Mengakhiri perang hari ke-16, Iran telah memulai serangan gelombang ke-54, dengan menggunakan senjata Balistik Sejjil generasi baru yang membawa hulu ledak 2 ton lebih.
Tampaknya belum ada satu pun interceptor yang bisa menghalau rudal edisi terbaru ini. Israel setidaknya amat kesulitan. Akibatnya, dua hari ini ada malam-malam yang lebih kelam bagi Tel Aviv.
Langit yang biasanya nampak bersih, kini sering berubah warna, menjadi seperti ada yang menggores kanvas merah, membara.
Di sana ada ratusan rudal Iran yang “melukis” pesan kemarahan. Hanya dalam 72 jam, narasi keunggulan teknologi militer Israel seolah runtuh menjadi puing-puing. Meluruhkan kesombongan yang bertahun-tahun dibangun di atas tanah suci yang diklaimnya.
Kementerian Kesehatan Israel— ini sesuatu yang langka—merilis angka yang amat mengejutkan, dalam tiga hari ini saja, ada lebih dari 600 jiwa melayang, tewas ditelan reruntuhan.
Sementara lebih dari 2000 bangunan luluh lantak, rata dengan tanah. Kota-kota modern yang dulu nampak angkuh, berubah menjadi pemandangan debu yang bergulung-gulung. Sirene di sana-sini, lewat dan meraung tanpa henti, menyanyikan lagu kematian yang memilukan.
Lalu bagaimana kabarnya Netanyahu? Sampai hari ini masih misteri, apakah ia “menghilang” bagian dari strategi perang, atau memamg ada sesuau yang disembunyikan, wallahu’alam.
Tetapi yang jelas dari angka statistik, ada jeritan korban kemanusiaan yang terabaikan. Sebuah bukti betapa rapuhnya perlindungan manusia saat amarah langit jatuh ke bumi.
Drama kepiluan ini tidak saja berhenti di tanah Palestina yang telah lama diakui dan diduduki. Tetapi, juga bergeser ke titik episentrum perang, yaitu Selat Hormuz.
Jalur sempit yang menjadi urat nadi energi dunia itu kini telah total diblokade oleh Iran. Selat itu kini berubah menjadi “kuburan” bagi kapal-kapal tanker, sunyi dari lalu lintas dagang, namun “panas” oleh ancaman perang terbuka.
Di situlah Amerika Serikat, sang raksasa global, tampak kelabakan. Langkah kakinya goyah, kehilangan keseimbangan di panggung Timur Tengah yang kini dikuasai skenario Teheran.
Dampaknya benar-benar menggoyang ekonomi dunia, terutama negara teluk. Harga minyak melambung dan ini memicu kepanikan global, serta membuktikan bahwa satu blokade di ujung Teluk Persia mampu menggetarkan isi dompet warga di belahan bumi lain.
Sementara itu, di dalam negeri Amerika sendiri, setiap saat ada berita lewat, api perlawanan dari rakyat Trum belum berhenti.
Demo warga besar-besaran meletus hampir di setiap kota, menuntut Trump menghentikan invasi dan membawa pulang tentara mereka.
Suara rakyat menjadi badai yang memaksa penguasa angkuh itu, mau tak mau harus menoleh sedih.
Tetapi apakah Trump benar-benar sedih? Jika tidak sedih, setidaknya “oleng” menghadapi kenyataan pahit ini.
Nyatanya Trump lebih lantang berteriak atau mungkin meminta belas kasihan sekutunya untuk ikut memerangi Iran.
Sebuah ajakan yang mungkin lahir dari kesedihan bukan? Atau malah seperti sedikit frustrasi, sebab ajakan menggalang kekuatan itu sampai hari ini tak begitu dihiraukan oleh sekutu teluknya.
Pertempuran ini selanjutnya bukan lagi sekadar penguasaan wilayah dan penguasaan kelompok manusia yang tak diinginkannya.
Melainkan mungkin pertempuran harga diri dan akhir dari sebuah arogansi. Sebab, saat malam turun di Selat Hormuz dan Tel Aviv, dunia sadar bahwa roda nasib sedang berputar.
Tiga hari yang lebih keras di ujung bulan Ramadan itu telah mengubah peta, memaksa mereka yang angkuh untuk mengakui kelemahan.
Mereka yang terzalimi bangkit dengan balasan yang menghancurkan. Langit masih merah, dan kisah ini masih jauh dari kata usai. ***



