Tyas: Perempuan yang Memahami Bisik Air Selokan Mataram

5 Min Read
Tour group with backpacks listens to a guide near a weathered white concrete arch bridge in a tropical area.
Tyas di tengah, memegang megapon saat memandu rombongan tiba di Buk Renteng. (Foto: BB Maras)

Mabur.co – Jika air bisa berbisik, maka Tyas adalah penerjemahnya. Seperti pagi Selasa lalu di Mlati, Sleman, ketika rombongan Telusur Selokan Mataram #6 Dinas Kebudayaan Sleman berhenti di sebuah kelokan.

“Itu sengaja diputar menghindari bentang Kali Code,” kata Tyas. Di depan, perempuan dengan topi rimba itu menunjuk dan bilang, “Di sini kuncinya”.

Nama lengkapnya Tyassanti Kusumo Dewanti, M.A., arkeolog, epigrafis, profesional museum asal Surakarta.

Lahir di Surakarta Agustus 1996. S1 Arkeologi FIB UGM 2019 dengan skripsi paleografi Prasasti Candi Angin, S2 Studi Asia di École Pratique des Hautes Études EPHE Paris 2022 dengan tesis Raja Daksa abad ke-10, fellow proyek internasional DHARMA Project ERC. Kini ia Staf Ahli Penataan Museum dan Koleksi Warisan Budaya Puro Mangkunegaran.

Buku “Napak Tilas Selokan Mataram: Kelok yang Bersatu”

Jejak kerjanya bisa dilacak, salah satunya ketika KITLV-Jakarta menerima kunjungan dari Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran.

Kunjungan dilakukan oleh Tyassanti Kusumo Dewanti, M.A., Staf Ahli Museum dan Koleksi Warisan Budaya, tulis Instagram resmi KITLV-Jakarta, 5 Agustus 2024.

Group of people wearing matching light blue shirts posing outdoors behind a large banner that reads 'Internalisasi Sejarah #6' under a concrete arch with green foliage above.
Saat rombongan Telusur Sejarah tiba di Buk Renteng. (Foto: BB. Maras)

Tyas penulis buku Napak Tilas Selokan Mataram: Kelok yang Bersatu.

“Bukan proyek ambisius. Dulu riset ini karena diminta bantu teman dari Disbud Kabupaten Sleman. Kebetulan karena background arkeologi, jadi tertarik. Saya anggap ini jadi kesempatan untuk mengulik lebih jauh bagaimana arsitektur pengairan yang ada di Hindia Belanda, pada khususnya di Vorstenlanden atau area Yogya-Solo,” kata Tyas dalam catatan yang ia kirimkan ke mabur.co, Kamis (22/10/2026).

Risetnya berlangsung 6 bulan, Mei-Oktober 2023, terbit Desember 2023. Metodenya etnografi berjalan kaki.

“Waktu itu unik sekali karena harus menyusuri Selokan Mataram dari awal sampai akhir, termasuk beberapa lokasi yang harus jalan kaki karena masuk di perkampungan kecil. Misalnya di area Mlati, Sleman, di bagian selokan yang diputar untuk menghindari bentang Code,” katanya.

Mengetuk Pintu Arsip

Tiga pintu arsip ia ketuk. Di Perpustakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta, ia menemukan catatan HB IX yang berbau kemenyan.

Di DPAD DIY Gedongkuning, ia menemukan harta karun. Arsip Selokan Mataram yang menjadi khazanah DPAD DIY merupakan arsip yang berasal dari Biro Humas Setwilda, DPU Provinsi DIY, Jawatan Penerangan Kabupaten Sleman, tulis Formulir Nominasi Memori Kolektif Bangsa mow.anri.go.id, dikutip mabur.co, Jumat (23/10/2026).

Group of people in blue shirts posing with a banner under a large concrete arch bridge.
Ketika rombongan tiba di koridor Selokan Mataram Sleman Barat–Bangunan Bagi Pogung-Kali Code. (Foto: BB Maras)

Di BBWS Serayu Opak Jl. Solo, ia belum sempat dapat sumber karena keterbatasan waktu. Suka duka paling jujur ia ceritakan: “Sayang memang untuk foto-fotonya tidak ada angka tahun, jadi harus menerka-nerka dan disesuaikan berdasar kronologi dari arsip tekstual. Jadi itu juga challenging.”

Tapi justru dari situ ia memahami makna.

“Sebelumnya saya hanya mengenal Selokan Mataram yang segmen menuju timur, area dekat kampus UGM sampai dekat Seturan. Meskipun tahu ada sisi barat. Ketika saya telusuri, semakin menyadari ajaibnya struktur ini karena secara konsep keren. Menggabungkan 2 aliran sungai sambil memberi manfaat di daerah yang dilalui.

Ketika membaca arsip, lanjut penjaga redaksi lampau.id ini, juga semakin dapat info bahwa pembuatannya sangat kompleks, penuh menggambarkan kondisi sosial saat itu.”

Di balik itu ada mitos tua yang menjadi nyata, pesan turun temurun Sunan Kalijaga kepada anak cucunya di Tanah Jawa: “Yogya akan makmur jika Progo dan Opak disatukan.”

Sultan HB IX mewujudkan dongeng itu pada 1944, panjang 30,8 km, mengairi 15.734 hektare, menyelamatkan 20.000 orang dari romusha. Fakta itu ia temukan di arsip, bukan dari Wikipedia.

Banyu mili, eling asale. Kelok nyatu, urip sing jaga

May Hartini, Kabid Sejarah Disbud Sleman yang menjadi atasan proyek telusur, memberi konteks dalam rilis pemerintah.

“Karena memang dalam sejarah kita tahu bahwa pembuatan Selokan Mataram oleh Sri Sultan, itu sebenarnya salah satu cara agar Sri Sultan melindungi warganya, biar tidak terkena kerja paksa,” tutur May, dikutip dari catrawarta.com, Rabu (21/10/2026).

Tyas menutup bukunya dengan pesan yang ia pegang dari Paris sampai Solo: beasiswa DHARMA-lah yang membuatnya bisa membaca prasasti.

Tanpa beasiswa, anak Surakarta tak akan bisa menulis tentang Sleman.

Ia mengutip KH Mustofa Bisri dalam bukunya: “Air mengalir karena rendah hati.”

Di halaman terakhir, ia tulis syair kecil yang ia dengar dari seorang ulu-ulu di Karangtalun: Banyu mili, eling asale. Kelok nyatu, urip sing jaga.

Seperti sajak Sapardi Djoko Damono: “Yang fana adalah waktu, kita abadi.” Tyas memahami itu.

Selokan Mataram adalah air yang menyatu, seperti berbisik kepadanya di sepanjang penelusuran dari Karangtalun hingga Kali Opak, dan sekali lagi Tyas mengangguk tanda ia memahami bisikan itu. (Selesai)

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar