Mabur.co – Warga Desa Munthuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam akun TikTok @yihaa010 mengunggah video dengan narasi, “Api muncul dari bumi, ini bukan di Kalimantan tapi di Jogja.”
Unggahan itu juga menyebut lokasi kejadian berada di wilayah Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Bantul.
Narasi dalam video tersebut menarik perhatian warganet dan memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan fenomena alam di lokasi kejadian.
Namun, pemeriksaan awal yang disampaikan BPBD dan DLH Bantul belum mendukung dugaan bahwa api berasal dari sumber energi di dalam tanah.
Kedua instansi justru menduga kemunculan api berkaitan dengan pembakaran sampah plastik di lahan yang sebelumnya digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.
Api Misterius
Kemunculan api misterius dari dalam tanah di belakang rumah warga Padukuhan Muntuk 1, Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul itu menghebohkan masyarakat setelah videonya viral di media sosial.
Api yang muncul ternyata di lahan belakang rumah Samsiyah (42) dan sempat menimbulkan kepanikan karena disertai kepulan asap serta suara mendesis.
Pemilik rumah awalnya menduga api berasal dari kebocoran gas karena lokasinya berdekatan dengan tangki septik.
Sekretaris BPBD Kabupaten Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo, menuturkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul menelusuri kemunculan api di Padukuhan Muntuk, Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, yang viral di media sosial.
“Berdasarkan pemeriksaan awal bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, api diduga berasal dari pembakaran sampah plastik, bukan dari sumber energi yang muncul dari dalam tanah,” ucapnya, Jumat (23/10/2026).
Tidak Menemukan Indikasi Gas Berbahaya
Ribut menuturkan, petugas menyatakan tidak menemukan indikasi gas berbahaya di lokasi. Saat DLH dan BPBD melakukan pengecekan pada Kamis pagi, api juga dilaporkan telah padam.
“Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali muncul,” ucapnya.
Ribut mengatakan, timnya telah mendatangi lokasi bersama pihak terkait untuk memeriksa kondisi di lapangan.
“Dari hasil pengecekan, tidak ditemukan gas berbahaya. Kemunculan asap maupun api diduga murni berasal dari pembakaran sampah plastik,” ujarnya.
Ribut mengatakan pula, BPBD Bantul kemudian berkoordinasi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) untuk memantau perkembangan kondisi lokasi.
FPRB diminta menyampaikan laporan dua kali sehari, yakni pagi dan sore, selama 2 x 24 jam.
“Kami juga telah melakukan koordinasi bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) untuk melaporkan perkembangan setiap sehari dua kali, yakni pagi dan sore selama 2 x 24 jam,” katanya.
Bimo menyebut, jarak titik kemunculan api dengan rumah hunian sekitar lima meter. Kedekatan tersebut menjadi salah satu alasan petugas meminta masyarakat menjaga jarak demi keselamatan.
“Lokasi kejadian kemunculan api ini berjarak sekitar lima meter dengan rumah hunian. Jadi, kami mengimbau agar masyarakat tidak mengerumuni lokasi kejadian,” tuturnya. ***
