Bawa Ancaman Serius, Infeksi Virus Nipah Belum Ada Vaksin Khusus

Mabur.co– Belakangan ini, perhatian dunia kesehatan kembali tertuju pada kemunculan Virus Nipah (NiV) di beberapa wilayah Asia.

Sebagai salah satu patogen yang masuk dalam daftar penyakit prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus Nipah  membawa ancaman serius karena tingkat kematiannya yang tinggi dan gejalanya yang bisa berkembang menjadi sangat fatal.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan, Kabupaten Sleman, Drh. Suryawati Purwaningtyas, M. Si, mengatakan, Virus Nipah adalah penyakit zoonosis, yaitu virus yang menular dari hewan ke manusia.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Drh Suryawati Purwaningtyas M Si Foto Suryawati Purwaningtyas

Inang alami dari virus ini adalah kelelawar buah dari famili Pteropodidae atau sering disebut kalong. Selain kelelawar, virus ini juga dapat menular melalui hewan perantara seperti babi yang telah terinfeksi.

”Manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit atau dengan mengonsumsi makanan seperti buah atau nira sawit yang telah terkontaminasi oleh air liur atau urine kelelawar yang terinfeksi,” ujarnya saat dikonfrimasi mabur.co via telepon, Selasa (27/1/2026).

Suryawati menjelaskan, Virus Nipah menyebar pertama kali di Malaysia pada 1999, diduga hampir 300 orang yang tertular virus tersebut dari kawanan babi yang terinfeksi pada saat binatang ternak itu mengonsumsi buah sisa makanan kelelawar dari famili Pteropodidae, dan wabah dapat berakhir setelah lebih dari satu juta ekor babi kena.

Virus Nipah (NiV) merupakan patogen zoonosis yang sangat berbahaya, virus ini memiliki tingkat kemarian kasus (Case Fatality Rate/CFR) sekitar 40% hingga 75%.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masa inkubasi virus ini biasanya berkisar antara 4 hingga 14 hari. Gejala yang muncul sering kali menyerupai penyakit umum lainnya pada tahap awal, namun dapat memburuk dengan sangat cepat. 

Suryawati menuturkan, ada pun gejala awal penyakit ini adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.

“Jika penyakit tidak ditangani dengan serius, akan memunculkan gejala berat seperti gangguan pernapasan akut hingga kondisi yang paling ditakuti, yaitu Ensefalitis atau radang otak,” ucapnya.

Suryawati, mengatakan, kemunculan kembali Nipah di Asia mengingatkan bahwa patogen zoonotik dengan fatalitas tinggi tetap menjadi ancaman global meski kasusnya jarang.

Reservoir alami virus ini memang hadir di Indonesia, tetapi sampai sekarang belum ada kasus manusia yang dikonfirmasi.

“Risiko perpindahan patogen dari hewan ke manusia tidak boleh diabaikan, terutama di wilayah dengan interaksi manusia–hewan yang intens,” katanya.

Suryawati menuturkan, Kelelawar buah (Pterous sp.) merupakan induk semang alami dan reservoir virus Nipah, 30 persen kelelawar mengandung antibodi virus Nipah).

Untuk penularan ke manusia memerlukan induk semang antara yang dapat mengamplifikasi (berkembang cepat), untuk siap ditularkan ke hewan (babi, kuda, anjing, dan manusia).  

“Saat ini tidak ada obat atau vaksin khusus untuk infeksi virus Nipah meskipun WHO telah mengidentifikasi,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *