Saudaraku, tak ada tempat berlabuh paling nyaman dan menenangkan bagiku selain rumah sendiri. Ke mana pun bepergian, seindah apa pun panorama terkembang; semewah apa pun penginapan yang disediakan, tak pernah bisa mengalahkan daya tarik kepulangan ke rumah sendiri.
Rumah bagiku, seperti dilukiskan Shoshana Zuboff, “Tempat di mana kita bisa mengetahui dan diketahui, mencintai dan dicintai. Rumah adalah kemampuan penguasaan, kehangatan percakapan, kerapatan pergaulan, kedamaian pesanggrahan, ruang berkembang, berlindung dan berpengharapan.”
Di rumah itu, keluarga adalah jantungnya. Dimana ada keluarga, di sana ada cinta. Meski tak selalu ada percakapan sesama anggota keluarga, kehadiran bersama di rumah tangga sudah memberi dekapan kehangatan.
Keluarga memberiku akar untuk berdiri tegak tinggi dan kuat. Keluarga yang secara reguler berkumpul untuk berdoa atau makan bersama lebih kuat pertalian kekerabatannya ketimbang yang jarang melakukan hal itu.
Sebaik-baik rumah bagiku adalah rumah sakinah; rumah damai-bahagia yang menyuburkan welas asih sesama anggota keluarga, melebarkan pintu kehangatan ke segala penjuru mata angin, seraya meninggikan daya spiritualitas dgn menyatukan diri dengan dekapan kasih ilahi, bersambung rasa dengan sesama manusia, dan berelasi harmonis dengan alam semesta.
Rumah adalah titik keberangkatan dan kepulangan. Tatkala hidup di rumah serasa air yang menggenang, ada baiknya mengalir meninggalkan rumah. Namun, saat perjalanan melelahkan dan menyesatkan, pemulihan terbaik kembali ke rumah.



