Terang dalam Gelap

Saudaraku, pada 1665, ketika wabah pes melanda London, Universitas Cambridge menutup pintunya. Seorang mahasiswa muda bernama Isaac Newton terpaksa meninggalkan pusat intelektual dunia itu dan pulang ke Woolsthorpe —sebuah desa sunyi, jauh dari hiruk-pikuk akademik.

Namun, justru dalam masa isolasi, ketidakpastian dan keterputusan dari “dunia normal”, Newton melahirkan lompatan pemikiran yang kelak mengubah wajah ilmu pengetahuan.

Di sanalah ia merumuskan dasar kalkulus, mengembangkan teori optik, dan menanam benih awal pemikiran tentang gravitasi.

Masa yang bagi dunia adalah zaman kematian dan kegelapan, bagi Newton menjadi periode paling produktif dalam hidupnya.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa keterpencilan dan keterpaksaan untuk berhenti sejenak tidak selalu berarti kevakuman makna.

Dalam ruang privat yang sunyi, terang jiwa justru bisa menemukan jalannya.

Bencana dan kekacauan memang memaksa kita mundur dari panggung publik, tetapi kemunduran itu dapat menjadi ruang inkubasi bagi ketahanan batin, kejernihan pandang, dan pemaknaan baru.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi pada kita, tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana meresponsnya.

Karena itu, energi jangan habis terkuras untuk meratapi hal-hal yang tak bisa diubah, melainkan diarahkan pada keputusan-keputusan bermakna yang masih bisa dipilih.

Harapan bukanlah sikap pasif menunggu keajaiban.

Ia adalah kerja batin yang aktif—keberanian menyalakan cahaya ketika malam terasa paling pekat, sekaligus daya cipta untuk bergerak dan beradaptasi di tengah keterbatasan.

Kita bisa belajar dari kearifan bambu. Ia tidak menghadapi angin kencang dengan kekakuan.

Ia melentur hingga menyentuh tanah, tetapi jarang patah.

Ketika badai berlalu, ia bangkit kembali—tegak dan hidup—berbeda dengan pohon besar yang kaku dan merasa paling kokoh, namun justru tumbang.

Ketahanan sejati tidak lahir dari kerasnya sikap, melainkan dari kelenturan jiwa untuk senantiasa menyala.

Sering kali, justru dari gelap yang paling sunyi, manusia menemukan terang yang paling jernih—bukan untuk kembali seperti semula, melainkan untuk tumbuh lebih waskita bijaksana. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *