Perkembangan Sekolah dan Kurikulum Sekolah THHK (Bagian 3) - Mabur.co

Perkembangan Sekolah dan Kurikulum Sekolah THHK (Bagian 3)

Setelah berdirinya THHK, barulah dimulai pendirian sekolah-sekolah THHK di Hindia Belanda. Pendirian Sekolah THHK dimulai dari Batavia. Rencana THHK Batavia untuk mendirikan sekolah THHK disambut baik oleh masyarakat Tionghoa yang memiliki perhatian. Cabang-cabang sekolah THHK didirikan di wilayah-wilayah lain di Hindia Belanda.

Sekolah THHK menjadi tanda kemunculan sekolah Tionghoa modern. Kalangan Tionghoa menaruh harapan yang besar kepada sekolah ini. Banyaknya Tionghoa yang bersekolah di sekolah THHK berdampak pada ditutupnya berbagai sekolah Tionghoa lama. Misalnya Sekolah Cina Gie Oh yang telah didirikan sebelum abad ke-20 ditutup pada tahun 1904 karena sistem pembelajarannya yang dianggap kuno.

Perkembangan jumlah sekolah THHK yang didirikan mulai tahun 1901-1935 terus ada. Sekolah pertama yang didirikan oleh THHK adalah Tong Hwa Hak Tong di Jakarta pada tanggal 17 Maret 1901. Kepala sekolah THHK yang pertama adalah Louw Koei Hong (Lu Guifang).

Sekolah ini merupakan sekolah swasta modern pertama di Hindia Belanda. Sekolah ini di kemudian hari diubah namanya menjadi Pa Hua. Sistem pendidikan yang diterapkan adalah sistem pendidikan modern yang telah diterapkan di Tiongkok dan Jepang.

Sampai tahun 1912 telah berdiri 10 Sekolah THHK di seluruh Jawa Timur. Angka statistik mengenai jumlah guru dan siswa yang bisa diperoleh menyebutkan bahwa di Jawa Timur terdapat 22 orang guru laki-laki dan 2 orang guru perempuan Tionghak, untuk jenjang pendidikan yang lebih rendah terdapat 11 orang guru laki-laki Siauwhak dan 67 guru perempuan Siauwhak.

Jumlah siswa Tionghak keseluruhan sebanyak 243 orang yang terdiri atas 168 orang siswa laki-laki dan 75 orang siswa perempuan. Untuk jenjang Siauwhak terdapat 3.128 orang siswa laki-laki dan 2.031 siswa perempuan Siauwhak, sehingga jumlah total 5.159 orang.

Sekolah-sekolah THHK ini memilih bahasa pengantar bahasa Mandarin. Dalam kurikulum sekolah THHK tercantum bahasa Mandarin, bahasa Inggris, berhitung, pengetahuan umum, musik dan Olah Raga, namun demikian kurikulum sekolah THHK tidak terlalu kaku, ada kalanya kurikulum menyesuaikan dengan kondisi daerah dan peminatan dari sekolah-sekolah masing-masing atau mungkin dalam istilah kekinian lazim disebut “muatan lokal”.

Misalnya dalam buku 100 tahun Tiong Hoa Hwee Koan (Zhong Hua Hui Guan) tertulis bahwa sekolah THHK Semarang yang menggunakan bangunan kecil terletak di Jl. Gang Tengah, menggunakan sistem pendidikan yang dipengaruhi oleh pendidikan di Amerika dan Jepang., meskipun dengan kurikulum yang telah dijadikan pedoman di sekolah-sekolah THHK.

Contoh lain, Kurikulum sekolah THHK di Jember (Chung Hua School) pada zaman kolonial menerapkan kurikulum yang digariskan oleh organisasi (THHK), namun lebih luas cakupannya yaitu meliputi Bahasa Tjeng Im, yang tidak lain adalah Bahasa mandarin universal, tanpa merujuk ke salah satu dialek misalnya Hokkian, Kek, atau yang lainnya, karena tujuannya untuk mempersatukan semua orang Tionghoa yang ada di Hindia Belanda.

Mata pelajaran yang lain, Ilmu hitung, Ilmu bumi Tiongkok, Sejarah Tiongkok, Ilmu Alam, Bahasa Inggris, Ilmu pengetahuan Umum, Ilmu pengetahuan Barat, yang diajarkan pasca-Revolusi Tiongkok, dengan tujuan untuk menanamkan semangat nasionalisme Tiongkok, juga untuk memperluas pengetahuan siswa. Pelajaran nyanyi (musik), dengan mempelajari lagu-lagu Cina, Sport (Olah Raga), Ilmu Gambar, Kerajinan tangan, dan Budi Pekerti. Jadi meliputi 12 mata pelajaran.

Pelajaran budi pekerti/etika Tionghoa (Kong Min) bisa dianggap sebagai ciri khas sekolah-sekolah Cina yang tidak diperoleh siswa siswa di sekolah-sekolah milik pemerintah Hindia Belanda.

Pelajaran dalam Kong Min menitikberatkan pada penanaman prinsip hidup Cina kepada siswa yang meliputi tulus, jujur, berbakti kepada orang tua, harga diri, hemat dan sederhana, rukun, bekerja keras, dan menghormati leluhur.

Tentang isi pelajaran etika ini umumnya sekolah sekolah THHK merujuk pada buku pelajaran salah satunya yang berjudul Pandoman Oentoek Pendidikan Anak-anak Tionghwa, yang diterbitkan oleh Liem Liang Djwan di Blitar.

Akan tetapi setiap sekolahan biasanya mengolah sendiri intisari atau ringkasan bagi siswa-siswa di sekolahnya masing-masing. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *