Hari ini, 28 Februari, 72 tahun silam, sastrawan Noorca M Massardi lahir. Di dunia jurnalistik pula Noorca terlahir untuk menjadi orang yang disegani.
Bayangkan di umur 31 tahun ia sudah diangkat sebagai Pemimpin Redaksi di majalah Jakarta-Jakarta. Tak tanggung-tanggung yang mengangkat langsung Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia Group.
Jakob Oetama kepincut atau jatuh hati dengan tulisan liputan Noorca yang dimuat secara bersambung oleh Kompas di halaman satu. Mau tahu tulisan Noorca yang membuat Jakob Oetama kepincut?
Pertama, feature tentang liputan perjalanan Noorca ke markas gerilyawan nasionalis FNPLK di Banteay Ampil, perbatasan Thailand-Kamboja, yang melawan rezim Khmer Merah pada awal 1980-an.
Kedua, feature tentang perjalanan mudik Lebaran, transmigran dari Bandar Lampung ke suatu desa di Jawa Timur pada 1981.
Dua tulisan liputan itulah yang membuat Jakob Oetama jatuh hati, termehek-mehek dengan karya jurnalistik Noorca.
Artinya, prestasi dan reputasi Noorca tidak main-main. Tokoh dari Komunitas Bulungan Jakarta yang populer pada era 1970-1980-an ini memang dikenal juga jago menulis naskah drama. Seno Gumira Ajidarma bahkan menyebut dirinya sebagai penulis lakon yang brilian.
Karena naskah-naskah dramanya pernah muncul sebagai pemenang dalam lomba yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, lembaga prestisius di bidang kebudayaan sejak awal berdiri hingga hari ini.
Banyak buku Noorca pun menjadi referensi pembelajaran dalam kurikulum di perguruan tinggi seni. Misalnya naskah drama Kuda-kuda dan Tin-Ton.
Sejauh ini, banyak juga kumpulan puisi yang sudah ditulis dan yang mengejutkan, beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku kumpulan puisi terbaru Noorca, berjudul 72 Rumah dan Hal Ihwal di Sekitarnya (CV Firaz Media, Februari 2026).
Buku kumpulan puisi terbaru Noorca ini memang berbeda konsep estetikanya dibandingkan dengan buku kumpulan puisinya yang lain.
Di buku kumpulan puisi lainnya Noorca terobsesi mendokumentasikan perjalanan kultural di berbagai tempat di Indonesia. Seperti yang ada dalam kumpulan puisi Bali Lelungan (2024) dan 71 Kata Cinta Kota (2025).
Di buku kumpulan puisi terbaru ini Noorca lebih terobsesi mengulik sudut pandang domestik rumah tangga. Meskipun ada juga beberapa puisi yang tetap beraroma catatan perjalanan ke berbagai daerah.
Menilik judul per bab buku saja pembaca sudah di-framing ke arah selera domestik rumah tangga yang menawan.
Misalnya, Fondasi dan Ruang Dalam, Api dan Perjamuan, Ambang dan Batas, Perabot dan Jejak Kenangan, Halaman dan Perjalanan, serta Semesta dan Tanah Kembali.

Jadilah puisi-puisi Noorca di buku ini menjadi rekaman estetik atas benda-benda dan memori rumah tangga. Sebagai penjelajahan estetik, tema ini menarik karena jarang disentuh banyak penyair lain.
Seperti biasanya, puisi-puisi Noorca pun hadir dengan peran impresif. Meringkus kesan yang terbungkus haru, pukau, atau pengaruh yang mendalam bagi pembaca. Membuat pembaca terjerumus, ikut lebur dalam silau kelindan diksi yang dipilih.
Bisa saja semua orang mengalami peristiwa domestik rumah tangga seperti Noorca, namun tidak semua orang bisa menuliskan dalam sudut pandang yang sama.
Noorca memilih mengabadikan banyak peristiwa dalam perjalanan hidupnya secara ringan. Puisinya pun hadir dengan tidak berbelit. Mudah dimengerti siapa pun saja.
Di luar puisi tentang situasi domestik rumah tangga, ada puisi bagus Noorca tentang Prawirotaman yang saya sukai. Karena menjadi jejak perjalanan dalam pertemuan kami yang bernilai faktual. Tidak sekadar imajiner.

Boleh jadi, gaya puisi Noorca di usia 72 sudah menunjukkan kedalaman. Boleh jadi taksu atau pesona puisi Noorca memang pada kesederhanaan cara ungkap, yang berbeda dengan puisi-puisinya di masa muda, terkesan lebih suka bereksperimen dengan rima. Terasa mbeling (nakal) juga.
Puisi-puisi Noorca kini memang lebih menep, lebih sublim, dan tidak meluap-luap. Saya juga suka dengan puisinya yang berjudul Giliran dan sengaja saya jadikan cover dalam kolom ini.
Bukan hamparan kepasrahan yang ingin ditawarkan, tapi memang di situlah muara dari segala pergulatan hidup dengan kompleksitas penjelajahan dunia domestik rumah tangga berjalan.
Pastilah kolom ini hanya mengantar saja, karena jika Anda membaca puisi Noorca secara langsung akan merasakan seberapa intens pergulatan domestik itu ia jalani hingga memancar dalam semburan diksi.
Sembari rebahan atau minum kopi di kafe, di bulan puasa ini puisi-puisi Noorca pas sebagai renungan. Boleh jadi akan menjadi tafsir spiritual juga, jika Anda berminat mengulik lebih dalam.
Sebagai penutup, saya sertakan foto kenangan pertemuan monumental di Prawirotaman, Yogyakarta.
Boleh jadi, kelak, 30 tahun lagi foto di bawah ini akan diteliti keasliannya oleh Generasi Z. Asli ataukah hanya Artificial Intelligence (AI) saja.
Sebagai sebuah momen yang sangat berbicara, membingkai waktu, dan menjadi penunjuk atau penanda zaman yang valid. Relief digital yang menggetarkan!
Selamat ulang tahun, Mas Noorca. Sehat selalu. Semoga selalu menginspirasi di dunia jurnalistik dan sastra.
Hari ini Anda bertambah ganteng dan teruslah berjuang melawan keriput. Jangan lupa ngopi!
Hahaha… Era narsis boleh dong ikutan dikit… ***




