alam sendiri yang bertindak.

Makam: Bukti Keberadaan yang Tak Terbantahkan

Satu hal yang tidak bisa diperdebatkan adalah bahwa Raden Ronggo adalah tokoh historis nyata, bukan sekadar tokoh dongeng. Keberadaannya dikonfirmasi oleh makamnya yang masih bisa dikunjungi.

Berdasarkan data dari Cagar Budaya Provinsi DIY (jogjacagar.jogjaprov.go.id), makam Nitikan berlokasi di Dusun Nitikan, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta, berada di belakang Masjid Sulthonain Nitikan. Di kompleks ini dimakamkan, antara lain:¹⁰

Raden Ronggo (Putra Panembahan Senopati), Kanjeng Ratu Pakubuwono I, dan Pangeran Besar Sultan Syarif Sayyid Abdulrahman, serta kerabat keraton Mataram Islam lainnya.

Peneliti Ghifari Yuristiadhi dari Universitas Gadjah Mada juga mencatat keberadaan makam ini dalam karya akademisnya, yang didasarkan pada wawancara dengan Wadjid Heryono (49 tahun) di Nitikan pada 31 Januari 2011.¹¹

Konfirmasi dari dua sumber, data pemerintah dan penelitian akademik, memberikan landasan kuat bahwa Raden Ronggo adalah figur historis nyata.

Selain di Nitikan, ada juga keterangan bahwa jenazahnya dimakamkan di Kotagede. Perbedaan versi lokasi makam ini sendiri menjadi bagian dari “misteri” yang menyelimuti sosok sang pangeran, dan mungkin mencerminkan adanya lebih dari satu tokoh yang pernah menyandang nama atau gelar yang mirip.

Kesimpulan: Memahami Raden Ronggo Secara Utuh

Kisah Raden Ronggo adalah cermin sempurna dari bagaimana sejarah Jawa bekerja: fakta dan mitos berjalinan begitu erat sehingga memisahkannya secara mutlak hampir mustahil, dan mungkin juga tidak perlu, karena keduanya sama-sama mengandung kebenaran dalam levelnya masing-masing.

Yang bisa disimpulkan secara valid adalah sebagai berikut. Raden Ronggo adalah putra (atau cucu) Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.

Ia adalah tokoh historis nyata, dikonfirmasi oleh keberadaan makamnya di Nitikan, Yogyakarta. Ia memiliki reputasi sebagai pemuda yang sakti namun bertemperamen buruk dan sering menganiaya rakyat.

Tanggal kematiannya tidak tercatat dengan pasti, dan tidak ada sumber primer yang menyebutkan penyebab kematiannya secara definitif. Kisah kematian akibat gigitan ular berasal dari tradisi lisan dan catatan babad, valid sebagai tradisi budaya, namun perlu dibaca sebagai narasi simbolis, bukan laporan faktual semata.

Kematian akibat gigitan ular berbisa adalah skenario yang sangat mungkin secara historis, mengingat konteks geografis dan ekologis Mataram abad ke-16 dan 17.

Raden Ronggo bukan tokoh dongeng. Ia adalah manusia nyata yang hidupnya singkat, kontroversial, dan penuh paradoks, seseorang yang mewarisi kesaktian luar biasa namun gagal mewarisi kebijaksanaan.

Dan mungkin itulah yang membuat kisahnya tetap hidup selama berabad-abad: ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan abadi tentang hubungan antara kekuatan dan tanggung jawab, antara kesaktian dan kemanusiaan. ***

CATATAN KAKI DAN SUMBER

[1] H.J. de Graaf & T.H. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2001, hlm. 159–178, ditambah M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c.1200, Stanford University Press, 2008, hlm. 44–47.

[2] Ghifari Yuristiadhi, “Nitikan, Makam Raden Rangga dan Abdi Dalem Pamethakan: Sebuah Histori Kampung di Yogyakarta“, Universitas Gadjah Mada (makalah akademik). Dikutip juga oleh DetikJogja, 9 Desember 2023.

[3] Cagar Budaya Provinsi DIY, “Makam Nitikan“, https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/66/makam-nitikan

[4] Soedjipto Abimanyu, Kitab Terlengkap Sejarah Mataram, dikutip oleh DetikJogja, “Kisah Raden Rangga Putra Panembahan Senopati yang Sakti Mandraguna“, 9 Desember 2023.

[5] Budaya Indonesia, “Legenda Raden Rangga“, https://budaya-indonesia.org/Legenda-Raden-Rangga (tradisi lisan warga Kotagede).

[6] H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa (terj.), Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2001. Konteks pemberontakan Adipati Pragola dari Pati tahun 1600 M dikisahkan pula dalam Wikipedia Indonesia, “Senapati dari Mataram“.

[7] Solopos.com, “Ular Besar dan Misteri Kematian Raden Rangga Putra Panembahan Senopati“, https://m.solopos.com/ular-besar-dan-misteri-kematian-raden-rangga-putra-panembahan-senopati-1234902 (keterangan KRMT L. Nuky Mahendranata Nagoro, pemerhati sejarah Solo).

[8] Dhanu Priyo Prabowo, Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, dikutip oleh DetikJogja, 9 Desember 2023.

[9] Sanskerta Online, “Raden Ronggo Mataram Si Tengil Sakti yang Mati Muda“, https://sanskertaonline.id/?p=87

[10] Cagar Budaya Provinsi DIY, “Makam Nitikan“, https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/66/makam-nitikan

[11] Ghifari Yuristiadhi, op.cit. wawancara dengan Wadjid Heryono (49 tahun) di Nitikan, 31 Januari 2011; dikutip dalam Academia.edu https://www.academia.edu/4354572

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *