Oleh: Azka Qintory
Sungguh nikmat menjadi anak pejabat. Anda sudah otomatis “terpandang”, memiliki previlege tinggi yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, serta yang tak kalah penting adalah memiliki harta yang tak kunjung habis.
Itulah gambaran sederhana dari pernikahan mewah Darma Mangkuluhur Hutomo, cucu mantan Presiden Soeharto, yang juga merupakan anak dari Tommy Soeharto. Pernikahannya dengan DJ Patricia Schultdz berlangsung di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026).
Saking tingginya previlege yang dimiliki, Darma juga sanggup mendatangkan penyanyi Amerika Serikat, Brian McKnight sebagai salah satu pengisi acara di hari spesialnya.
Bahkan proses lamaran kedua mempelai ini dilakukan di sebuah gurun ternama di Afrika Selatan pada Agustus 2025 lalu.
Dikutip dari insertlive.com, Darma memiliki sejumlah bisnis yang dijalankan sendiri maupun pihak keluarga Cendana. Ia tercatat menjadi komisaris di PT Wisma Purnayudha Putra, perusahaan properti eksklusif milik sang ayah, Tommy Soeharto. Ia juga menjabat sebagai Presiden PT Humpuss Land, anak usaha dari Humpuss Group yang juga dikelola oleh sang ayah, dan masih banyak lagi bisnis lainnya.
Ketika sebagian besar rakyat Indonesia masih kesulitan dari segi ekonomi hanya untuk bisa bertahan hidup, di sisi lain keluarga pejabat terus-menerus menikmati hasil kekayaannya dengan berfoya-foya, mengadakan pesta di banyak tempat, dan mengundang orang-orang terkenal dari seluruh dunia. Apalagi semua hal itu lalu dipamerkan di media sosial. Seolah tak ada rasa empati sama sekali kepada masyarakat yang masih kesulitan, apalagi yang sedang tertimpa bencana.
Mungkin itulah alasannya kenapa setiap orang berlomba-lomba untuk merebut singgasana sebagai pejabat, karena itu dianggap bisa menjadi titik balik kehidupan. Dari yang tadinya bukan siapa-siapa, lalu menjadi dihormati dan dipuja oleh banyak orang.
Padahal ketika sudah terpilih jadi pejabat, mereka harus ingat bahwa keberadaan mereka di sana tidaklah untuk bersenang-senang, tapi untuk mengabdi kepada rakyat. Mengabdi kepada rakyat adalah kerja keras tujuh hari tujuh malam, alias tanpa istirahat. Karena sejatinya pejabat adalah “pelayan rakyat”.
Sungguh ironis, ketika melihat keluarga mantan “pelayan rakyat” memamerkan kekayaannya kepada seluruh rakyatnya, sementara rakyat yang seharusnya menjadi “raja” justru masih kesulitan mengais sesuap nasi untuk bisa bertahan hidup. (*)



